
Binna akhirnya berbohong dia bilang dia mau di ajak kencan, cuma agak takut, selama ini kan dia memang tidak pernah jalan berdua sama cowok. "Ibu mengizinkan kamu sama Devon keluar, Sayang." Tangan Arana mengusap lembut kepala Binna.
"Ibu, serius? Ibu tidak masalah aku sama kak Devon berkencan?" Tanya Binna menyakinkan.
"Iya, Ibu serius, ibu percaya sama Devon. Kalian berdua pergilah berkencan, biar kalian berdua lebih mengenal nantinya."
Binna sudah mengira kalau ibunya pasti mengizinkan kak Devon untuk mengajaknya berkencan. "Lagian kalian kan nanti mau menikah, jadi kalian bisa mengenal lebih baik, tidak canggung pas berumah tangga," lanjut ibunya.
"Tapi, Bu. Aku kan belum bilang iya mau menikah sama Kak Devon," suara Binna tiba-tiba terdengar lirih.
Seketika tangan Arana menarik tangannya yang mengusap-usap rambut Binna. Dia melihat dengan tatapa yang tidak enak pada Binna. "Kamu mau melanggar apa yang kamu ucapkan? masih mau menunggu Lukas? Sampai sekarang saja Lukas tidak ada itikad baik mau ke sini!"
"Dia beberapa hari ini tidak masuk sekolah, Bu. Aku tidak tau dia ke mana, sampai tadi--." Binna langsung menghentikan kata-katanya.
__ADS_1
"Sampai tadi kenapa?"
"Sampai tadi dia juga tidak masuk dan mengikuti ulangan terakhir." Binna mencari alasan.
"Memangnya dia tidak memberi kabar kepada pihak sekolah?" Sabinna menggeleng pelan. "Kalau begitu, dia sudah tidak peduli dengan sekolahnya. Sudah ya, Binna! ibu tidak mau mendengar lagi tentang kamu dan Lukas. Ibu hanya ingin kamu bahagia, dan kamu pasti bahagia bersama Devon," ucap Arana tegas sambil berjalan pergi dari sana.
Binna hanya terdiam melihat sikap tegas ibunya. "Apa sepertinya aku harus menuruti apa kata ibu saja? Tapi --. Aku tidak mencintai kak Devon, aku tidak benci sama dia. Dia terlalu kasar, tidak seperti Lukas." Sabinna mengerucutkan bibirnya.
"Aku mau membuktikan jika aku hanya milikmu, Uno. Aku sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri." Gadis itu mengecupi leher Uno.
"Jangan memberiku tanda Cerry, aku tidak mau sampai nanti ibuku pingsan gara-gara melihat tanda di leherku," ucapnya, dan gadis bernama Cerry itu malah terkekeh.
"Kamu sangat menyayangi ibumu, aku juga suka sama ibumu, dia wanita yang cantik, dan baik." Cerry memang pernah main ke rumah Uno pada saat Uno masih ke luar dengan ayahnya, Arana memperlakukan Cerry dengan sangat baik.
__ADS_1
"Aku menyayangi semua keluargaku." Uno kemudian menikmati kecupan Cerry, bibir mereka berdua saling bertautan. Tangan Cerry mulai lebih berani, dia membuka beberapa kancing bajunya dan dia menarik tangan Uno untuk menelungsup ke dalam baju yang sudah terbuka kancingnya. Uno membiarkan tangannya di arahkan olehkan Cerry menelungsup ke dalam bajunya.
Uno dapat merasakan bagian kembar indah milik Cerry, Uno tersenyum kecil melihat wajah Cerry yang seolah merasakan kenikmatan. Cerry sampai menggigit bibir bagian bawahnya, dia melihat menggoda ke arah Uno.
Haduh! apa si anak tuan vampire ini akan kehilangan keperjakaannya sekarang karena terbawa suasana? Author gak rela, sumpah dah! gak rela ...
"Aku mencintai kamu, Uno, sangat mencintai kamu, miliki aku Uno, miliki aku," racaunya Cerry saat Uno malah memainkan bagian kembar milik Cerry yang masih tertutup bara berwarna putih berenda.
Sekarang gadis itu malah membuka semua kancing baju kemejanya, dan sekarang benar-benar terekspose indah bagian atas Cerry, Cerry pun membuka kaos putih milik Uno dengan tulisan merek ternama di depannya. Cerry mulai memperdalam ciumannnya, gadis ini lebih mendominasi permainan dari pada Uno.
Uno melepaskan kecupannya dan sekarang dia malah menelusuri leher Cerry dan membuat tanda di sana, membuat gadis itu mengerang nikmat. "Apa kamu menginginkanku, Baby," suara Uno terdengar parau.
Dikit dulu ya, author lagi ada urusan penting, maafkan, babnya dikit semua, yang penting gak bolos up date.
__ADS_1