
Uno mencoba membuat Diandra tidak menghindarinya. Uno berusaha memegang tangan Diandara bahkan memeluknya dengan erat.
Uno mendapat tamparan yang keras tepat mengenai pipinya. “Pergi kamu, Uno! Jangan datang ke sini, aku tidak mau kamu mendapat masalah lagi. Lagipula sekarang aku tidak ingin dicap sebagai perebut calon suami seseorang.”
“Apa maksud kamu, aku bukan calon suami siapa-siapa. Aku mencintai kamu, Diandra dan aku hanya akan menikah dengan kamu.”
“Menikah? Kamu memang akan menikah, tapi tidak denganku Uno.Aku akan mencoba mengikhlaskan kamu, Uno.”
“Jangan bicara begitu, Diandra. Aku mencintai kamu dan apa yang terjadi denganku dan kak Zia benar-benar hal yang mencurigakan. Aku merasa ada sesuatu yang jangkaL.”
“Tidak ada yang janggal, Uno. Mungkin ini memang sudah takdir bahwa kamu dan Kak Zai berjodoh, buktinya dia ternyata bukan kakak kamu.”
“Tidak Diandra, ini semua bukan takdir, kamu adalah takdirku. Diandra, aku mohon percayalah dengankku.” Uno mengusap pipi Diandra lembut. Diandra seolah sulit melepaskan tangan Uno yang menyentuh pipinya.
“Uno, aku akan pergi dari sini setelah kalian menikah. Aku akan kembali ke Kanada dan memulai kembali kehidupan aku di sana. Aku akan hidup seperti biasanya, seolah-olah kita tidak pernah saling mengenal dan memiliki
hubungan.” Diandra menyuruh Uno keluar dari kamarnya karena dia ingin istirahat
mencoba menenangkan pikirannya.
Pagi itu Uno memutuskan untuk pergi ke toko milik Kak Dion, dia ingin memastikan jika memang benar kak Dion akan menikah dengan orang lain dan tidak pernah terjadi apa-apa antara kak Dion dan kakaknya Zia.
“Permisi, apa aku bisa bertemu dengan pemilik toko ini?” Uno bertanya pada seorang kasir wanita di sana.
“Maaf, maksud kamu Kak Dion?”
“Iya, Kak Dion. Apa dia ada di sini? Aku ingin bertemu dengannya.”
“Kak Dion sudah seminggu ini tidak ke sini, aku dengar dia sedang keluar kota untuk urusan bisnisnya yang baru di bangun di sana.”
“Keluar kota? Apa kamu tau di mana Kak Dion berada? Atau nomor ponsel yang bisa aku hubungi?” Uno mencerca beberapa pertanyaan pada pegawai yang ada di sana.
“Maaf, aku tidak tau dia berada di mana, dan nomor ponselnya masih tetap seperti dulu, mungkin sedang tidak ada sinyal di sana.”
“Apa kamu tau kapan kak Dion kembali?”
“Tidak tau.”
__ADS_1
“Aku bisa memberikan nomor teleponku sama kamu? Kabari aku jika nanti kak Dion sudah kembali dari luar kotanya karena aku ada perlu
penting sama kak Dion.”
“Iya, baiklah. Kamu catat saja nomor kamu dan nama kamu di sini.” Wanita itu memberikan note book pada Uno, dan Uno menuliskan nomor teleponya. Dia kemudian pergi dari sana.
Beberapa hari ini suasana rumah tampak kurang menyenangkan. Zia juga masih tetap mengurung diri di dalam kamarnya.Dia benar-benar ingin membuat keluarganya percaya jika dia sangat shock dengan kejadian yang dialami oleh dirinya.
Uno dan Diandra juga tidak bicara. Diandra meminta agar dirinya di beri waktu untuk sendiri dulu tanpa mengganggunya.
Arana dan Juna tengah mempersiapkan rencana pernikahan untuk Uno dan Zia. Pernikahan yang sederhana yang akan di hadiri oleh keluarga dekatnya saja.
"Tom, kapan kamu akan menikah dengan Mara?" tanya Uno.
"Aku akan menikah dengan Mara secepatnya, Juna. Mungkin aku juga akan menggelar pernikahan yang sederhana. Bagaimanapun juga aku dan Mara bukan anak muda lagi. Apalagi kami sudah memiliki putri."
