
Uno akhirnya terpaksa harus menunggu kakaknya sampai sadar dan memastikan keadaanya baik-baik saja.
Tidak lama Zia mengerjapkan kedua matanya dan dia melihat Uno ada di depannya berdiri di depan jendela memandang keluar jendela.
"Uno," paggil Zia lirih.
Uno menoleh dan mendekat ke arah kakaknya. "Bagaimana keadaan Kak Zia? Apa sudah lebih baik?
"Aku tidak apa-apa. Ibu apa sudah pulang?"
"Ibu sedang ada di dapur untuk membuatkan Kakak makan siang."
"Makan siang? Tapi aku sedang tidak ingin makan. Uno, maafkan kakak karena malah tambah membuat kamu menderita dengan kehadiran bayi ini."
"Jangan menyalahkan bayi itu, Kak. Bayi itu tidak bersalah."
"Uno, kakak mau berpisah dengan kamu dan biarkan kakak sendiri yang akan membesarkan dan merawat bayi ini. Kamu bisa kembali bersama Diandra."
Uno tersenyum miris. "Diandra juga tidak akan menerimaku jika tau aku meninggalkan anakku untuk bersamanya. Bahkan ayah dan ibu nanti akan malah membenciku."
Zia bangkit dari tidurnya, dia berdiri menghampiri Uno. "Jujur saja, saat mengetahui jika aku hamil, aku sangat bahagia sekali, Uno. Aku seolah lupa tentang rencana kita untuk berpisah. Sekarang yang aku inginkan adalah menjaga dan merawat bayi ini."
"Mungkin memang benar apa kata Ibu. Aku harus bersikap dewasa karena aku akan menjadi seorang ayah."
Zia tersenyum dan mendekat pada Uno. Zia memeluk Uno. "Kita akan memiliki seorang bayi yang lucu, Uno."
Arana yang masuk ke dalam kamar agak kaget melihat mereka berpelukan seperti itu. Apa Uno sudah mau menerima semua ini?
Mereka bertiga makan siang bersama di rumah Uno. Zia yang merasakan rasanya awal kehamilan tampak tidak bisa makan dengan nyaman, dia beberapa kali muntah dan badannya lemas.
"Nanti tiap bulan kamu harus memeriksakan kandungan kamu, Zia. Muntah dan mual selama kehamilan adalah hal yang wajar. Uno, kamu juga harus sabar dalam menghadapi kehamilan Zia."
Uno hanya diam saja mendengar semua ucapan ibunya.
"Bu, aku tidak enak makan, aku mau--."
Zia berlari ke dalam toilet dan kembali mengalami muntah-muntan lagi. "Sampai kapan aku harus mengalami muntah-muntah dan badan tidak enak begini? Aku benar-benar tidak menyukai hal ini," umpatnya kesal.
"Kak Zia, apa Kakak di dalam baik-baik saja?" tanya Uno dari luar pintu.
__ADS_1
Zia membuka pintu dan pura-pura wajahnya terlihat sedih. "Aku merasa tidak enak badan, Uno. Aku mau istirahat saja di kamar, apa kamu bisa mengantarkan kakak ke kamar?"
"Baiklah, aku akan antarkan Kak Zia ke kamar." Uno menggendong Zia dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Arana yang melihatnya tampak tersenyum.
Please ... jangan tampol author, author baik, manis dan suka bikin orang esmoni. Hihihi!
Siang itu di kampus saat jam pulang tiba, Binna dan Lila keluar dari dalam kelasnya.
"Binna, lihat itu!" Lila menunjuk ke arah bawah. Kelas mereka berdua itu ada di lantai dua.
"Lukas dan Kak Devon?" Binna tampak terkejut melihat suaminya dan Lukas sedang berbicara berdua.
"Mereka sedang berbicara apa? Binna, secepatnya kita turun. Ayo!" Lila menggandeng. tangan Binna dan mereka segera turun mendekat ke arah suaminya.
"Kak Devon, Lukas, kalian sedang bicara apa?"
"Binna, apa benar yang dikatakan oleh Lukas?"
"Di-dikatakan oleh Lukas?" Binna tampak bingung. Binna melihat pada Lila, kemudian pada Kak Devon.
