
Diandra mendengarkan semua yang di ceritakan oleh Neil padanya. Neil begitu sangat mencintai istrinya.
"Kenapa dia tidak menceritakan tentang penyakitnya sama kamu?"
"Dia tidak ingin menghancurkan impianku sebagai seorang pelukis, bahkan dia tidak mau memakai uang tabunganku untuk berobat. Dia ingin agar aku menggunakan uang itu untuk menggapai cita-citaku sebagai pelukis. Dia selalu bilang jika dia baik-baik saja, dan hanya sakit biasa. Dia benar-benar rapi menyembunyikan semua itu."
"Lalu kamu tau penyakitnya dari mana?"
"Saat aku mencari sesuatu di laci kamar tidurku, aku tidak sengaja menemukan surat hasil diagnosis miliknya yang menyatakan bahwa dia terkena kanker darah satadium lanjut. Tidak hanya itu, aku juga menemukan obat-obatan yang selama ini di konsumsi olehnya. Semua berjalan begitu cepat, saat aku mengajaknya untuk berobat di Kanada, ternyata semua sudah terlambat. Dia meninggalkan aku untuk selamanya. Dia bahkan tidak bisa menyaksikan diriku berhasil meraih cita-citaku sebagai seorang pelukis."
"Dia bisa menyaksikannya dari atas sana, Neil. Kamu tidak perlu bersedih." Diandra memegang tangan Neil.
"Iya, aku tau, dia pasti bisa melihatku dan tersenyum dari atas langit." Neil memandang langit yang sangat cerah.
"Neil, kamu sudah menjadi pelukis yang terkenal, tapi kenapa kamu masih mau menjadi guru di sekolah ini?"
"Untuk menghilangkan kesepian dan kesedihanku, Diandra. Aku menyukai suara dan tingkah anak-anak. Dulu aku dan istriku bermimpi kita akan memiliki banyak anak, tapi Tuhan tidak memberiku satupun. Oleh karena itu aku bekerja di sini, dengan demikian aku bisa merasakan memiliki banyak anak karena mereka sangat lucu dan menyenangkan.
"Iya, mereka sangat menyenangkan. Aku saja yang kesepian bisa terhibur jika bersama mereka."
"Kamu sendiri, apa tidak memiliki seorang kekasih?"
Diandra agak terkejut mendengar pertanyaan Neil. "Aku dulu memiliki kisah cinta yang indah. Namun, sayang harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Aku menerima semua takdirku."
"Apa kalian saling mencintai? Siapa namanya?"
"Kita saling mencintai, aku pun percaya dia sangat mencintaiku, bahkan menerima kekurangan aku ini, tapi kembali itu lagi, jika bukan takdir yang menyatukan kita, kita tidak akan bersatu."
"Kalau boleh aku tau, kamu kenapa tidak bisa bersama dengan dia? Apa dia selingkuh atau kalian tidak di restui?" Neil menyeruput kopinya, dia melihat fokus pada Diandra.
"Aku tidak mau mengingatnya, Neil. Ada rasa sedih dan kecewa jika mengingat hal itu."
"Makannya kamu ceritakan, biar rasa sakit itu sedikit berkurang. Kamu tenang saja, aku pendengar sekaligus orang yang pandai menyimpan rahasia."
Diandra tersneyum. "Namanya Uno, dia anak dari sahabat ayahku dari kecil, tepatnya bos ayahku dulu, tapi ayahnya sangat baik dan menganggap ayahku seperti sauadaranya sendiri.
__ADS_1
"Wow! Seorang bos yang menganggap saudaranya sendiri? Dia berarti orang yang baik sekali."
"Memang, keluarga ayah Juna sangat baik. Uno sangat mencintaiku walaupun aku tidak bisa melihat, bahkan dia ingin menikah denganku karena hal itu juga tumbuh harapanku mendapat transplantasi mata lagi. Namun, semua itu akhirnya sirna karena dia akhirnya menikah dengan kakak angkatnya karena sebuah insiden."
Kedua alis Neil mengkerut. "Insiden? Dengan kakak angkatnya?"
"Iya." Diandra menceritakan kronologi kejadian di mana Uno dan Zia akhirnya harus menikah, dan hal itu sama saja membuka rasa sakit dalam hati Diandra.
"Apa dia tidak di jebak oleh kakaknya itu?"
