
Binna mengajak Diandra duduk di belakang, Uno melihatnya kesal sekali. "Binna, kamu duduk saja sendiri di belakang. Kenapa kamu mengajak Diandra juga?"
"Aku mau membicarakan hal penting sama Kak Diandra."
"Hal penting apa? Perasaan dari tadi kamu sudah membicarakan hal penting dengan Diandra."
"Hal tentang wanita, aku juga ingin bicara tentang nanti konsep pernikahan Kak Diandra. Aku kan ingin turut andil dengan hal itu."
"Tidak perlu ikut andil, aku tidak setuju. Nanti biar Diandra sendiri yang mengaturnya, karena aku yakin apa yang diatur oleh Diandra akan lebih sempurna."
Uno menggandeng tangan Diandra dan mendudukkannya di depan bersama Uno. Binna mengkerut kesal.
"Jadi aku duduk sendirian?"
"Iya, kenapa? Kamu takut? Kalau takut pulang sana tidak usah ikut. Kamu mengganggu saja," usir Uno
"Uno, jangan begitu sama adik kamu. Binna itu sebenarnya sayang sekali sama kamu, buktinya waktu kamu terbaring di rumah sakit, dia yang terlihat sangat bersedih."
"Benarkah?"
"Ih! Siapa yang bersedih. Aku malah merasa beberapa hari tenang karena tidak ada yang mengusiliku."
"Binna!"
"Jangan bohong. Kamu pasti nangis-nangis ya saat aku sedang sakit?"
"Enggak!" Binna bersedekap membuang mukanya. Uno tersenyum pada Binna. "Senyum kamu jelek, Kak. Aku tidak menyukainya," ucap Binna ketus.
Perjalanan di mulai, dan mereka berangkat menuju tempat Diandra mengajar. Beberapa menit mereka sampai di sana. Uno turun dan membukakan pintu untuk Diandra. Binna masih memilih duduk di dalam mobil dengan mengeluarkan kepalanya di depan jendela.
"Kak Diandra, selamat mengajar, Ya!"
"Terima kasih, Binna."
"Sayang, nanti aku akan menjemput kamu seperti biasa. Kamu tunggu aku, jangan keluar sebelum aku datang, nanti aku yang menghampiri kamu."
"Iya, Uno, tapi kalau kamu tidak bisa jangan memaksakan diri kamu."
"Aku baik-baik saja, Sayang." Uno kemudian mengecup dahi Diandra. Diandra izin pergi dari sana.
Uno naik ke dalam mobil. Dia melihat ke arah Binna. "Binna, duduk depan."
"Kenapa? Tadi aku disuruh duduk belakang sendiria, sekarang aku di suruh duduk di depan?"
"Aku tidak mau jadi supir kamu. Pindah depan sini."
__ADS_1
"Pak supir, cepat jalan, aku ingin segera sampai di rumah." Binna malah bergaya ala tuan putri yang memerintah bawahannya.
"Enak saja! Aku bukan supir kamu, cepat duduk depan, aku akan mentraktir kamu makan ice cream. Mau tidak?"
"Serius?"
"Iya, sini kamu pindah ke depan."
Binna langsung pindah duduk di depan. "Tumben Kak Uno baik sekali? Ada maksud tersembunyi ya dari Kakak?"
"Aku kan memang kakak kamu yang baik, kamu saja yang tidak peka, Binna."
Uno menjalankan mobilnya. "Kak, aku mau kuliah di kampus Kak Uno. Bagaimana menurut Kak Uno?"
"Mau kuliah? Memangnya kamu diizinkan sama suami kamu?"
"Tentu saja, kak Devon tidak pernah melarang apapun yang aku lakukan selama hal itu bagus."
"Kenapa memilih di kampusku? Kamu ada maksud mau mematai-mataiku, Ya?"
"Sok penting! Lagian Kak Uno juga sebentar lagi akan lulus."
"Kenapa tidak mau kuliah di Belanda saja, tinggal di sana sama ibu mertua kamu?"
"Sakit hati kenapa?"
"Di sana banyak kenangan indah Kak Devon dengan sahabatnya itu. Menyebalkan sekali pokoknya."
