Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Hari Pernikahan part 2


__ADS_3

Di bawah Uno sedang merasa gugup, gelisah, bahkan ingin pergi dari sana. Dia akan melaksanakan ijab qobul di depan penghulu dan ayahnya. Zia menunggu di atas dengan di temani oleh Diandra karena Binna memilih di bawah dengan ibunya, dia sudah malas melihat Zia.


Zia melihat ke arah Diandra yang duduk di atas ranjang Zia. Zia mencoba mendekati Diandra di sana. “Kamu tau, Diandra? Aku sebenarnya ingin merasakan senang akan pernikahan aku ini. Bagaimanapun juga pernikahan adalah hal yang sangat diimpikan oleh setiap wanita. Kamu pasti juga memimpikan hal ini bukan?” Ini orang niatnya menyindir Diandra.


“Iya, Kak, setiap wanita pasti ingin merasakan suatu moment pernikahan yang sangat indah dengan pria yang sangat dia cintai.”


“Aku akan mendoakan kamu suatu hari nanti kamu bisa menemukan pria yang pantas menikah dengan kamu. Mau menerima kamu apa adanya.” Sorot mata Zia melihat menghina Diandra.


“Aku pasti akan menemukannya suatu hari nanti.”


Zia mengeluarkan kalung milik Diandra yang tempo hari dia ambil paksa dengan menyuruh perampok-permapok itu. “Mulai sekarang, Uno tidak akan ada yang bisa mendekatinya bahkan menggodanya lagi. Dulu saat menjadi kakaknya aku tidak berhak melarang dia dengan gadis manapun yang mencoba merayunya, tapi sekarang aku adalah istrinya jadi aku berhak marah dan melarang jika dia di dekati oleh gadis lain.”


Zia mencoba membuat Diandra tau siapa istri Uno sekarang, jadi jangan coba mendekati bahkan merayu Uno lagi, dan parahnya Zia mengatakan hal itu sambil melihati kalung milik Diandra. Jadi Zia ini benar-benar sakit deh.


“Kak, aku.”


Zia langsung mengambil kalung milik Diandra saat tidak sengaja tangan Diandra menepis kalung itu hingga jatuh di lantai.


“Hati-hati Diandra.”


“Maaf, Kak. Apa tadi aku menjatuhkan kalung milik Kakak?”


“Iya, aku tadi mau memakai kalung pemberian ibu Arana tapi ternyata tidak cocok jadi aku masukkan saja di lemariku.” Zia segera beranjak dari tempatnya dan menyimpan kalung itu di sebuah kotak berwarna merah dan meletakkannya di bawah ranjang.


Di taman bawah Binna sedang duduk dengan Lila. Binna tampak menangis melihat pernikahan kakaknya hari ini. “Kamu jangan menangis terus, Binna. Seharusnya kamu bahagia.”


“Bahagia? Bagaimana aku bisa bahagia? Pernikahan ini tidak seharusnya terjadi, Lila. Kamu sudah aku ceritakan semuanya.”

__ADS_1


“Iya, sih, tapi mereka kan bukan kakak adik jadi boleh-boleh saja apalagi Kak Uno dan Kak Zia sudah berbuat seperti itu.”


“Aku kasihan dengan Kak Uno dan Kak Diandra, apalagi malam ini Kak Diandra akan pergi dari sini dan kembali ke Kanada, mungkin dia tidak akan kembali lagi ke sini untuk selamanya.


“Sudah! Kamu jangan menangis.” Lila memeluk Binna.


Ijab Qobul akhirnya selesai diucapkan oleh Uno walaupun tadi sempat mengulang. Akhirnya Uno dan Zia di sahkan sebagai suami istri. Hari ini para kakak pembaca pasti nangis bebarengan, author juga sampai siapin tissu.


Arana berjalan dengan Diandra menggandeng Zia yang tampak tersenyum bahagia karena dia sudah di sahkan menjadi suami istri dengan Uno. Uno tampak berdiri di sana dengan pandangan yang tidak dia lepaskan ke arah Diandra. Binna menghampiri Diandra dan memegang tangannya. “Kak Diandra,” ucap Binna lirih, dan Diandra tersenyum pada Binna.


