Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Rencana


__ADS_3

Binna sedang duduk di pojokan melihat teman-temannya latihan menari, tidak lama salah satu teman tarinya menghampiri Sabinna.


"Kamu tidak pulang, Binna? Kenapa masih di sini, kamu kan sudah selesai." Gadis itu mengusap keringatnya dan duduk di samping Binna.


"Nanti saja, aku masih ingin di sini."


"Kamu sedang menunggu pacar kamu itu, Ya?" Lengannya menyenggol lengan Sabinna pelan.


"Pacar?" Kedua alis Sabinna berkerut.


"Jangan sok lupa ingatan, bukannya kamu punya pacar yang waktu itu memakai motornya."


Binna baru sadar yang di maksud temannya itu adalah Kak Devon. "Dia bukan pacar aku." Muka Binna tampak kesal.


"Bukan pacar kamu? Kamu serius? Apa kalian baru putus?"


"Pacaran saja belum, bagaimana bisa putus?" Binna melengos pergi.

__ADS_1


Temannya itu mendekat ke arah Sabinna. "Jadi dia bukan pacar kamu. Lalu dia siapa kamu?" tanyanya dengan muka senang.


Binna melihat mukq bahagia temannya, dia jadi bingung menjelaskan siapa kak Devon itu. " Em ... dia itu?"


"Dia siapa kamu? Apa teman kamu?" Desak temannya.


"Kamu kenapa sangat tertarik seperti itu?" Mata Sabinna menyipit.


Gadis dengan rambut ekor kudanya itu tersenyum lebar. "Kalau dia bukan pacar kamu, aku mau dunk di kenalkan sama dia, dia tampan sekali, Binna. Dan aku suka melihat muka dinginnya itu, bisa melelehkan hatiku. Namanya siapa? Kenalkan aku, Ya?" Desaknya.


Binna membulatkan matanya mendengar apa yang di katakan oleh temannya. Bahkan mulutnya sampai menganga. "Kenalkan ya, Binna? Kebetulan aku tidak punya pacar untuk di bawa ke acara prom night besok lusa, aku mau mengajaknya untuk ke acara itu, pasti anak-anak lainnya akan terkejut melihat si muka dingin itu." Gadis itu seolah sedang membayangkan sesuatu.


"Sandra, aku akan memperkenalkan kamu sama dia, tapi tidak tau dia bisa kamu ajak kw acara prom night apa tidak, soalnya dia sekarang tidak berada di sini, dia ada di Belanda karena ada urusan."


"Oh begitu, iya deh tidak apa-apa, tapi kalau dia sudah pulang nanti kamu harus kenalkan dia sama aku?"


Binna mengangguk. 'Biarkan saja, kak Devon dengan Snadra, dan dia tidak akan mengganggu hidupku, aku bisa tetap menunggu Lukas, tapi apa ini nanti tidak akan jadi masalah, Ya? Ah! Tidak akan, kalau kak Devon akhirnya menyukai Sandra, dia sendiri yang akan memutuskan hubungan pertunangannya denganku.' Binna tersenyum kecil.

__ADS_1


Di sebuah gedung yang sangat kokoh dan besar itu, Juna sedang berada di ruangannya bersama dengan Tommy. Juna memeberitahu Tommy, jika dia akan bekerja sama dengan Fabio.


"Kamu serius akan bekerja sama dengan pria itu? Apa Arana tau?" Tommy memandang Juna penasaran.


"Arana belum aku beritahu, aku masih mencari waktu yang tepat. Aku mau bekerja sama karena aku melihat Fabio membutuhkan kerja sama ini, dan dia sepertinya sudah berubah."


"Apa kamu yakin? Dia pria brengsek, Juna."


"Aku sudah melupakan semua yang pernah Fabio lakukan, Tom. Mungkin dengan begini akan lebih baik."


Tommy berpikir. "Benar juga sih, Juna. Lagian itu sudah masalah lalu, dan kita sekarang semua sudah menjadi orang tua. Apa dia juga sudah menikah?"


Juna menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau. Tapi yang aku lihat dari datanya kemarin, dia belum bekeluarga, aku tidak kaget, dia kan pria yang tidak suka berkomitmen, suka bersenang-senang."


"Berarti dia belum berubah brengseknya, kamu hati-hati saja bekerja sama dengan dia."


"Kamu lupa siapa aku, Tom?"

__ADS_1


"Iya, aku percaya sama kemampuan bisnis kamu, Juna. Lalu apa rencana kamu tentang aku dan Mara?" Lirik Tommy.


__ADS_2