Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
2 Hal Yang Tidak Bisa Di jelaskan part 2


__ADS_3

Malam itu Tommy sedang duduk makan malam dengan Nina, tidak lama ada dua orang datang dan mereka duduk tidak jauh dari meja di mana Tommy dan Nina Berada.


"Tommy," ucap lirih Mara saat melihat ada Tommy dan seorang wanita yang dia tidak tau mukanya karena membelakangi dirinya.


"Ada apa, Mara?" Tanya pria yang datang bersama Mara.


"Ada Tommy di sini, dan aku tidak tau siapa wanita itu." Tommy pun melihat ke arah meja Mara, tapi Tommy mencoba bersikap tenang.


"Apa kamu cemburu?" tanya sekali lagi Asta--pria yang bersama Mara.


"A-aku tidak cemburu, Asta." Jari jemari Mara saling di tautkan.


"Ayolah, Mara! Jangan mencoba menyembunyikan perasaan kamu. Atau kita pindah saja dari sini."


"Tidak perlu, aku mau memperlihatkan pada Tommy jika aku baik-baik saja, Sudah! Kita pesan makanan saja."


Dan di meja tempat Tommy, Nina tengah asik menikmati makan malamnya, tapi Tommy malah hanya memegang garpunya diam.


"Tom, kenapa kamu tidak makan? Apa makanan di sini kamu tidak menyukainya?" Tanya Nina.


"Mm ... aku tidak apa-apa. Makanan di sini sangat enak." Tommy tersenyum dengan terpaksa.

__ADS_1


"Tom, aku mau tanya sama kamu. Apa kamu mempunyai kekasih di Kanada?"


"Aku tidak punya kekasih, lagipula, pria seusiaku dengan statusku sekarang, sudah tidak pantas lagi aku berpacaran, aku pantasnya langsung menikah, membangun hubungan yang serius."


"Benar juga, Sih! Lalu apa kamu sudah mempunyai seseorang yang ingin kamu ajak serius?"


"Ada," jawabnya tegas.


"Ada? Siapa? Siapa wanita yang berhasil msmbuat hati kamu terpesona lagi?" Tanya Nina penasaran.


"Dia sepupunya Alm. Istriku Diandra."


"Oh, Ya? Lalu di mana dia sekarang? Apa kalian akan segera menikah? Apa dia tidak cemburu kamu jalan denganku seperti ini?"


"Aku mencintainya, bahkan aku pernah melamarnya, tapi--."


"Tapi dia tidak mencintai kamu?" celetuk langsung Nina.


"Dia mencintaiku, tapi aku tidak tau kenapa dia seolah menghindariku."


"Berarti dia tidak mencintaimu, kalau begitu kamu lupakan saja dia dan kamu sama aku saja. Ahahahaha!" Nina malah tertawa dengan senang. "Kamu pria yang baik, Tom, dan kamu masih mempesona." Tangan Nina tiba-tiba mengusap pipi Tommy.

__ADS_1


"Nina, kamu sepertinya sudah mulai mabuk, Ya? Sudah aku bilang jangan memesan wine."


"Siapa yang mabuk? Lagian kamu itu tidak tau, aku mau mencoba membuat hatiku bahagia."


Tommy berdiri dari tempatnya dan mengajak Nina pergi dari sana. Tangan Tommy memegang pinggang Nina dan mereka berjalan pergi dari sana.


Mara yang melihatnya sangat tampak kesal. "Apa wanita itu kekasihnya?" tanya Asta.


"Aku tidak tau, Asta!" seru Mara kesal.


"Mara, katakan saja apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu, kalau dia benar-benar mencintai kamu, dia akan mau menerima kamu dan semua kekurangan serta kelebihan orang yang kita cintai."


Mara menghela napasnya panjang. Di dalam mobil Tommy duduk dengan Nina. Nina tampak tersenyum pada Tommy. "Tom, Kenapa nasibku sangat tidak baik. Aku sangat mencintai suamiku dulu, tapi kenapa dia malah pergi dengan orang lain," Nina mulai meracau.


"Nina, kita tidak boleh berpikir seperti itu. Suatu saat kamu akan menemukan kebahagiaan kamu."


Tommy sebenarnya sedang memikirkan tentang Mara dengan pria tadi, dia benar-benar kesal.


"Halo."


"Halo, Mara. Besok aku ingin menemui kamu di butik milik kamu."

__ADS_1


"Untuk apa, Tom?"


"Bicara sama kamu, dan jangan coba menghindar, karena aku akan mencari, bahkan mengejar kamu." Tommy langsung menutup panggilannya. Dan dia membawa Nina pulang.


__ADS_2