
Devon hanya bisa menghela napas dengan kelakuan Sabinna. Sekarang dia melanjutkan mengobati lukanya sendiri.
"Binna marah sampai melupakan kuenya." Devon melihat ada box kue di atas meja."
Devon membawa box kue ke arah dapur, dan mengambil piring kecil. Dia membuka box kue itu. "Inikan kue kesukaan Sabinna. Ini apa?" Devon menemukan note kecil di samping box kue itu.
"Binna, Aku minta maaf atas kesalahanku yang dulu, semoga kue ini bisa sedikit membuat hati kamu mau memaafkan kesalahan aku"
"Jadi, Binna tidak membeli kue ini? Dia mendapat kue dari orang lain? Siapa yang memberinya kue ini?" Kedua alis Devon mengkerut bertanya-tanya.
Kak Devon memotong kue itu dan naik ke lantai atas. Saat masuk ke dalam kamarnya, dia tidak melihat Binna ada di sana. Dia ingat jika tadi Binna bilang ingin latihan menari untuk menghilangkan beban pikirannya agar sedikit lebih tenang.
Devon berjalan menuju ruang tari yang sudah Devon persiapkan waktu itu. Pria tampan nan pemilik perut bidang itu masuk dengan tangan membawa piring berisi kue yang tadi Binna bawa.
Seketika matanya lekat menatap istrinya yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya pada tiang. Binna sedang menari pole dance dengan gerakan yang sangat sensual, apalagi di tambah dengan baju menari yang dia gunakan, atasan lengan panjang berwarna salem melekat tepat pada tubuhnya, sehingga menampilkan lekuk tubuh Binna. Di padukan dengan rok super mini berwarna senada dengan pita panjang di bagian sampingnya.
Mata Devon tidak lepas memperhatikan istrinya itu. Dia meletakkan piringnya dan bersedekap bersandar pada dinding dekat pintu.
Binna yang asik menari tidak sadar jika suaminya dari tadi memperhatikan dirinya yang sedang menari, sampai akhirnya Binna sadar jika dia sedang dilihat oleh Kak Devon. Binna yang tidak seimbang dan hampir jatuh, berhasil di tangkap oleh Kak Devon.
Binna memeluk leher kak Devon dan kedua pasang mata itu saling memandang lekat. "Kamu tidak apa-apa, Binna?"
"Aku tidak apa-apa." Binna memandang mata suaminya. Kenapa jantungnya selalu berdetak dengan cepat jika dia dan kak Devon sangat dekat begini. Padahal dia sedang marah, kesal, benci dengan suaminya itu.
Devon mendekat dan perlahan mengecup bibir Sabinna pelan. Devon seolah tidak ingin melepaskan bibir itu. Ini Devon ngempet dari kemarin kayaknya. Apalagi tadi di suguhi pemandangan yang indah nan mempesona.
Devon menikmati ciumannya pada bibir istrinya. Binna yang kesal, tapi anehnya tidak kuasa ingin menarik ciumannya. Apalagi Devon melakukannya dengan lembut, diakan sebenarnya mulai suka, tapi ya itu, kecemburuannya juga besar.
Tangan Kak Devon yang satunya menahan tengkuk Sabinna dan satunya mulai menyentuh pada bagian rok Sabinna. Devon mulai memainkan tangannya mengangkat rok super mini milik Sabinna.
__ADS_1
Sabinna yang ternyata belum sepenuhnya tersihir, sadar dan mendorong tubuh kak Devon.
"Kak Devon, aku tidak mau Kakak menyentuhku. Kakak juga kenapa tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu?"
"Ini juga rumahku, Binna, dan setiap ruangan di sini adalah kuasaku. Binna, aku membawakan kue milik kamu."
"Kue?" Binna teringat kue yang tadi diberikan oleh Lukas, Binna melihat ada sepotong kue di atas meja.
"Kue dari siapa itu, Binna?" tanya Kak Devon dengan muka tegasnya.
