Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Backstreet part 2


__ADS_3

Diandra yang sudah bangun dari pagi, gadis itu memang rutin bangun pagi dan berolahraga di dalam kamarnya, dia melakukan yoga di balkon kamarnya.


Tidak lama terdengar suara ketukan dari luar kamarnya. "Sebentar," jawab Diandra. Gadis itu berdiri dari tempatnya dan berjalan merab-raba mencari pintu kamarnya.


"Uno," ucapnya cepat.


"Hei! Bagaimana kamu bisa tau kalau aku yang ada di depan kamar kamu?" tanya Uno heran.


"Aku mengenali aroma tubuh kamu." Mereka berbicara di depan pintunya.


"Kamu mengenali aroma tubuhku? Hebat sekali, padahal kita baru kemarin jadian, tapi kamu bahkan sudah mengenal aroma tubuhku." Uno mendekat ke arah Diandra.


Tangan Diandra yang langsung menahan tubuh Uno saat dia merasakan tubuh Uno mendekat ke arahnya. "Uno, kamu jangan bar-bar. Kita sedang berada di rumah."


"Kamu takut, Ya?" Uno malah menggoda Diandra dengan mencubit kecil hidung Diandra. Diandra tidak merespon, dia malah mengerucutkan bibirnya. "Kamu sedang apa? Kenapa memakai baju itu?"


"Aku sedang melakukan yoga seperti biasanya."


"Yoga? Di dalam kamar?" Diandra mengangguk. "Kenapa kamu tidak berolahraga di ruang gym di lantai atas saja? Di sana kamu lebih leluasa berolahraga."


"Aku lebih di senang melakukan di atas balkon di dalam kamarku, sambil menghirup udara pagi yang masih bersih dan sejuk. Di Kanada aku juga sering melakukannya."


"Kalau begitu itu aku, kita akan berolahraga bersama di lantai atas. Selain yoga kita bisa melakukan hal lain di sana."


Wah! Hal lain? Apa itu? Masih pagi sekali loh ini. Wakakka, otaknya author.


"Tapi, aku yoga di sini saja, Uno."


Tanpa basa basi. Uno langsung menggandeng tangan Diandra dan membawanya ke lantai atas ke ruang gym. Diandra diberitahu Uno ruangan apa saja yang ada di lantai atas. Ada tempat gym, kamar mandi, dan ruang bersantai juga. Mereka sudah berada di sana.


"Aku sebenarnya tiap pagi berolahraga di sini, tapi sendirian. Ayahku beberapa hari ini jarang ke sini, sedangkan Binna sudah punya ruangan sendiri, yaitu ruangan tarinya. Kak Zia juga jarang ke sini," jelas Uno.


"Lalu kita akan melakukan apa?"


"Kamu pemanasan dulu, supaya nanti otot kamu tidak terjadi kram. Aku mau push upl sebentar." Uno memasang sarung tangan olahraganya yang berwarna hitam.


Tidak lama, Uno yang sudah melakukan push up menghampiri Diandra. "Diandra, apa kamu mau push up denganku?"

__ADS_1


"Maksud kamu?" Diandra tampak bingung.


Uno menggandeng tangan Diandra, dia mengajak Diandra ke tempat yang agak leluasa, Uno memberitahu Diandra nanti dia akan berada di atas posisi tengkurap dan kakinya dj kaitkan pada pengait kaki yang biasa Uno gunakan untuk latihan **** up.


"Aku nanti jatuh, Uno?"


"Kalau jatuh, aku tepat di bawah kamu Diandra, kamu tidak perlu takut." Uno mulai membantu Diandra, Diandra menurut saja pada Uno. Sekarang posisi mereka sudah seperti apa yang di mau oleh Uno. Uno tepat di bawah tubuh Diandra dan kedua telapak tangan mereka saling menaut.


"Uno, aku takut!" Diandra mengatakan dengan expresi antara takut dan senang.


"Kamu tenang saja, aku akan mengangkat tubuj kamu naik turun. Ini akan menyenangkan, bisa membut otot lengan kamu lebih kuat."


Fix Uno Modus.


Uno mulai menaik turunkan tubuh Diandra yang tepat di atasnya sambil tengkurap. Diandra terlihat takut, tapi wajahnya bahagia.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Uno disela dia menaik turunkan tubuh Diandra.


"Iya, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Kamu benar-benar crazy, Uno."