"Maksud kamu, Neil?"
"Kalau memang Uno ingin melakukanya dengan kakaknya, bisa saja dia melakukan sejak lama. Kenapa harus menunggu sekarang?"
Diandra terdiam sejenak. "Aku tidak tau, Neil."
"Ya sudah, kalau dia masih jodoh kamu, kalian pasti akan bersatu." Neil Tersenyum
Tidak lama ponsel Diandra berdering dan Diandra tau jika itu dari Uno karena Diandra memberikan nada khusus yang Uno berikan waktu itu.
"Dari siapa? Apa Uno kamu itu?"
"Iya, Kenapa dia menghubungiku di jam segini? Di sana mungkin masih petang."
"Mungkin dia tidak bisa tidur karena memikirkan kamu. Angkat saja."
"Aku tidak mau, dia sudah menikah, Neil. Aku tidak mau menjadi wanita yang mengganggu rumah tangga seseorang."
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan antar kamu pulang saja."
Di tempat Uno memang benar Uno tidak dapat tidur malam itu, dia ingin sekali berbicara dengan Diandra, dia sangat merindukan Diandra. Dia tadi terbangun dan teringat oleh Diandra.
Tepat jam 7 pagi, Zia sudah bangun dari tidurnya, dia sangat kaget mendapati dirinya ada di kamarnya dan tanpa Uno di sebelahnya.
"Uno mana? Apa dia yang memindahkan aku di sini?" Zia segera bangun dan keluar dari kamarnya, dia melihat Uno masih tidur di sofa ruang tamu dengan baju kerjanya. "Dia malah tidur di sini dan tidak menyentuh makanan buatanku, bahkan minuman itu." Zia melihat ke arah meja makan yang masih rapi.
__ADS_1
Zia mendekati Uno yang masih terlelap dalam tidurnya, Zia melihat Uno memegang ponselnya saat tidur. Zia yang penasaran membukanya dan dia terlihat marah saat melihat ada foto Diandra yang sedang Uno peluk.
'Kenapa gadis buta itu masih saja membayangi kehidupan rumah tanggaku dengan Uno? Apa sebaiknya aku lenyapkan saja dia? Biar tidak ada yang mengganggu rumah tanggaku lagi,' dialognya dalam hati.
Sangat menyakitkan bukan, suaminya malah tidak mencintainya dan memikirkan orang lain.
Tidak lama Uno terbangun dan terkejut melihat ada kakaknya di depannya. "Kak Zia, ada apa Kakak di sini?"
"Aku mau membangunkan kamu, kenapa kamu tidur di sini? Kamu bisa tidur di kamar, kita bisa menjaga jarak Uno. Kamu pasti tidak nyaman tidur di sini?"
"Tidak apa-apa. Aku semalam lembur di kantor, dan saat aku pulang Kak Zia sudah tidur."
"Apa hari ini kamu mau ke kampus?"
"Iya, aku akan menyelesaikan tugasku yang kemarin belum aku kerjakan."
"Apa kakak boleh ikut?"
"Untuk apa? Bukannya Kak Zia sudah lulus?"
"Ada beberapa hal yang aku belum selesaikan mengenai hasil skripsiku, seperti mengcopy di disknya. Aku juga mau membawakan beberapa hadiah kecil untuk dosen pembimbing yang membantuku."
"Ya sudah, kalau begitu aku mau mandi dulu." Uno beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.
Zia melihatnya agak kesal. "Nanti malam akan aku buat Uno menjadi milikku seutuhnya, kita lihat saja nanti."
Pagi itu mereka berdua berangkat ke kampus. Di sana ternyata Binna sudah sampai dengan diantar suaminya. Binna sudah mendaftar untuk menjadi mahasiswa di kampus Uno.
"Binna, aku senang kita bisa kuliah bareng seperti saat sekolah dulu."
"Iya, aku juga senang. Apalagi kita satu kelas."
Binna dan Lila sebenarnya sudah beberapa hari masuk kuliah, hanya saja mereka tidak bertemu dengan Uno karena Uno sangat sibuk dengan kuliahnya dan pekerjaan kantornya.
Sabar ya kak ceritanya emang aku buat begini dulu karena kehidupan tidak selalu berjalan mulus seperti kisah novelku, nanti heppy endingnya sweet kok
__ADS_1