
Juna dan Tommy sedang berada di dalam mobil, dan kali ini Tommy yang mengemudikan mobilnya. Mereka akan pulang ke rumah.
"Tom, kenapa berhenti?" Tanya Juna yang bingung kenapa Tommy menghentikan mobilnya.
"Lihat cafe itu, Arana kan suka membeli makanan di sana."
"Iya, memangnya kenapa?" Kedua alis mata Juna mengkerut.
"Aku mau membeli kue di sana?" Tommy melepas sabuk pengamannya, dan dia turun. Juna dengan cepat mengikuti Tommy turun.
"Kamu mau membelikan untuk istriku? Kamu diam-diam masih terobsesi sama Arana?" Juna mukanya sudah di tekuk saja.
Tommy menoleh dengan memberikan senyum devilnya. "Memangnya kenapa? Aku kan lama tidak bertemu Arana, dan aku mau membelikannya sesuatu. Lagian aku sudah menganggapnya sebagai adikku." Tommy melenggang santai dengan satu tangan masuk ke dalam saku celannya. Juna menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi dia juga ikut masuk.
Dia dalam cafe itu, Tommy berjalan menuju etalase yang ada beberapa kue di sana. Juna yang berdiri di depannya menatapnya dengan tatapan yang malas. "Sudah bukan waktunya cemburu padaku, Juna. Kamu tau putriku itu kadang-kadang ada hal yang dia mirip sekali dengan Arana, makannya, siapa tau dia menyukai kue yang Arana suka, oleh sebab itu aku mau membelikan dia kue juga, sekalian sama Arana."
"Iya-iya! siapa yang cemburu?" Juna tidak memperdulikan dia melihat-lihat ke tempat lain. Tommy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tommy memesan kue dan jus kesukaan Arana dan beberapa kue lagi untuk anak-anak Arana serta Diandra.
"Tommy!" seru seseorang dari arah samping Tommy, Tommy menoleh dan melihat ada seorang wanita yang dia kenal.
"Nina, kamu Nina, Kan?" Wanita itu pun berjalan mendekat ke arah Tommy dan langsung memeluk Tommy.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan kamu di sini, aku benar-benar sangat senang, Tom." Nina tidak melepaskan pelukannya.
Tommy menarik tubuh Nina dan menatapnya. "Aku juga tidak menyangka bisa bertemu dengan kamu di sini, kamu tetlihat berubah."
"Berubah bagaimana? Apa aku semakin cantik?" Tanya Nina manja. "Kamu juga berubah, lebih terlihat dewasa, dan semakin mempesona," bisik Nina pada telinga Tommy.
"Oh ya! Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu bilang dulu kamu akan menikah dan tinggal di luar negeri, lalu mana suami kamu?"
Wanita itu terdiam sejenak, dan menatap Tommy dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. "Aku sudah berpisah dengan suamiku, Tom. Sudah lama, hampir 2 tahun."
__ADS_1
"Oh. Maaf, Nina." Muka Tommy tampak tidak enak.
"Tidak apa, aku memilih berpisah sama dia karena dia lebih memilih wanita lain, ada wanita lain yang hadir di kehidupan rumah tanggaku. Ah sudahlah! Aku tidak mau membahas ini, kamu sendiri bagaimana dengan kehidupan kamu? Aku dengar kamu lama tinggal di Kanada bersama putri kamu?"
"Iya, itu benar, aku hanya tinggal dengan putrinya, yang sekarang sudah beranjak dewasa."
"Tom, aku dengar istri kamu meninggal setelah melahirkan, Ya?"
Kedua alis Tommy mengkerut. "Kamu kenapa bisa tau semua tentang aku?"
"Tentu saja aku tau. Aku kan diam-diam masih memperhatikan kamu." Wanita itu tersenyum dan memeluk lengan Tommy. Tommy pun tersenyum.
Tidak lama Juna menghampiri mereka, dan Juna masih bisa mengenali wajah Nina. "Tom, ini Nina, Kan? Hai, Nin." Juna mengulurkan tangannya dan Nina membalasnya.
"Iya, dan kamu Juna, Kan? Apa kabar, Juna?"
