
Diandra menurut saja tangannya di gandeng sama Uno. Uno membuka pintu paviliun di sana, dan mereka berdua masuk.
"Uno, apa tidak apa-apa kita masuk di sini?"
"Tidak apa-apa, aku sudah bilang sama Ibuku. Kamu pasti akan menyukai sesuatu yang ada di sini." Uno membawa Diandra masuk lebih dalam.
"Sesuatu apa? Aku bahkan tidak bisa melihat apa-apa yang ada di sini."
Tidak lama Uno membuka sebuah pintu lagi, dan mereka masuk ke dalamnya. "Diandra, kamu duduk di sini." Uno mendudukkan Diandra pada bangku kayu sedang dan kedua tangan Diandra diletakkan pada sesuatu.
"Uno, Ini?" Mata Diandra seketika membelalak lebar, dia meraba-raba apa yang ada di depannya.
"Ini piano Diandra. Aku sendiri baru tau kalau di paviluliun ini ada sebuah piano."
"Ya Tuhan! Ini benaran piano!" Seru Diandra senang.
"Apa kamu senang?"
"Aku senang sekali, aku sudah kangen ingin memainkan piano, makannya aku tidak sabar menunggu untuk cepat-cepat mengajar di rumah musik itu."
"Sebenarnya, aku tidak terlalu suka dengan musik, tapi aku ingin mendengarkan kamu bermain piano. Apa kamu mau memainkan piano ini untukku, Diandra?" Uno yang berdiri bersandar di samping piano Diandra bertanya.
__ADS_1
"Tentu saja aku mau!" Diandra sekali lagi meraba-raba pianonya. "Ini termasuk piano akustik, sangat indah pastinya."
"Memangnya di rumah kamu, kamu memakai piano yang berbeda?"
"Aku punya dua, ada yang sama seperti ini, dan piano digital, tapi aku sering membuat nadaku sendiri dengan yang digital." Diandra mulai menekan tuts berwarna putih hitam itu perlahan. Diandra dengan santai menciptakan nada-nada suara yang sangat Indah. Seketika membuat Uno tercengang mendengar musik yang dimainkan Diandra. Uno tak melepaskan pandangannya pada gadis bermata besar dan indah itu.
Jreng ...
Sontak Diandra kaget saat ada suara nada yang tidak beraturan dan sangat keras. "Uno!"
"Maaf ... maaf! Aku tidak sengaja." Uno tampak kaget juga.
Uno tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. Tangan Uno tidak sengaja malah jatuh pada tuts piano saat dia enak-enak melamun mendengarkan Diandra memainkan pianonya.
"Aku kan tidak sengaja tadi, aku benar-benar terpukau dengan permainan piano kamu. Dan tadi kamu tampak sangat cantik jika sedang memainkan piano itu, lain kali aku pasti akan datang untuk melihat kamu bermain piano."
"Memangnya kamu mau datang ke Kanada?"
"Jangankan ke Kanada, ke negara manapun aku akan datang, Diandra, sekarang berdirilah." Uno mengajak Diandra berdiri.
"Kita mau apa, Uno?"
__ADS_1
"Berdansa. Apa kamu bisa berdansa?" Diandra menggeleng. "Bagus. Aku juga tidak bisa," celetuknya.
"Ahahah! Lalu kenapa kamu mau mengajak aku berdansa kalau kamu sendiri tidak bisa berdansa?" Wajah Diandra tampak bingung.
"Modusku supaya bisa dekat kamu saja."
"Uno!"
"Aku hanya bercanda." Uno memutar musik dari ponselnya. "Aku suka salah satu penyanyi cewek yang bernyanyi sambil bermain piano. Tidak tau suka saja, hanya dia. Apalagi setelah melihat kamu tadi."
"Delta Goodrem?"
"Benar sekali, apa kamu menyukainya?" Diandra mengangguk. Musik pun diputar, Uno mulai memegang tangan Diandra. Diandra menurut saja dengan Uno, entah kenapa, dia menyukai setiap hal yang dia dan Uno lakukan.
Beberapa kali mereka mencoba, dan hasilnya kadang kaki mereka saling menginjak dan tercipta tawa dan canda.
"Dia lebih baik dari ayahnya, lihat saja, dia lebih menyenangkan daripada si tuan vampire itu." Arana yang melihat mereka berdialog sendiri.
Setelah ini bakal ada ciuman pertama Diandra dan Uno di dalam mobil, dan pangeran bermotor Binna yang akan datang.
ih ... author gak sabar mo nulis adegan mereka, tungguin, yak, dan jangan lupa di like dan vote ya, Kak. Semoga sehat selalu
__ADS_1