
Binna menggeleng tidak mau, Binna masih belum mau jauh sama kekuarganya. "Tia, Binna itu masih agak takut." Binna memberi kode, dan Tia sepertinya tau maksud Arana.
"Oh begitu! Ya sudah, kalian di sini dulu saja, bulan madunya juga bisa di rumah." Tia terkekeh.
Salah satu pelayan mengatakan jika barang-barang milik Sabinna yang sudah dimasukkan di dalam koper sudah di letakkan di bagasi mobil Devon.
"Loh! Karla di mana?" Tia celingukan mencari Karla.
"Mama Tia tanya saja sama Kak Devon, dia pasti tau," celetuk Binna, sambil melirik ke arah kak Devon.
"Dia mungkin sudah pulang, dan aku juga menyuruh dia kembali ke Belanda, karena aku kan sudah tidak tinggal di rumah, dan Mama juga nanti akan kembali ke Belanda."
"Ya sudah, kita kembali dulu, dan mama besok pagi akan menjenguk kalian di apartemen, kamu mau mama bawain apa, Binna?"
"Tidak perlu, Ma. Mama Tia datang saja sudah senang aku."
"Mama besok mau ke sana, karena malamnya mama mau ke kembali ke Belanda. Ayahnya Devon ada keperluan mendadak."
"Aduh! Kamu ini sibuk sekali, Tia."
"Bagaimana lagi, Arana, setelah ini Devon yang akan mengurus perusahaan kakek neneknya. Jadi aku nanti bisa lebih santai."
"Apa nanti aku akan pindah dan tinggal di Belanda, Ma?" celetuk Binna.
"Memangnya kenapa? Kamu, kan, sudah menjadi istriku, jadi kamu nanti harus ikut ke mana suami kamu tinggal, Binna," ucap Devon.
"Tidak mau, aku sudah bilang mau di sini saja, tidak mau jauh dari Ibu dan Ayahku."
Tia terkekeh. "Kamu itu di usili sama suami kamu, Devon tidak akan tinggal di Belanda, dia tau kamu tidak akan mau ke sana, makannya, waktu itu di bolak balik Belanda-Indonesia untuk mengurus semua urusannya agar dia bisa di sini. Jadi nanti dia akan bekerja di perusahaan kakeknya di sini, yang di Belanda akan dilimpahkan pada ayahnya."
Karena sudah malam, Devon segera mengajak Binna pergi ke apartemennya. Mereka berangkat ke sana.
Arana dan yang lainnya di sibukkan dengan beberapa urusan yang belum selesai. Diandra izin ke kamarnya sebentar untuk mengambil ponselnya.
Tommy sedang di bawah dengan Arana, dan masih ada Mara di sana.
__ADS_1
"Auw!" Tiba-tiba Diandra kaget ada yang memeluknya dari belakang. "Uno, kamu jangan mengagetkan seperti itu."
"Maaf, aku kangen dari tadi ingin memeluk kamu." Uno memeluk Diandra erat dari belakang.
"Di bawah masih banyak orang, jangan berbuat seperti ini."
"Mereka sedang sibuk, Sayang. Kamu tau, Diandra? Kami terlihat sangat-sangat cantik dengan baju kebaya yang kamu pakai. Malahan kamu mirip seperti pengantin."
"Aku membayangkan jika kelak aku menjadi penganti, aku ingin waktu itu aku sudah bisa melihat, aku ingin bisa melihat kamu di depanku mengucapkan ijab qobul, Uno."
"Semoga kamu segera mendapatkan donor mata, Sayang."
"Semoga, Uno. Ya sudah kamu turun dulu, aku mau ke kamar mandi sebentar, nanti aku menyusul kamu ke bawah."
"Sayang, nanti malam, Kan, di atas sini sepi. Kamar Binna kosong, apa boleh aku nanti menyelinap di kamar kamu?"
"Apa? Kamu jangan aneh-aneh, Uno."
"Aku kan cuma bilang menginap, tidak akan berbuat apa-apa. Tidur biasa saja, asal bisa memeluk dan melihat wajah kamu."
