
Binna menyipitkan kedua matanya melihat ke arah kak Devon. Di otaknya mulai berpikiran buruk tentang pria di depannya ini. Tidak hanya itu, diq juga sekarang takut, karena sekarang mereka hanya berdua di apartemen milik Kak Devon.
"Ternyata pikiran aku tentang Kakak benar, Kak Devon bukan pria baik, melakukan sebelum menikah itukan dosa, Kak."
"Aku tau, tapi kamu kan calon istriku, dan kita hanya berdua di sini." Perlahan Kak Devon mulai mendekatkan lagi langkahnya ke arah Sabinna.
"Kak Devon mau apa?" Binna agak takut ini, takut jika Kak Devon akan memaksanya kali ini. "Jangan coba-coba mendekat, atau aku akan memukul Kak Devon dengan --?" Binna bingung menoleh ke sana ke mari mencari benda yang sekiranya bisa untuk memukul.
Namun, sebelum itu terjadi, dengan cepat Kak Devon menarik tangan Sabinna dan mendekapnya. "Kakak Devon mau apa? Jangan berbuat macam-macam." Binna ketakutan sampai menutup kedua matanya, dan mukanya tampak ingin nangis.
Devon yang melihat expresi muka Sabinna tersenyum kecil. Tidak lama dia mendaratkan sebuah kecupan kecil di hidung Sabinna. "Aku tidak akan melakukan hal itu dengan gadis yang belum menjadi milikku seutuhnya."
Binna perlahan-lahan membuka kedua matanya, dan terlihat wajah Kak Devon dengan senyum khasnya. "Maksud, Kakak?"
"Nanti setelah kamu menjadi istriku, kita akan melakukannya. Sepuas kamu."
Seketika kedua alis Sabinna mengkerut aneh. "Ya sudah! Ayo kita pergi mencari kado untuk Lila." Kak Devon menggandeng tangan Sabinna. "Kamu sudah lebih baik, kan?" tanyanya lagi, dan Sabinna mengangguk perlahan.
Di kampus Uno, mereka berdua sedang duduk berhadapan. Siapa lagi, kalau bukan Uno dan Zia. Zia sedang menemani Uno untuk istirahat sejenak setelah dari tadi memasang dekorasi untuk acara bazzar besok lusa.
"Kamu capek, Ya?" Zia mengelap dahi Uno yang berkeringat dengan tissu.
"Aku tidak apa-apa, Kak," ucap Uno malas.
"Kamu kenapa? Kalau kamu kecapekan, kita nanti pulang saja, tidak jadi jalan-jalannya."
Sebenarnya bukan itu yang di pikirkan Uno sekarang, dia ingin menemui kekasihnya Diandra di rumah tante Mara, tapi ini si kakaknya seolah tidak mau melepaskan dirinya. Uno masih mencari cara agar bisa terlepas dari kakaknya.
"Kak, apa Kak Zia mau aku antar pulang? Mungkin setelah ini aku dan temanku akan pergi mencari sponsor lagi untuk acara bazzar ini, dan tidak lucu jika aku mengajak Kak Zia ikut."
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau aku ikut? Aku juga bisa membantu kamu mencari sponsor untuk acara bazzar amal ini. Oh ya! Kenapa kamu tidak coba bicara sama ayah saja? Siapa tau ayah mau menjadi donatur juga dalam acara ini."
"Sudah, dan ayah sudah setuju, tapi aku harus mencari lagi, supaya hasil yang kita dapat untuk membantu orang lain lebih banyak."
"Hai, semua!" tiba-tiba ada suara seorang pria menghampiri mereka di sana.
"Kak Dion, apa kabar." Uno berdiri dari tempatnya dan menjabat tangan Kak Dion.
"Uno, aku baik. Hai, Zia." Dion mengulurkan tangan dan Zia membalas uluran tangan Dion.
"Kamu ada urusan apa ke sini?"