Binna seketika tertegun mendengar pertanyaan suaminya. "Maksud Kak Devon apa?"
"Aku melihat note kecil di box kue itu. Kue itu bukan kamu beli sendiri, melainkan dari seseorang."
Binna malah tidak sadar ada note di box kue itu. Binna bahkan belum membaca tulisan di note itu. "Binna, jawab aku?"
"Kakak tidak seharusnya lancang membuka kue milikku."
"Tidak ada rahasia? Kakak saja merahasiakan tentang hubungan mesra Kakak dan Karla. Lagian kue itu hanya diberikan temanku waktu aku bertemu dengan dia di mall tadi, kalau tidak percaya tanya Lila."
Binna beranjak turun ke lantai bawah ingin tau isi note itu. Devon dengan cepat mengikuti Binna turun ke bawah.
Binna membaca tulisan di sana, Binna agak terenyuh membaca note yang ditulis oleh Lukas. Dia sepertinya tulus ingin meminta maaf.
"Kenapa dia minta maaf sama kamu? Dia cowok apa cewek?" Tiba-tiba Kak Devon sudah ada di belakang Sabinna.
"Dia cowok, dulu dia pernah berbuat salah sama aku, dan dia hanya ingin meminta maaf sama aku, Kak. Apa salahnya?
"Siapa namanya?"
__ADS_1
"Untuk apa Kak Devon menanyakan namanya? Jangan terlalu menelisik seperti itu, Kak. Lagian kakak kenapa seenaknya memotong kue itu?
"Aku berniat membawakan kue itu untuk kamu, Binna."
"Aku bisa mengambilnya sendiri. Kak Devon tidak perlu menyentuh milikku dan selalu ingin tau apapun tentang aku!" seru Binna kesal.
Devon sekali lagi berjalan mendekat ke arah Binna, dengan cepat dia menggendong Sabinna ala karung beras, dan membawanya naik ke lantai atas. Istri mungilnya yang masih muda itu, mencoba berontak.
"Lepaskan! Lepaskan aku, Kak. Kakak mau apa, Sih?" teriaknya.
"Mau membawa kamu ke kamar kita dan mengingatkan kamu bahwa kita adalah suami istri, dan apa saja yang harus di lakukan oleh sepasang suami istri Binna."
Kak Devon meletakkan tubuh Sabinna di atas tempat tidur dan dia mengunci pintunya. Binna tampak sangat ketakutan, apa hari ini dia akan dipaksa melakukan hubungan suami istri oleh Kak Devon.
"Kak Devon mau apa?" suara Binna tampak ketakutan.
Kak Devon yang dari tadi tidak memakai atasan hanya celana panjang jeansnya yang melekat, merangkak naik ke atas ranjang dan tepat berada di atas tubuh Sabinna.
"Kak Devon mau apa?" Binna meneteskan air matanya menahan dada Kak Devon.
"Mau mengingatkan kamu bahwa kita sudah menikah, dan kamu sekarang adalah tanggung jawabku, semua tentang kamu harus aku ketahui, aku juga tidak akan menyembunyikan apa-apa sama kamu. Semua yang aku katakan dan lakukan itu jujur Sabinna, karena aku mencintai kamu dan menghormati kamu sebagai istriku."
"Aku juga mengatakan semua sama Kak Devon, bahkan sebelum kita menikah. Tapi apa yang aku dapat?"
"Mungkin jika kita sudah benar-benar menyatu, kamu akan percaya sama aku."
Kak Devon mulai menciumin bibir Sabinna, kedua tangan Sabinna di pegang erat oleh tangan kekar Kak Devon. Binna mencoba merontah, tapi tetap saja kalah.
Bahkan sekarang Baju atasan milik Sabinna ditarik hingga robek dan memperlihatkan dalaman milik Sabinna. "Kak Devon hentikan," suara Binna terdengar serak.
__ADS_1
Kak Devon memberi beberapa tanda pada leher Sabinna. Entah iblis apa yang merasuki Kak Devon, dia sepertinya kesal dengan si pemberi kue itu.