"Semoga acara kamu lancar ya, Tom."
"Terima kasih."
"Yah, aku mau bicara sama ayah dan ayah Juna."
"Yah, mungkin minggu depan aku sudah tidak mengajar lagi karena masa mengajarku di sini sudah habis. Aku akan kembali ke Kanada, dan ada tawaran juga mengajar anak-anak bermain piano di Kanada."
"Kok mendadak sekali, Diandra?"
Sebernya Diandra yang membuat ini seperti ini. Diandra ingin segera meninggalkan rumah di mana dia memiliki kenangan manis dengan Uno. Sekaligus kenangan menyakitkan, bahkan sangat menyakitkan.
"Memang seperti itu ayah Juna. Aku menyetujuinya. Lagipula aku juga kangen berada di Kanada, di sana aku dibesarkan."
"Kalau bsgitu, ayah akan mengurus segala keperluannya. Bulan depan ayah juga harus kembali ke Kanada karena ada kerja sama dengan orang dari Inggris."
"Aku juga akan menyiapkan segala keperluaanku." Diandra permisi ke kamarnya.
"Diandra, tunggu! Ibu Arana akan membantu kamu berkemas-kemas."
Diandra mengangguk dan pergi mengikuti Diandra. Dua wanita cantik itu duduk di karpet bawah. "Diandra, Ibu tau ini sangat menyakitkan buat kamu, tapi Uno harus bertanggung jawab dengan apa yang dia lakukan."
__ADS_1
"Aku tau, Bu. Aku juga harus menerima semua ini. Mungkin Uno memang bukan untukku."
Arana seketika memeluk Diandra dengan erat, bahkan air matanya meleleh perlahan. "Diandra, kamu memang sangat baik. Hatimu benar-benar besar menerima semua ini."
"Aku akan pergi ke Kanada setelah acara pernikahan Uno selesai. Jika aku tidak bisa memilikinya, setidaknya aku bisa melihat dia bahagia."
Pagi itu semua berkumpul di meja makan, termasuk Zia. Pagi ini karena di bujuk oleh Arana, dia mau turun dan makan bersama.
Tidak lama sebuah mobil berhenti di depan pintu utama mansion. Devon dan Binna keluar dari dalam mobilnya dan berjalan masuk dengan riangnya.
"Selamat pagi semua!" serunya bahagia.
"Binna, kamu sudah pulang, Nak?" Arana berdiri dan memeluk putrinya erat. Mereka saling berpelukan, hanya saja Binna melihat hal yang aneh,
"Bu, ada apa sih ini? Kenapa seolah aku datang tidak tampak bahagia? Apa aku salah datang hari ini?" celetuk Binna.
"Bukan begitu, Sayang. Nanti ibu akan ceritakan sama kamu."
"Cerita apa?"
"Binna, apa selama kamu berbulan madu kamu lupa sama ayah kamu?"
"Ayah! Siapa yang lupa dengan pria paling tampan yang hadir pertama kali dalam hidupku?" Binna memeluk ayahnya yang sedang duduk.
"Binna, bagaimana bulan madu kamu?" tanya Diandra.
"Nanti aku ceritakan. Pokoknya malam ini aku mau menginap di sini. Nanti Kak Devon biar tidur di apartemen sendirian."
"Yakin? Yakin merelakan aku di gigitin nyamuk?" ledek suami Binna.
Binna hanya menjawab dengan memanyunkan bibirnya. "Oh ya! Aku membawa oleh-oleh buat kalian ssmua.
Binna mengambil dua buah kotak berukuran sedang dan memberika sebuah parfum yang mahal. "Ini untuk para pria tampan di sini. Jangan lupa di pakai, biar kekasih Ayah tambah cinta sama Ayah."
"Kekasih? Jadi ayah kamu punya kekasih, Binna ?" tanya Arana sambil melihat pada Juna.
"Dasar gadis Nakal! Siapa juga yang ingin memiliki kekasih. Ibu kamu sudah segalanya bagi ayah."
__ADS_1
"Hihihi! Maksud aku kekasih Ayah ya Ibu Itu."