"Aku sedang tidak sibuk di tokoku, jadi aku mau mampir ke sini dan melihat persiapan acara bazzar amal di sini. Sepertinya acaranya sangat megah." Dion menggedarkan pandangannya melihat sekeliling kampus yang sudah terpasang dekorasi yang sangat apik.
"Siapa dulu ketuanya! Oh ya, Kak Zia. Kak Dion ini salah satu donatur juga di acara ini, kebetulan toko aksesorisnya dekat dengan kampus, sekalian saja aku ajak sebagai donatur, dan ternyata Kak Dion mau, bahkan sangat mendukung acara ini."
"Wah! Aku tidak menyangka, usaha kecil kamu yang baru kamu buka itu, sudah membuat kamu mau menjadi donatur."
"Tentu saja aku mau, kamu atur saja. Oh ya, Zia! Apa kamu di sini juga sebagai salah satu panitia acara ini?"
"Aku bukan panitia acara ini, aku hanya ingin menemani adikku-- Uno. Dan juga tadi aku ada janji sebentar dengan dosen pembimbingku untuk membahas skripsiku."
"Apa kamu mengalami kesulitan menyelesaikan skripsi kamu? Kalau iya, aku bisa membantu, kebetulan skripsi tahun lalu yang aku buat, termasuk dalam skripsi terbaik, hanya saja aku mau melanjutkan S2 ke luar negeri, aku masih ragu, aku masih tidak ingin meninggalkan Indonesia yang sangat indah ini."
Uno melihat tatapan Dion pada kakaknya tampak berbeda, sepertinya kak Dion ini menyukai kakaknya.
"Wah! Kebetulan sekali. Kalau begitu kalian berdua bisa mengobrol di sini. Aku masih ada urusan penting." Uno menyambar tas dan kunci mobilnya cepat.
"Uno kamu mau ke mana?" teriak Zia.
__ADS_1
"Urusan yang tadi, Kak. Kak Dion tolong jaga Kakakku ya ...!" balas Uno sambil berlari menuju parkiran mobilnya yang tidak jauh dari kantin di kampusnya.
Uno akhirnya bisa terlepas dari kakakknya, dia segera memacu mobilnya menuju rumah Mara di mana Diandra berada.j
Perjalanan yang agak jauh di tempuh oleh Uno. Tidak lama dia sampai di depan rumah Mara. Seorang pelayan memberitahu pada Mara jika ada yang datang, Mara dengan mamanya keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Selamat sore, Tante."
"Kamu siapa ya?"
"Aku Uno, Tante Mara. Anaknya Harajuna dan Arana."
"Oh Tuhan! Maaf aku sampai tidak mengenali kamu, habisnya kamu tambah berubah, kenapa kamu semakin tampan saja." Mara memeluk Uno dengan hangat dan menyuruhnya masuk.
Mara bertanya kenapa Uno ada di rumahnya? Dan Uno mengatakan jika tadi dia sedang ada urusan di dekat sini, kemudian dia ingat dan mau mampir sebentar. Fix, Uno bohong.
"Lama tidak bertemu kalian, kalian semakin besar saja, Diandra juga, nenek sampai pangling melihat cucu nenek yang tampak cantik itu," jelas nenek Kelli.
"Nenek juga, makin cantik walaupun usianya bertambah," puji Uno.
"Em ... kamu ternyata seorang perayu yang ulung, tapi nenek suka, Uno."
"Oh ya, Diandra mana, Tante? Apa dia masih di sini?"
"Dia ada di lantai atas, sepertinya dia sedang berenang di atas, kalau mau kamu naik saja ke lantai atas. Kebetulan tante dan mama tante mau melanjutkan memasak makanan kesukaan Diandra, nanti kamu ikut juga makan di sini, Ya?"
"Terima kasih, Tante. Apa boleh saja menemui Diandra?"
"Tentu saja, kamu naik saja ke lantai paling atas, di sana dia sedang berenang."
__ADS_1
Uno segera pergi ke lantai atas, dia tidak sabar ingin berjumpa dengan kekasihnya.
Besok ya ....