
Kak Devon memberikan ponsel Sabinna, dengan muka datarnya. Itu kalau kena tuan vampire melihat foto Arana berdua dengan cowok lain bisa dihapus langsung, bahkan di buang ponselnya. Wkakaka
"Kak, ini kenapa lampunya tidak menyala? Sampai kapan kita berada di sini?"
"Kenapa? Kamu takut? Aku tidak akan berbuat apa-apa sama kamu, Binna." Kak Devon duduk di sofa panjang samping Sabinna.
Tiba-tiba terdengar gemuruh dan kilatan petir yang cukup besar, membuat Sabinna terjingkat dan mendekat ke arah Kak Devon.
"Apa mau kita bicara berdua dengan santai?" Kak Devon menarik tangan Sabinna dan mendekatkan tubuh Sabinna bersandar di dadanya, Kak Devon duduk bersandar di sofa dan Binna tepat berada di depannya.
"Kak Devon--." Binna agak canggung tubuhnya harus bersandar di dada kak Devon. Tapi dia juga merasa nyaman dan tidak takut saat posisi seperti itu.
"Tidak apa-apa. Biar kamu tidak takut, sepertinya lampu matinya juga akan lama karena hujannya masih sangat deras."
Sabinna terdiam, tapi dia merasa sekarang lebih nyaman posisinya. "Binna, apa kamu benaran tidak mau mencoba berhubungan denganku? Bagaimanapun kita akan menikah."
__ADS_1
"Aku tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Kak Devon, apalagi Kak Devon tau aku sudah memiliki orang yang sangat aku cintai."
"Lukas maksud kamu? Apa dia sudah pernah bertemu dengan kedua orang tua?"
Binna menggeleng pelan. "Dia pernah berjanji akan datang ke rumah, tapi ternyata dia tidak datang, bukannya dia tidak serius, aku yakin dia sedang ada masalah."
"Binna." Kak Devon menarik tubuh Sabinna menghadap ke arahnya. "apa kamu tidak bisa mencoba menerima perjodohan ini? Aku juga tidak akan menyakiti kamu, aku sudah mencintai kamu dari kamu kecil." Tangan kak Devon mengusap lembut pipi Sabinna.
Ada rasa aneh yang menyelimuti Sabinna saat ini, entah apa yang terjadi dengan perasaanya saat ini, dia sedikit ingin membuka hati untuk cowok di depannya ini, Binna merasakan perasaan yang tulus saat kak Devon mengatakan hal itu.
"Kak Devon belum pernah pacaran?"
"Belum pernah, kamu gadis kecil yang sudah membuatku jatuh cinta."
"Bohong, lalu tadi siapa yang bicara sama Kak Devon di telepon saat menunggui aku latihan menari?" tany Binna sekarang menyandarkan badannya pada sofa, tidak lagi pada dada Kak Devon.
__ADS_1
Kak Devon melihat Sabinna. "Jadi kamu memperhatikan aku yang sedang berbicara dengan temanku di telepon?" Salah Satu alis mata kak Devon naik ke atas.
"Siapa yang memperhatikan? Jelas kak Devon terlihat di mataku teleponan sambil tersenyum."
"Dia bukan kekasihku. Dia temanku dari lama waktu di Belanda."
"Lalu, kenapa Kak Devon tidak jatuh cinta sama dia?"
"Perasaan cinta itu memang bisa di atur? Aku sendiri tidak tau kenapa bisa menyukai kamu." Sabinna melihati ke arah Kak Devon. "Kamu sendiri, apa kamu yakin, perasaan kamu dan Lukas itu perasaan cinta?" tanya Kak Devon sambil menyeruput teh hangat di depannya.
Binna terdiam, dia juga bingung perasaan dia sama Lukas itu apa? Dia memang sangat menyukai Lukas karena Lukas sangat lembut memperlakukan Sabinna.
"Katakan? Apa yang membuat kamu menyukai Lukas yang tidak bisa aku lakukan? Aku akan berusaha melakukannya.
"Bersikap lembut, tidak seenaknya dan bar-bar seperti sifat Kak Devon."
__ADS_1
Tiba-tiba Kak Devon menggeser tubuhnya mendekati Sabinna. Sabinna tampak sedikit terkejut, dan memicing melihat ke arah Sabinna.