"Baik. Tom, apa kamu sudah selesai? Ayo kita pulang sekarang."
"Tom, besok lusa bagaimana jika kita makan malam bersama, ajak putrimu juga, aku ingin kita bisa ngobrol lebih banyak, pasti menyenangkan. Apa kamu bisa?"
Tommy terdiam sejenak. Lalu dia mengangguk perlahan. Dan Nina meminta nomor telepon Tommy, mereka saling bertukar nomor telepon.
***
Di mansion mereka makan malam bersama dengan sangat hangat dan terlihat sangat bahagia. "Tom, terima kasih, Ya, sudah membelikan aku kue kesukaanku. Aku lupa sudah berapa lama tidak makan kue itu."
"Aku tadi waktu pulang dari kantor dengan Juna ingat saat melewati cafe itu."
"Iya, kuenya sangat enak ayah, aku juga sangat menyukainya, ternyata ini kue kesukaan Ibu Arana." Diandra tersenyum manis.
"Ayah sudah menduga, kamu kan sedikit banyak hampir mirip dengan Ibu Aranamu."
"Kamu ternyata masih sangat ingat dengan diriku, Tom."
__ADS_1
"Tentu saja, Arana."
"Ehem ... ehem ...." Juna tiba-tiba terbatuk.
Binna dengan cepat mengambilkan minuma. untuk ayahnya. "Ayah pelan-pelan kalau makan."
Arana melirik ke arah suaminya itu. "Ayah kamu baik-baik saja, Binna. Ayah kamu cuma cemburu dengan paman kamu Tommy yang membelikan ibu kue."
"Uhuk ... uhuk." Sekarang Tommy malah terbatuk, dan langsung meminum airnya.
"Kalian bertiga, apa dulu terlibat cinta segitiga?" celetuk Uno. Mereka bertiga langsung saling memandang kaget, tidak lama mereka bertiga tertawa.
"Uno, hal yang terjadi diantara ayah, ibu dan paman Tommy bukan seperti bayangan kamu, atau yang ada di sebuah film. Hubungan kita bertiga sudah seperti keluarga, ya walaupun ada sedikit pertengkaran, tapi bukan hal yang serius."
"Iya, kamu jangan salah paham. Paman kamu ini memang suka sekali menggoda hubungan ayah dan ibu kamu, ayah saja yang kadang kesal, karena bagi ayah, tidak boleh ada yang bersikap manis pada ibumu selain ayah," ucap Juna tegas.
"Begitulah ayah kamu, kadang Paman Tommy kamu bersikap baik sama ibu, ayah kamu sudah marah saja.
"Itu karena ayah Juna sangat mencintai Ibu Arana," Diandra sekali lagi tersenyum.
"Benar, Sayang. Dan wanita yang sangat dicintai oleh ayah kamu adalah Diandra, mama kamu," sahut Arana.
Uno yang duduk sebelah Diandra mendekat ke arah Diandra, dan berbisik pelan. "Aku kira kamu saudaraku, tapi beda ayah, aku sudah takut saja."
Kedua alis mata Diandra mengkerut menoleh ke arah Uno. "Memangnya kenapa kalau hal itu terjadi?"
"Kalau hal itu terjadi, aku tidak bisa mendekati kamu," ucap Uno berbisik.
Zia memperhatikan saja apa yang di lakukan Uno dan Diandra, dan ada perasaan kesal pada diri Zia. "Ibu, ayah dan paman, aku sudah selesai makan, aku mau ke kamar aku dulu. Aku mau kembali menyelesaikan tugas kuliah aku dulu." Zia beranjak dari tempat duduknya.
Di dalam kamarnya Zia berbaring dengan kesal di atas tempat tidurnya. "Kenapa dia mesti datang lagi ke sini, apalagi dia sekarang benar-benar berubah.
"Kak, Diandra itu cantik, Ya? Walaupun dia gendut, tapi dia sangat cantik, dan matanya itu sangat indah," puji seorang bocah kecil dengan topi hitam di kepalanya, dia sedang berbicara dengan gadis kecil yang usianya lebih tua dari bocah kecil itu.
__ADS_1