Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Cucu Yang Tak Dianggap


__ADS_3

Kelli mengajak Kella masuk dan duduk bersama-sama di meja makan. Kedua mata Kella masih enggan lepas dari sosok gadis cantik di samping Mara.


"Kelli, dia siapa?" tanya Kella pada saudara kembarnya.


"Tante Mara, apa ada tamu yang datang ke sini? Kalau iya, aku bisa pergi ke ruang tamu saja, biar tante dan nenek bisa berbincang dengannya.


Mara memegang tangan Diandra. "Dia bukan tamu, Sayang. Dia keluarga kita juga."


Kella masih melihat ke arah Diandra, Kella mulai bisa menebak siapa gadis cantik yang ada di sana, dia ingat seseorang yang memiliki mata yang sama yang dimiliki oleh gadis itu.


"Kelli, dia putrinya Diandra?" tanyanya lirih sambil menahan sesuatu.


Saudara kembarnya itu memberikan senyum kecilnya. "Iya, kamu tidak salah, gadis itu putrinya Diandra dan Tommy. Cucu kamu."


Seketika kedua mata Kella membelalak, tangannya seolah mengepal sesuatu, bukan karena marah, tapi menahan perasaan yang sangat hebat di hatinya.


"Tante, kenalkan, ini Diandra." Mara langsung mengenalkan Diandra dengan Kella.


Kella langsung bangkit dari duduknya dan pergi dari ruang makan itu, Kelli yang bingung dengan cepat mengejar Kella. Di luar Kella menangis karena teringat kembali dengan putri kesayangannya dulu.


"Kella, apa kamu tidak mau bertemu dengan cucu kamu? Dia barusan datang dari Kanada, apa kamu tidak ingin melihatnya?"


"Aku belum siap Kelli. Saat melihatnya, semua kenangan akan Diandra kembali hadir, dan dia bernama Diandra?" Kella menatap nanar kw arah saudaranya.


"Iya, namanya Diandra. Dia juga secantik Diandra, bahkan memiliki hati sebaik Diandra. Hanya saja takdirnya tidak begitu baik, dia terlahir buta karena suatu hal."


"Apa?! Jadi putrinya Diandra tidak bisa melihat?"


"Iya, kamu belum tau sama sekali, Kan? Itu karena kamu tidak pernah mencari tau, dan kamu benar-benar sudah menutup orang lain untuk tidak membahas apa-apa tentang cucumu itu."

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan hal ini? Kenapa kamu dan Mara tidak pernah mengatakan jika kalian masih terus berhubungan dengan putri Diandra dan pria itu?"


"Untuk apa? Kamu kan memang dari dulu tidak mau dengar tentang mereka. Kella, cobalah kamu lupakan masa lalu yang sudah sangat lama berlalu itu. Diandra bahkan sudah tenang di sana, dan sekarang ada Diandra dalam wujud putrinya, Tommy juga sangat menyayangi putrinya itu, dia berjuang dan berusaha keras untuk membuat putrinya dengan mendiang Diandra bahagia. Bahkan Tommy sudah berusaha sekuat tenaganya untuk mencari donor mata bagi Diandra. Menantu kamu itu pria yang baik, dan kamu salah menilainya."


Kella hanya terdiam tidak menjawab apa yang dikatakan Kelli, dia mendengarkan semua kata-kata Kelli.


"Maaf, Kella, tapi aku belum siap bertemu dengan gadis itu. Aku belum siap. Saat melihatnya hatiku benar-benar tidak kuat, aku melihatnya seolah melihat Diandraku dan semua kenangan tentangnya kembali. Aku minta maaf, karena aku harus pergi."


"Kella!"


Dengan cepat Kella masuk ke dalam mobilnya dan keluar dari rumah megah milik Mara. Kelli berjalan kembali ke dalam rumah, dan duduk di meja makan bersama Diandra dan Mara.


"Ma, tante Kella--?" tanya Mara lirih, dan Kelli memberi isyarat jika kita tidak perlu membahas ini lagi.


"Tante, Nenek, itu tadi siapa? Kenapa langsung pergi lagi?" tanya Diandra polos.