Beberapa menit kemudian, Diandra mengambil ponselnya dan siap-siap akan ke bawah bergabung dengan yang lainnya.
Diandra meraba-raba perlahan pegangan anak tangga, dan dia melangkah satu persatu menuruni anak tangga karena dia sedang memakai kebaya.
Saat berada di tengah anak tangga, tiba-tiba Diandra berteriak dan tubuh Dinadra berguling di anak tangga jatuh sampai bawah.
Ada salah satu pelayan yang mendengar teriakan Diandra dan berlari menuju anak tangga. Pelayan itu sangat terkejut melihat tubuh Diandra tergeletak pingsan di bawah anak tangga.
Seketika pelayan itu berteriak minta tolong. Arana dan lainnya yang mendengar langsung berlari menuju di mana pelayan itu berada.
"Diandra!" Arana sangat terkejut melihat Diandra. Uno dan Tommy sama-sama berlari ingin menolong, tapi Uno langsung menggendong Diandra dan membawa Diandra di sofa panjang di ruang tamu.
Semua di sana tampak panik. Mara mengambilkan sesuatu untuk membuat Diandra agar sadar. Hidung Diandra di beri aroma minyak mint agar sadar, tapi Diandra belum sadar.
"Aku akan panggilkan dokter keluarga untuk datang ke sini." Juna menghubungi seseorang. Mereka menunggu dokter keluarga datang ke sana. Zia yang baru turun dari kamarnya tampak kaget.
__ADS_1
"Ada apa ini, Bu?"
"Diandra baru saja jatuh dari anak tangga, Zia. Dia belum sadar," ucap Arana cemas.
"Kok bisa?" Zia mencoba memeriksa keadaan Diandra. "Dia tidak apa-apa, kan, Bu?"
"Kita tunggu dokter keluarga datang ke sini dulu." Juna mencoba memeluk putrinya yang terlihat khawatir.
Tidak lama Diandra mulai mengerjapkan kedua matanya. Dia perlahan membuka matanya. "Diandra, Sayang, kamu sudah sadar? Bagaimana keadaan kamu saat ini?" tanya Tommy khawatir.
"Aku kenapa, Yah? Apa yang sedang terjadi?" Diandra mencoba bangkit tapi di larang sama Tommy. Tidak lama dokter yang di tunggu datang.
Dokter itu memeriksa keadaan Diandra, dokter mengatakan jika Diandra baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius, hanya ada beberapa lecet di tubuhnya.
"Tapi kalau kalian ingin memastikan jika Diandra tidak kenapa-kenapa, kalian bisa melakukan pemeriksaan lengkap di rumah sakit. Saya akan memberikan surat untuk melakukan cek lengkap."
"Baik, Dok. Besok saya akan mengantar Diandra untuk periksa lengakap di rumah sakit yang dokter sarankan.
Dokter itu akhirnya permisi untuk pergi dari sana. Setelah memberi obat yang nanti bisa diminum jika Diandra merasakan sakit pada tubuhnya.
"Diandra, bagaimana kamu bisa terjatuh dari tangga tadi?"
"Aku sendri tidak tau, padahal aku sudah berhati-hati seperti biasanya."
"Lain kali kamu minta tolong seseorang membantu kamu saat menaiki dan menuruni anak tangga."
"Atau kamar kamu di pindah ke bawah saja. Bagaimana?" tanya Arana.
Uno yang mendengar agak kaget, kalau kamar Diandra di pindah ke bawah, akan semakin sulit untuk Uno menemui Diandra, tapi dia juga tidak boleh egois, Uno juga harus memikirkan keselamatan Diandra nantinya.
"Iya, itu benar, lebih baik kamar Diandra di letakkan di bawah saja. Dengan begitu dia akan lebih aman jika naik turun," sahut Zia.
"Tidak perlu, Ibu Arana, aku baik-baik saja. Aku lain kali akan hati-hati. Lagipula aku tidak mau merepotkan kalian nantinya memindah barang-barangku."
"Nanti saja kita membahas tentang ini, ayah akan membawa kamu ke kamar supaya bisa beristirahat."
__ADS_1
"Paman, biar aku saja yang membawa Diandra ke kamarnya," celetuk Uno.