
Binna dan Lila masuk ke dalam rumah Lukas yang keadaan dalamnya tidak terlalu banyak barang-barang dan pencahayaan yang kurang juga. Lukas menyuruh Binna dan Lila duduk di sana.
"Binna, kenapa masuk sini aku merasa takut, Ya?" bisik Lila.
"Takut apa?"
"Tidak tau, ada hawa yang tidak enak di sini," lanjutnya lagi.
Lukas duduk santai di depan Sabinna dan Lila dengan wajah santainya. "Apa yang ingin kamu tanyakan padaku, Sabinna?"
"Lukas, tadi aku melihat kamu sama Ken berada dalam satu mobil dan aku melihat dia masuk ke dalam rumah kamu. Aku kenal Ken karena waktu itu dia akan berbuat buruk denganku dan Kak Devon."
Lukas yang mendengar penuturan Sabinna tersenyum miring dan dia menyandarkan punggungnya pada kursi dengan santai.
"Kamu kenapa kelihatan seperti orang yang menakutkan sih, Lukas?" tanya Lila melihat wajah Lukas.
"Ken, Kemarilah!" teriak Lukas memanggil seseorang dan tidak lama orang yang dipanggil Ken dan Sabinna kenal keluar dari dalam rumah dengan berjalan santai.
"Ada apa? Aku sedang mengupas buah untuk mama kamu?" Ken lalu melihat ke arah Sabinna.
__ADS_1
"Ken."
"Hai, Sabinna," sapanya dengan muka tanpa rasa bersalah.
"Kalian ada hubungan apa? Kamu tau tidak Lukas, jika Ken akan berbuat buruk denganku dan Kak Devon waktu kami berbulan madu? Lalu kenapa kamu bisa bersamanya?" Raut wajah Sabinna heran.
"Karena semua yang di lakukan Ken itu atas semua perintahku, Sabinna."
"Apa?" Sabinna benar-benar shock mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Lukas. "Su-suruhan kamu? Apa maksud kamu?"
"Aku ingin membalas dendam dengan keluarga kamu dengan menyakiti bahkan menghancurkan putri kesayangannya Harajuna Atamaja." Seketika expresi wajah Lukas tampak serius.
"Salah satunya itu. Rencananya aku mendekati kamu dan kamu jatuh cinta denganku, lalu kita menikah dan kemudian aku akan memberi kehidupan yang sangat tidak kamu bayangkan, tapi semua itu tidak terjadi karena aku harus pergi untuk mencari keberadaan mamaku yang tiba-tiba hilang dari rumah sakit jiwa."
"A-apa? Rumah sakit jiwa? Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang kamu katakan?"
"Binna, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Kita tidak perlu berlama-lama di sini." Lila sudah merasakan akan ada hal buruk di sini nantinya. Lila beranjak dari tempatanya dan menggandeng tangan Binna hendak mengajaknya pergi dari sana.
"Tapi, Lil."
__ADS_1
"Jangan banyak tanya! Dia sakit jiwa," bisik Lila.
"Pergi saja, aku ingin melihat apa kalian bisa keluar dari rumah ini."
"Ahahah! Kalian lucu, kalian ini masuk dengan sopan, kenapa mau keluar tanpa permisi?" celetuk Ken.
"Jangan macam-macam kamu! Aku begini bisa bela diri. Aku---?" Lila tampak bingung. "Aku juga bisa berteriak dengan keras untuk meminta tolong."
"Teriak saja, semoga pita suara kamu tidak putus karena tempat ini sangat sepi. Tidak akan ada orang mendengar kalian."
"Aku akan menelepon Kak Devon." Lila yang menghubungi Kak Devon dengan cepat ponselnya dirampas oleh Ken dan dibanting dengan keras ke lantai hingga berserahkan tidak berbentuk.
Ken juga mengambil paksa ponsel Sabinna, tapi Sabinna berusaha mempertahankan ponselnya hingga terjadi adegan tarik menarik yang akhirnya Sabinna kalah dan hampir jatuh ke belakang jika Lila tidak menangkapnya.
"Binna, hati-hati! Kamu sedang hamil."
"Apa? Sabinna hamil?" Lukas mukanya seketika kaget.
"Iya, Lukas. Sabinna sedang hamil dan kamu jangan menyakitinya, apa kamu tidak kasihan pada Sabinna? Kamu dulu sangat menyayangi Sabinna dan selalu bersikap lembut pada Binna."
__ADS_1
Nanti aku lanjut satu bab lagi. In Sha Allah hari ini tamat ya