
Siang itu di kampus. Uno yang sedang duduk bersama dengan teman-temannya dihampiri oleh seorang gadis dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Hai, Uno," sapanya dengan senyum manisnya, dan seketika Uno dan teman-temanya menengok ke arah belakang melihat gadis itu.
"Ada apa, Giska?" kedua alis mata Uno berkerut aneh, Giska ini salah satu mantan Uno yang sudah dia putus beberapa bulan yang lalu, tapi sepertinya dia belum bisa move on dari si anak Juna ini.
"Uno, aku kesini ingin memberikan hadiah ini untuk kamu." Gadis manis itu menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam pada Uno. Uno berdiri dari tempatnya dan hanya memandangi kotak hitam yang di bawa oleh gadis itu.
"Aku tidak pernah meminta apa-apa darimu, Giska. Maaf, aku tidak bisa menerimanya," ucap Uno tegas.
"Tapi aku ingin memberikan ini untuk kamu, Uno. Aku tau kamu sedang menginginkan benda ini, lalu waktu beberapa hari yang lalu aku berlibur ke luar negeri, aku melihat jam tangan yang kamu inginkan, makannya aku membelikannya untuk kamu." Gadis itu membuka kotak yang dibawanya dan seketika teman-teman Uno membulatkan matanya melihat jam mahal yang di bawa oleh gadis itu.
"Uno, itukan jam tangan yang kamu inginkan? sudah terima saja, Brother!" Salah satu teman Uno menepuk pundak Uno.
Uno malah memberikan tatapan tajamnya. "Aku tidak semiskin itu harus meminta-minta barang yang aku inginkan pada seseorang. Bawa kembali barang itu, aku tidak bisa menerimanya, lagian kamu tidak perlu susah-susah mencarikan apa yang aku inginkan. Lebih baik gunakan saja uang kamu untuk diri kamu sendiri." Uno berjalan pergi dari sana meninggalkan gadis itu dengan hadiah di tangannya.
Gadis itu menatap nanar pada benda yang ada ditangannya. "Sudah, Giska. Uno tidak akan terbuka lagi hatinya, dia itu kalau sudah putus dari seseorang tidak akan mau jika diajak balikan, lagian kamu bersyukur saja, kalian masih bisa berteman baik." Tangan sahabat Uno itu menepuk-tepuk pundak Giska.
"Kasihan, kamu mau membuat Uno balikan lagi sama kamu? dengar ya, Giska. Uno itu sudah menjadi kekasihku, jadi lebih baik kamu tidak perlu mengejar Uno lagi," suara seorang wanita yang tiba-tiba ada di sana, dia adalah Cerry kekasih Uno yang baru.
Uno yang berjalan menuju parkiran mobilnya, dia di rangkul pundaknya oleh sahabatnya. "Dasar Cassanova! kenapa kamu tidak terima pemberian dari Giska? itu jam mahal, Brother. Dan kamu kan memang menginginkannya."
__ADS_1
"Aku menginginkanya, tapi aku tidak perlu meminta-minta pada seorang gadis, apalagi dia memberikan itu pasti ada maksudnya, dan aku tidak menyukainya. Aku bisa meminta pada ayahku jika mau, tapi aku tidak akan melakukannya."
"Iya-iya, aku percaya, kamu kan pewaris utama keluarga Atmaja. Siapa yang tidak kenal keluarga kamu."
"Siapapun aku, bagiku aku adalah Uno, manusia biasa, ibuku juga selalu mengingatkan akan hal itu, jadi jangan membahas siapa diriku di sini, aku tidak suka." Tatap Uno dengan mata tajamnya.
"Maaf, Uno. Aku bingung saja sama kamu, kenapa banyak sekali gadis-gadis yang mengejar-kejar kamu, kamu juga tidak pernah menyatakan cinta pada salah satu gadis itu duluan, malahan mereka yang menyatakan cinta duluan sama kamu, dan kamu menerima mereka. Dasar Playboy!"