Zia duduk berdua dengan Uno di tempat Uno melaksanakan ijab Qobul untuk menandatangaini buku nikah mereka. Binna duduk di tempat keluarga sambil memeluk erat Diandra.


“Arana, aku benar-benar tidak percaya dengan semua yang kamu ceritakan.”


“Itu memang benar terjadi Tia. Uno harus menikahi Zia karena memang dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.”


“Aku tidak tau, Tia. Juna sudah menyelidiki semuanya, di hotel di kamar Zia tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Kalau dia dijebak pasti minuman mereka di beri obat seperti aku dulu, tapi itu semua tidak ada, Uno hanya bilang di tidak minum, tapi Juna mencium bau minuman pada mulutnya. Juna sebenarnya percaya apa yang dikatakan oleh Uno, tapi juga ada keraguan, bisa saja Uno minum dalam acara pesta itu diam-diam dan membuang botol minumannya di suatu tempat yang Juna tidak ketahui agar tidak ketahuan.”


“Oh Tuhan! Aku benar-benar tidak dapat berkata apa-apa lagi. Setelah ini kamu dan keluarga juga harus menghadapi pertanyaan beberapa orang yang taunya mereka adalah saudara tetapi kenapa mereka malah menikah. Kamu dan Juna harus membuka masa lalu di mana Zia memang bukan anak kadung kalian.”


“Kalau soal itu nanti akan kita urus, sekarang yang terpenting Uno harus mempertanggung jawabkan perbuatan dia.”


Acara berlangsung dengan baik. Hanya wajah Uno yang tidak terlihat bahagia, kedua matanya masih saja tidak dia lepaskan dari gadis yang duduk diam di kursi taman sendirian.


“Diandra, kamu kenapa? Kenapa malah menyendiri di sini?” tanya Mara.


“Tidak apa-apa, Tante. Aku hanya sedih harus pergi dari sini setelah ini.”

__ADS_1


“Kamu tenang saja, nanti saat pernikahan tante dan ayah kamu. Kita akan mengundang semuanya ke sana untuk merayakannya.”


“Iya, Tante.” Diandra tersenyum.


Malam itu semua keluarga berkumpul di manson kakek Bisma. Mereka akan mengantar kepergian Diandra dengan ayahnya, bahkan Mara akan ikut dengan mereka dan tinggal di sana untuk beberapa hari karena ternyata dia juga ada pekerjaan di sana.


“Juna, terima kasih selama ini kalian sudah sangat baik mengizinkan aku dan putriku untuk tinggal di sini.” Tommy memeluk Juna.


“Kamu ini bicara apa sih, Tom. Mansion ini adalah mansion milik kakek kamu juga. Kamu boleh kapan saja tinggal di sini bahkan jika kamu sudah menikah dengan Mara.”


“Iya, jadi aku tidak harus melihat kemesraan kalian terus, gantian aku yang akan membuat kalian iri sebagai pengantin baru. Ahahahah!” Mereka berdua malah tertawa.


Binna menangis sambil memeluk Diandra dan paman Tommy. Mereka saling bergantian berpelukan dan mengucapkan selamat tinggal dan semoga akan bertemu kembali. Zia pun memeluk Diandra dengan senyum bahagiaanya dia akhirnya bisa mengusir Diandra pergi jauh dari hadapannya.


Tiba saatnya Tommya berpamitan pada Uno. “Semoga kamu bahagia dengan pernikahnan kamu, Uno. Paman akan mendoakan kamu selalu.”


“Terima kasih, Paman.” Mereka berpelukan.


“Uno selamat atas pernikahan kamu dan Kak Zia.” Diandra berjabatan tangan dengan Uno.


“Aku juga akan mendoakan yang terbaik buat kamu.”


Uno menarik tubuh Diandra dan langsung memeluk Diandra dengan erat."


Arana yang melihatnya tampak terkejut. Sedangkan Zia tampak sangat kesal melihat mereka berpelukan seperti itu.


"Uno." Diandra melepasakan pelukannya, Diandra tidak mau timbul masalah baru nantinya.

__ADS_1


__ADS_2