
“Ibu pernah melihat kamu dan Uno waktu di Paviliun berdua saat itu, kalian terlihat bukan seperti seorang saudara atau sahabat. Apalagi
waktu ibu melihat kamu mengecup Uno saat Uno terbaring di rumah sakit, dan ibu tau itu bukan kecupan biasa, ibu pernah muda, Diandra, dan ibu tau pandangan mata biasa dan ada cinta di dalamnya, Ibu melihat pandangan mata Uno ada cinta buat kamu.”
“I-itu?” Diandra bingung, apa sebaiknya dia mengatakan hal yang sebenarnya saja?”
“Kalian benaran tidak memiliki hubungan apa-apa?”
“Ibu, memangnya kalau misal aku mencintai Uno, apa aku salah?”
Arana mendelik kaget dan mendekat ke arah Diandra. “ Salah? Apanya yang salah?”
“Ibu Arana kan tau kalau aku tidak bisa melihat, apa aku pantas jika harus mencintai Uno putra Ibu Arana yang sempurna,” ucap Diandra lirih.
“Kenapa kamu bicara begitu? Kamu juga sempurna, malahan kamu memiliki kelebihan yang orang lain yang belum tentu miliki. Meskipun kamu tidak melihat, kamu mandiri, kamu memilki hati yang baik, kamu putri Diandra yang sempurna.”
“Jadi Ibu Arana tidak akan keberatan jika aku dan Uno memiliki suatu hubungan?”
“Tentu saja tidak, Ibu malah senang jika Uno bisa mencintai kamu dengan tulus dengan segala kelebihan dan kekurangan kamu, itu berarti dia bersungguh-sungguh sama kamu.”
“Terima kasih, Bu.” Diandra memeluk Arana dengan erat.
Uno siang itu masuk ke dalam rumah dan mencari Diandra. Arana yang tiba-tiba menarik baju putranya dari belakang membuat Uno tampak kaget. “Kamu sedang mencari siapa?”
“Ibu? Ibu kenapa tiba-tiba berada di sini?”
“Memangnya kenapa? Ini kan rumah ibu juga. Kamu itu yang kenapa seperti sedang mencari sesuatu saja, siapa yang kamu cari?”
“Aku mau mencari Diandra. Aku bilang kalau aku mau mengantarkan dia ke tempat kerjanya.”
“Kenapa harus kamu yang mengantar ke tempat kerjanya? Diandra kan bisa diantar oleh supir kita?”
“Em ... soal itu?” Uno bingung ini, kenapa ibunya seolah-olah ingin mencari tau sesuatu. “Aku mau mengantar Diandra karena paman
Tommy sedang tidak ada di rumah, jadi aku yang akan menjadi orang yang menjaga Diandra.”
“Oh begitu! Kenapa harus kamu? Di sini ada ayah kamu juga yang sudah seperti ayah bagi Diandra.”
__ADS_1
Uno lama-lama terlihat kesal dengan pertanyaan Ibunya. “Ayah, kan sudah banyak yang diurusi, Bu. Jadi biar aku yang menjaga Diandra, lagian Ibu tega membiarkan Diandra pergi ke tempat mengajarnya sendirian? Ibu tidak ingat apa yang sudah menimpa Diandra?”
“Ibu ingat, makannya ibu menyuruh supir mengantar Diandra dengan di kawal dua orang suruhan ayah kamu?”
“Apa?” Uno mendelik kaget. “Jadi Diandra sudah pergi ke tempat mengajarnya dengan supir? Ibu kenapa membiarkan dia?’
“Ibu menjaga dia, Uno. Buktinya Ibu menyuruh dua orang suruhan ayah kamu mengawasi dia.” Aran bersedekap melihat muka putranya yang
terlihat kecewa.
Tidak lama dari arah belakang Uno, Diandra menuruni anak tanggan menuju ke lantai bawah. “Uno, kamu sudah datang?” tanyanya.
Uno menoleh ke arah belakangnya dia sangat terkejut melihat Diandra ada di sana, bukannya tadi ibunya mengatakan jika Diandra sudah
berangkat.
“Kamu belum berangkat ke sekolah musik kamu?”
