Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Prom Night part 3


__ADS_3

Binna sangat terkejut bahkan tidak percaya melihat siapa yang ada di depannya. "Kak Devon?! Kakak kenapa bisa ada di sini?"


Devon menunjukkan muka datarnya. "Tentu saja aku ke sini untuk mengantarkan calon istriku ke acara sekolahnya, tidak mungkin aku biarakan kamu datang sendirian, atau bahkan dengan orang lain."


Binna memindai setiap bagian tubuh Devon dari atas sampai bawah, Binna memuji dalam hatinya, jika kak Devon malam ini penampilannya sangat berbeda, bagi Binna dia sangat tampan.


Setelah jas berwarna hitam dan dasi berwarna merah, warna yang sama dengan gaun yang di berikan Devon untuk Sabinna.


"Tapi aku sudah ada janji akan berangkat dengan Lila dan kekasihnya," ucap Binna ketus.


"Aku sudah menghubungi Lila, dan aku sudah mengatakan akan menjemput kamu dan mengantar kamu malam ini."


"Apa?"


"Gaun itu ternyata pas dan kamu tampak cantik memakai itu," puji Devon.


Binna terkejut, dia sampai bingung mau bilang apa, dia tadi kekeh tidak mau memakai gaun dari Devon, tapi akhirnya dia memilih memakai itu. "Gaun ini, aku sebenarnya tidak suka warnanya, dan modelnya. Hanya saja aku tidak ada gaun lagi, jadi terpaksa aku pakai." Binna berusaha mencari alasan, dia juga membuang mukanya pada Devon.

__ADS_1


Dengan cepat tangan Devon menelungsup pada pinggang Sabinna dan menariknya mendekat ke arahnya. Binna tampak terkejut saat tubuhnya begitu dekat dengan tubuh Devon. Kedua mata Sabinna membulat memandang kedua mata Devon.


Deg ... deg ... deg ...


Jantung Sabinna saat ini berdetak sangat kencang, dia merasakan perasaan yang tidak karuan saat menatap lebih dekat mata kak Devon. Perasaan yang dulu sempat ada saat dia menghabiskan waktu dengan kak Devon.


"Aku tidak peduli dengan semua alasan kamu, yang terpenting kamu mau memakai gaun pemberianku."


"A-aku, kan, bilang terpaksa. Jangan senang dulu." Binna melepaskan pegangan tangan Kak Devon, samar dia mengambil napasnya panjang, dadanya terasa agak kekurangan oksigen saat dia sangat dekat tubuh Devon.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang saja, aku tidak mau kamu nanti telat." Tangan Devon dengan cepat menggandeng tangan Sabinna dan mereka berjalan keluar.


"Ada apa?"


"Sebaiknya aku diantar supir saja, aku tidak mau pergi ke sana dengan memakai motor Kak Devon itu. Aku kan sedang memakai gaun dan aku tidak mau rambutku rusak. Kakak mau mempermalukan aku di acara itu?" Binna mengerucutkan bibirnya.


"Kamu ikut aku dulu." Devon menarik tangan Sabinna, dan mereka sampai di pintu teras rumah, di sana Binna tidak melihat ada motor Kak Devon, malahan ada mobil mewah berwarna hitam.

__ADS_1


"Ini mobil siapa?"


Devon membukakan pintu untuk Sabinna. "Silakan masuk. Aku akan mengantar kamu menggunakan mobilku, jadi aku tidak akan merusak rambut dan gaun kamu, Binna."


Binna tercengang dan dia kemudian masuk ke dalam mobil itu. Devon segera memacu mobilnya, mereka menuju tempat acara sekolah Sabinna.


Dalam perjalanan, tiba-tiba ponsel Devon berdering, Devon melihat nama sahabatnya sedang memanggilnya.


"Halo, Karla, ada apa?"


"Devon, kamu sudah sampai di Indonesia?"


"Iya, aku sudah sampai tadi pagi. Lalu bagaimana kabar kamu? Apa kaki kamu sudah baikkan?"


Binna yang di samping kak Devon fokus mendengarkan percakapan Kak Devon dan temannya di telepon.


"Aku sudah baikkan, rencananya aku akan ke Indonesia nantinya, jika kakiku benar-benar dinyatakan sudah pulih."

__ADS_1


"Iya. Ya sudah kalau begitu, aku sedang menyetir, nanti aku hubungi kamu lagi." Kak Devon mengakhiri panggilannya.


Bab selanjutnya tunggu ya, Sabar.


__ADS_2