"Aku kasihan saja kalau sampai menolak mereka, mereka wanita, Brother, hati mereka sangat halus."
"Tapi sama saja, mereka tidak lama kamu putus, apa kamu tidak ada yang benar-benar kamu cintai?"
"Cinta? ayolah! lebih baik bersenang-senang dulu, cinta membuat cowok jadi bodoh, kayak kamu, harus mengejar-kejar Tania, yang sudah jelas hanya memanfaatkan kamu saja, supaya dia bisa meminta-minta apa yang dia inginkan, makannya jangan jatuh cinta pada seorang gadis, biarkan seseorang yang mencintai kita, jangan kita yang mencintai mereka."
"Uno, kita pulang sekarang," suara wanita cantik yang ada di depan Uno.
"Iya, Kak Zia. Kita pulang sekarang. Ricky, aku pulang dulu, kamu masih mau menunggu si Tania itu?" tanya Uno seolah menghina temannya yang sedang bucin sama Tania-- cewek kampus yang jadi idola, yang sebenarnya pernah menyatakan cinta pada Uno, tapi Uno menolaknya karena Uno tau, Ricky sahabatnya menyukai Tania.
"Iya, kamu hati-hati. Kak Zia juga hati-hati, Ya?" Ricky berkata dengan genit pada kakaknya Uno--Zia.
"Iya, Ricky." Zia tersenyum manis pada Ricky. Zia kan memang wanita yang lembut.
__ADS_1
Uno dan Zia berada di dalam satu mobil, Uno hari ini pulang bersama dengan Zia kakaknya, Zia itu anaknya Sofia ya. Beberapa hari yang lalu mobil Zia sedang rusak jadi dia pulang bareng dengan Uno.
"Uno, kekasih kamu Cerry tidak apakan kamu tidak pulang mengantar dia dalam beberapa hari ini?" Tanya Zia yang melirik pada Uno yang sibuk menyetir mobilnya.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku malah menawari dia untuk ikut bersamaa kita, dan menjelaskan jika mobil Kak Zia sedang diperbaiki, Tapi dia tidak mau dan memilih diantar jemput oleh supirnya.
"Bagus kalau begitu, kasihan kamu kalau harus mengantar jemput dia, kamu bukan supirnya, lagian kekasih baru kamu kali ini manja sekali aku melihtanya." Kak Zia memutar bola matanya jengah.
Uno hanya menanggapi dengan senyuman kecil dan kembali mengemudikan mobilnya. "Uno, kita berhenti sebentar di toko aksesoris yang baru buka itu, apa kamu mau?" tanya Kak Zia.
Uno mengangguk. "Tentu saja, memangnya kakak mau membeli apa?"
"Ada dech! kamu nanti pasti tau." Kak Zia tersenyum penuh rahasia.
"Kakak mencari kado buat pacar, Kakak? Aku tapi tidak pernah tau siapa pacar kakak, apa dia anak satu kamupus dengan kakak? atau si dosen berkacamata yang pendiam itu?" Mata Uno mendelik lucu pada kakakknya.
"Enak saja, kakak ini tidak punya kekasih."
"Apa kakak tidak ada seseorang yang kakak sukai? lalu mau mencari kado buat siapa?"
"Memangnya mencari kado harus di berikan untuk kekasih kakak? Tidak, Kan? Kakak punya seseorang yang kakak sukai, tapi kakak masih belum mau mengatakannya," Kak Zia tersenyum melihat ke arah Uno.
__ADS_1
"Katakan saja, Kak. Kalau perlu ceritakan pada ayah dan ibu, ayah dan ibu pasti akan menyetujuinya selama pria itu memang pria yang baik. Lagian pria itu pasti sangat senang di sukai oleh wanita sebaik dan secantik kakak. Aku yakin itu."
"Aku berharap dia juga menyukai kakak, kakak sudah jatuh cinta sama dia sejak dia pertama kali menolong kakak waktu itu." Kak Zia mencoba mengingat sesuatu, Uno yang memperhatikan kakaknya itu tersenyum.