Beberapa menit kemudian Uno malah melepaskan kedua tangan Diandra dan Diandra sekarang tepat berada di atas tubuh Uno. Kedua mata gadis itu membelalak.


"Kamu tau, Diandra? Aku semalama tidak bisa tidur, aku senang sekali bisa mendapatkan kamu. Apa kamu juga mencintaiku, Diandra?"


"A-aku--?" Diandra tampak bingung. "Uno, jangan begini. Nanti kalau ada yang melihat kita dalam posisi seperti ini, bagaimana kita menjelaskannya?"


Uno sekarang malah membalikkan tubuh mereka, sekarang posisi mereka, Uno di atas dan Diandra tepat di bawahnya. "Apa kamu mau seperti ini?"


"Uno, aku sedang tidak bercanda."


"Aku juga, Diandra. Katakan dulu. Apa kamu bahagia memiliki hubungan seperti ini denganku?"


Diandra masih terdiam, tapi kedua bola matanya seolah melihat lekat pada Uno. "Jujur saja, Uno. Kadang aku masih tidak percaya jika aku memiliki suatu hubungan dengan seseorang, dan itu kamu. Pria yang dari kecil aku kenal, dan saat dewasa kita bertemu lagi, bahkan aku banyak mendengar kabar sumbang tentang siapa kamu, kamu playboy, banyak kekasihnya, walaupun kamu baik hati."


"Ck! Pasti Binna yang mengatakannya. Anak itu, awas saja."


"Tapi apa yang dikatakan Binna kan benar?"

__ADS_1


"Aku punya cara sendiri dalam berhubungan, Diandra. Dan ada waktu untuk aku mengenal mereka, jika aku rasa mereka memiliki kepribadian yang tidak aku sukai, aku memutuskan mereka. Apalagi jika aku tau mereka sampai mengkhianatiku. Tidak ada maaf."


"Lalu, kira-kira berapa lama nanti kita akan berhubungan?"


"Sepertinya akan lama, bahkan aku mau menikahi kamu?" Uno mengecup bibir Diandra. Diandra tampak tercengang dengan apa yang barusan di katakan Uno.


"Menikah?"


"Iya, apa kamu suatu hari nanti tidak ingin menikah?"


"Apa impian aku itu akan terwujud? Apa ada yang akan menerimaku dengan tulus, aku tidak bisa melihat, Uno."


"Impian kamu akan terwujud. Aku mencintai kamu, Diandra, entah kenapa, hatiku benar-benar jatuh cinta sama kamu."


Diandra tanpa mengatakan apapun dia memeluk Uno. Hati kecil Diandra pun seolah sangat percaya pada Uno. Diandra juga sangat nyaman berada di dekat Uno.


"Apa masih mau memelukku terus?" celetuk Uno, dan Diandra langsung melepaskan pelukannya. "Kamu sangat mencintaiku, Ya? Sampai tidak mau melepaskan aku?" Godanya.


"Aku--. Siapa yang mencintai kamu? Aku biasa saja." Tangan Diandra mendorong tubuh Uno yang ada di atasnya.


Uno yang kesal dengan ucapan Diandra malah tidak mau melepaskan Diandra. "Apa kamu bilang? Kamu biasa saja? Tidak mencintaiku? Apa itu jujur dari hati kamu?"


"Aku masih takut jika mencintaiku dengan tulus, kamu ternyata nanti menyakitiku?"


"Jadi kamu percaya denganku?"


"Percaya, hanya saja, masih ada keraguan." Diandra merasakan tubuh Uno yang sepertinya mulai beranjak dari tubub Diandra. "Uno." Tangan Diandra seketika melingkar di leher Uno. "Apa kamu kesal padaku?"


Uno terdiam dan tidak menjawab. "Aku mencintai kamu, Uno," ucap Diandra seketika.


Terlukis senyuman pada bibir Uno dan dia dengan cepat mengecupi bibir Diandra. "Kamu sekarang pandai mengusiliku, Diandra."


"Uno ... Uno ...!" Mereka berdua seketika menghentikan ciumannya karena mendengar ada suara yang memanggil nama Uno.


Kedua mata mereka saling berpandangan. "Itu kak Zia, Uno." Diandra mengedipkan kedua matanya beberapa kali.


Wah! Pengganggung datang.

__ADS_1


__ADS_2