Arana seketika terkekeh melihat expresi wajah anaknya yang lucu. Kedua alis tebal Uno mengkerut kesal. Ternyata ibunya sedang
mengerjainya. “Ibu!” serunya kesal.
cerita?”
“Jadi ibu sudah tau?” Arana mengangguk. “Bagaimana bisa tau?”
“Ibu, kan, ibu kamu, Uno. Ibu tau segalanya tentang putra-putrinya.”
"Menurut Ibu bagaimana?"
"Apanya?"
"Huft! Ya Ibu setuju atau tidak jika aku dan Diandra menjadi sepasang kekasih, bahkan jika aku menikah dengan Diandra nanti kalau aku sudah lulus."
"Ibu setuju saja, kalau kamu memang ingin serius dengan Diandra, tapi tetap kita harus menunggu keputusan dari ayah-ayah kalian. Apa lagi Paman Tommy kamu, meskipun dia sudah mengenal Ibu dan Ayah, paman Tommy kamu itu tetap akan memikirkan lagi Diandra untuk menjadi pendamping kamu."
"Apa ada yang salah dari aku?"
__ADS_1
"Bukan salah dari kamu, tapi dulu Diandra juga pernah dekat sekali dengan seseorang yang sangat paman kamu percayai, paman kamu percaya Diandra akan bisa bahagia dengan pria yang bisa menerima Diandra apa adanya. Namun, semua itu ternyata hal yang palsu dan menyakitkan. Iya, kan, Diandra?"
Diandra mengangguk. "Dari situ ayahku benar-benar tidak mudah percaya lagi jika ada sesorang yang ingin mendekatiku."
"Nanti saja tunggu ayah kamu pulang dari Paris, dan setelah acara pesta perayaan Zia. Kita akan membicarakan hal ini."
"Iya, Bu. Lagian aku jug sedang menunggu kabar baik tentang Kak Zia dan Kak Dion dulu."
"Ya sudah kalau begitu kamu antar Diandra pergi ke tempat dia mengajar."
Uno dan Diandra berpamitan dan pergi dari sana. Uno dan Diandra saling berbincang di dalam mobil.
Tiba-tiba Uno menghentikan mobilnya dan memeluk kekasihnya itu. "Diandra, aku benar-benar mencintai kamu, aku tidak mau berpisah dari kamu."
"Uno, kamu kenapa? Ibu kamu sudah mengetahui tentang hubungan kita, hal ini akan membuat kita lebih mudah untuk bersama. Apa kamu takut soal ayahku?"
Uno melepaskan pelukannya. "Jujur hal itu juga yang membuatku takut jika ayah kamu tjdak menyetujui hubungan kita."
"Uno." Tangan lembut wanita itu menyentuh lembut pipi Uno. "Ayahku adalah ayah yang terbaik, dia pasti akan mendukung apa yang membuatku bahagia, dan kebahagiaanku selama ini adalah bersama dengan kamu."
"Terima kasih, Diandra. Diandra apapun nanti yang terjadi, kamu tetap percayalah jika aku sangat mencintai kamu."
"Aku percaya sama kamu. Sekarang kita berangkat, aku tidak mau murid-muridku malah datang duluan, kasihan mereka menunggu aku."
Uno kembali melanjutkan membawa mobilnya dan mereka menuju tempat Diandra mengajar.
Kota indah itu menjadi tempat Mara melepas segala hal yang mengganggu pikirannya. Wanita cantik itu sudah berdandan dengan gaun hitam panjangnya dengan belahan yang panjang dan lebar pada bagian punggungnya. Rambut panjangnya dia sanggul ke atas dengan rapi.
"Happy birthday to me." Mara berkata sendiri di hadapan cermin besar yang ada di dalam hotelnya.
Tidak lama ponsel Mara berdering. Mara sangat senang, dia berlari kecil menyaut ponsel yang dia letakkan sembarangan di atas kasurnya.
Saat melihat nama yang tadi mengiriminya pesan, wajah Mara tampak berubah.
Sebentar lagi bakal ada masalah yang bisa-bisa author kena omel ini. Wakakakak!
Mohon jangan marah sama author ya kalau nanti ceritanya ada bab yang bikin kalian kecewa atau kesel karena ini memang sudah author tata sedemikian rupa.
__ADS_1