"Kamu sebenarnya menunggu dia datang ke rumah kamu, dan jika Lukas datang waktu itu kamu dan dia yang akan menikah."
"Apa kamu masih mencintai pria ini?"
"Kak Devon, aku sudah mengatakan pada Lukas jika aku sudah melupakannya dan sekarang aku hanya mencintai Kak Devon." Binna memeluk suaminya. Lukas yang melihatnya tampak tersenyum kecil.
"Maaf, ya Devon. Jujur saja aku masih shock mengetahui gadis yang aku sangat sayangi dan cintai telah menikah dengan orang lain. Aku sebetulnya ingin mengenalkan Binna dengan mamaku jika nanti mamaku sudah sembuh."
"Lukas, aku kan sudah bilang jika kita bisa tetap menjadi teman. Aku juga senang jika kamu dan suamiku bisa mengenal baik, dari situ kita tidak akan terjadi salah paham."
"Devon, aku minta maaf jika aku waktu itu aku sudah membuat kamu dan Binna terlibat dalam perselisihan."
"Tidak apa-apa karena hal itu pula aku dan Binna sekarang menjadi semakin dewasa, kita lebih mengenal sangat baik satu sama lain."
"Lukas, kalau kamu butuh teman untuk berbagi, aku mau kok menjadi teman baik kamu seperti kamu dan Binna dulu," celetuk Lila.
"Lila!" Binna sampaia melotot kaget.
"Tidak apa-apa, kan Lukas? Lagian kita dulu juga mengenal dan satu kelas."
__ADS_1
"Terima kasih, Lil. Nanti aku pikirkan, kalau begitu aku permisi dulu. Senang berkenalan dengan kamu, Devon. Jaga Binna baik-baik atau aku memiliki kesempatan lagi untuk mendekatinya." Setelah mengatakan hal itu, Lukas berjalan dengan coolnya menuju ke parkiran mobilnya.
"Dia sepertinya masih berharap mendapatkan kamu, Sayang, tapi hal itu hanya akan menjadi cita-citanya yang tidak akan pernah tercapai."
"Dia hanya bercanda Kak Devon."
"Iya. Kak Devon tenang saja, nanti aku yang membuat Lukas jatuh hati dengan kebaikan hatiku," ucap Lila membanggakan dirinya.
"Binna, kenapa kamu tidak cerita sama aku kalau Lukas kuliah juga di sini?" tanya Kak Devon serius.
"Dari kemarin aku mau menceritakan hal ini. Saat Lukas masuk ke sini menjadi mahasiswa baru. Namun, Kak Devon malah bilang nanti saja di saat kita mau tidur. Eh! Aku sudah mencerocos dari semalam, Kak Devon malah tidur."
"Maaf, kemarin aku benar-benar capek. Aku kalau tidak capek pasti kemarin malam kita buat Devon kecil."
"Kak Devon!" Binna langsung menutup mulut suaminya yang asal nyeletuk. "Ada Lila. Aku malu."
"Pulang, ah! Dari pada melihat hal indah, tapi bisa bikin sakit hati si jomlo seperti aku." Lila berjalan pergi dari sana.
Tidak lama Binna mendapat telepon dari ibunya. Arana mengajak Binna dan suaminya makan malam di rumah mereka.
"Binna, nanti jangan lupa ke rumah, ada berita bahagia yang ingin ibu dan ayah sampaikan buat kalian berdua. Ibu juga mengundang makan malam mama Tia kamu."
"Berita bahagia apa, Bu?"
"Sebentar lagi di mansion ini akan ada suara tangis dan tawa dari bayi kecil."
"Apa? Ibu hamil lagi? Aku akan punya adik? Ibu serius?" Binna tampak tidak percaya.
"Hem ... kenapa kamu mengira ibu hamil lagi?"
"Lalu siapa? Aku belum hamil."
"Siapa lagi kalau bukan Kakak kamu Zia."
"Apa? Kak Zia hamil? Ibu serius?" Binna sangat tidak percaya dengan semua ini. "Kok bisa hamil secepat itu, Bu?"
"Kamu itu! Tentu saja bisa, mereka kan menikah sudah satu bulan lebih dan sekarang kakak kamu hamil."
"Kak Zia benar-benar ingun membuat Kak Uno menderita," celetuknya.
__ADS_1
"Binna!"