"Iya, Diandra, tante Mara akan mengantar kamu, tante juga penasaran ingin melihat tempat di mana kamu mengajar."


Mereka melanjutkan makan siang mereka. Setelah makan siang, Mara mengantarkan Diandra ke tempat dia mengajar musik.


Di kampusnya Uno yang sedang sibuk di kejutakan oleh sebuah pelukan hangat dari belakangnya. "Uno, aku sangat merindukan kamu," ucapnya pelan.


Uno seketika membalikkan badannya dan melepaskan tangan yang melingkar pada pinggangnya. "Cerry? Ada apa kamu ke sini?" tanya Uno dengan wajah tidak suka.


"Uno, aku mohon dengarkan penjelasan aku, aku dan pria itu tidak ada hubungan apa-apa, aku baru saja mengenalnya dan entah kenapa aku bisa bersama dengannya di kamar itu."


"Cerry, aku sudah tidak mau membahas itu, lagian aku sudah tidak peduli, kamu bebas bersama dengan siapapun."


"Tapi aku sangat mencintai kamu, aku bisa melakukan apapun agar kamu bisa kembali denganku, Uno."

__ADS_1


"Maaf, Cer. Aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa sama kamu, jadi lupakan aku, kamu mulailah hubungan kamu dengan yang lainnya. Dan biarkan aku tenang."


"Apa kamu sudah memiliki kekasih? Apa gadis buta yang waktu itu yang menjadi kekaksih kamu? Uno aku masih jauh lebih baik darinya. Apa kamu mau mempermalukan diri kamu sendiri? Seorang Askano Hadju Atmaja yang snagat terpopuler di kampus memiliki kekasih buta."


Uno yang kesal dengan cepat mencengkeram dagu Cerry. "Jaga bicara kamu, Cer! Bagaimanapun dia lebih baik dari kamu, dan satu hal yang harus kamu ketahui. Aku merasakan apa itu cinta dengannya, aku sangat mencintai gadis itu, jadi lupakan semua keinginan kamu dan jangan mengganggu hidupku." Uno menekankan kata-katanya, kemudian melepaskan cengkramanyan.


Teman-teman Uno lainnya di sana kaget melihat sikap Uno yang seperti itu. Uno tidak biasanya bisa bersikap seperti itu. Bahkan Cerry pun sampai meneteskan air mata. Dia tau, jika lelaki yang sangat dicintainya itu serius dengan ucapannya.


"Uno, Aku mohon." Cerry berusaha memeluk Uno. Uno tidak meresponnya Cerry menangis sambil memeluk Uno.


"Lepaskan, Cer. Aku tidak mau berbuat kasar pada wanita."


Tiba-tiba tidak di sangka ada tangan yang menarik tangan Cerry sampai terlepas dari tubub Uno.


Plak ...


"Gadis tidak tau diri! Kenapa kamu masih saja mengejar-kejar adikku Uno? Dia sudah tidak menginginkan kamu lagi, sebaiknya kamu pergi, dan menjauh dari Uno."


"Kak Zia?" Uno agak kaget.


"Kenapa kamu selalu ikut campur? Kamu itu hanya kakak Uno, bukan kekasihnya!" bentak Cerry marah.


"Memangnya kenapa? Aku berhak melindungi adikku dari gadis tidak tau malu seperti kamu, kalian sudah putus, dan bahkan kamu sudah mengkhianati adikku. Apa kamu tidak cukup dengan satu laki-laki. Murahan!" Zia menghina Cerry dengan kata-kata yang memang sangat kasar.


"Jaga bicara kamu! Aku bukan gadis seperti itu. Aku dijebak oleh seseorang waktu itu. Dan, kenapa aku merasa kamu bersikap berlebihan pada Uno? Sikap kamu selama ini seolah kamu ingin memiliki Uno, bukan seperti kakak, melainkan seperti kekasih."


Kedua mata Zia membelakak. "Apa kamu bilang?" Tangan Zia sudah mulai terangkat ke atas, dia hendak menampar Cerry lagi, tapi dengan cepat di tahan oleh Uno.


Wakkaka perang-perang.

__ADS_1


__ADS_2