"Oh! Karena itu. Kalau Devon cinta mati sama kamu, dia tidak akan berpaling."
"Iya, kak Devonnya enggak, tapi ceweknya agresif seperti mantan Kakak itu si buah kesemek."
"Buah kesemek? Siapa?"
"Cerry."
Tidak lama mereka sampai di cafe di mana, Binna akan ditraktir ice cream sama Uno. Mereka duduk di bangku yang berisi dua kursi, dan saling berhadapan.
"Kak, kalau Kakak menikah dengan Kak Diandra, Kakak tinggal di mana?"
"Lihat Kak Zia saja dulu, dia mau tinggal di mana? Kalau dia mau di mansion, aku akan tinggal di apartemen, atau aku akan membeli rumah yang sederhana di mana aku dan Diandra bisa tinggal.
"Bukannya paman Tommy, dan ayah memiliki sebuah rumah pribadi. Kalian tinggal di rumah ayah saja."
"Tidak mau, aku selama ini sudah menabung dari uang saku yang diberikan ayah tiap bulan, dan ada juga dari hasil bisnis bengkelku. Aku akan membangun sendiri rumah impianku dengan Diandra."
__ADS_1
"Kak Uno keren."
Tidak lama ice cream pesanan mereka datang. Binna menikmati ice cream kesukaannya. Tidak lama kedua mata Binna melihat seseorang yang tadi dia lihat sedang berbicara dengan Zia.
"Kak Uno, tadi aku melihat pria itu sedang berbicara dengan Kak Zia di tepi jalan." Binna menunjuk ke arah seorang pria yang duduk dengan menikmati segelas kopinya.
"Orang itu?" Uno menengok ke arah pria yang juga melihat ke arah Binna dan Uno.
"Iya, dia. Aku merasa penampilan orang itu kok misterius begitu? Lagian dari mana kak Zia kenal dengan pria itu? Kak Zia orangnya kan tertutup sekali."
Uno melihat orang itu dan berpikir sebentar. "Kalau dilihat-lihat dia bukan orang sini, dia blasteran bule, penampilannya juga seperti orang yang tidak baik. Lihat saja tattonya itu."
"Iya, Kak. Kak Zia kok bisa kenal dengan pria seperti itu? Tatonya sangar." Mereka melihat ada tatto di leher sebelah kirinya.
"Mungkin dia sedang bertanya alamat sama kak Zia."
"Tidak mungkin, mereka seperti berbicara tentang sesuatu."
"Kami jangan berpikiran buruk dulu sama kakak kamu. Kak Zia itu baik, dia sayang sama kita."
"Sayang sama kita? Sayang sama Kak Uno saja. Tingkah Kak Zia itu malah kayak pacar saja sama Kak Uno." Uno tersenyum mendengar omelan adiknya.
Tidak lama pria itu pergi dari sana.
Tommy bertemu dengan Asta di sebuah restoran. "Halo, Tom"
"Halo, Asta." Mereka berdua saling berjabat tangan.
"Kamu mau pesan apa, Tom?"
"Aku minum teh hangat saja."
Asta memesankan teh hangat untuk Tommy. "Maaf ya, Tom. Sebenarnya Mara tidak tau aku mengajak kamu bertemu di sini. Kalau dia tau pasti dia akan marah nantinya."
"Memangnya ada apa? Kenapa terdengar serius sekali?"
"Tom, aku tau kamu dan Mara saling mencintai. Bahkan Mara sangat mencintai kamu. Kemarin saja waktu pulang dari restoran itu dia menangis di dalam mobil. Aku sampai bingung untuk menenangkan dia."
"Menangis? Menangis kenapa?"
"Dia cemburu melihat kamu dan Nina merayakan ulang tahun bersama, apalagi kamu memberinya hadiah sebuah kalung. Apa kamu tidak peka akan hal itu, Tom?"
Tommy terdiam sejenak. "Aku tau, tapi Mara sendiri yang seolah memberi dinding besar di antara aku dan dia."
"Dia trauma ditinggalkan oleh calon suaminya dulu. Dia mencintai kamu, tapi dia tidak mau melihat kamu kecewa nantinya saat bersama dengan dia, Tom."
__ADS_1