
Binna dan Kak Devon berganti baju dulu karena ingin jalan-jalan melihat pemandangan laut.
"Ayo, Kak!" Binna sudah bersiap dan dia tampak bahagia.
"Kamu mau keluar memakai baju itu?" Kak Devon melihat Binna dari atas sampai bawah.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kapan kamu memasukkan baju itu?"
"Aku kapan hari membeli dengan Lila waktu aku kesal dengan Kakak. Apa ada yang salah dengan bajuku?"
"Ganti baju kamu. Aku tidak suka kamu memakai baju itu," ucap Kak Devon tegas.
"Memangnya penampilan aku kenapa?" Binna melihat baju Sabrina bahan sweter yang menerawang memperlihatkan kaos singlet birunya dan dia memakai celana katun super pendek berwarna putih.
"Ganti, Binna."
"Kenapa harus ganti?" tanya Binna sebal.
"Aku tidak mau kamu memakai baju terlihat tubuh kamu begitu. Apa itu?" Kak Devon matanya melihat ke arah paha Sabinna yang terexpose indah.
"Inikan kita mau bulan madu. Lagian kita akan jalan-jalan melihat pemandangan laut, baju ini cocok sekali."
"Ganti baju." Kak Devon berjalan menuju koper baju dan mencari baju untuk Sabinna.
"Kak, ini sudah cocok. Lagian hanya Kak Devon yang mengenalku, aku berpenampilan seperti ini karena untuk menyenangkan Kak Devon juga. Apa Kak Devon tidak menyukaiku yang berpenampilan sexy begini?"
"Kalau di dalam kamar dan hanya aku yang melihat pasti aku akan senang melihatnya, tapo kalau dilihat banyak orang, aku tidak suka."
"Lalu aku beli baju ini buat apa?"
"Buat di dalam kamar saat bersamaku saja." Kak Devon mengambilkan baju dress bermotif bunga-bunga kecil panjang selutut, dengan kerutan pada pinggang, dan lengan u can see dengan dada tertutup.
"Pakai ini?"
"Iya, ini lebih cantik dan tidak memperlihatkan paha kamu itu."
"Iya, aku pakai." Binna menyaut baju itu dan membawanya ke kamar mandi. Setelah berganti baju mereka keluar dan berjalan berdua menuju pantai yang sangat indah.
"Kamu menyukainya, Binna?"
"Iya, indah sekali. Kak, aku boleh mendekat ke arah air laut itu?"
"Iya, tapi jangan ke tengah ya? Aku akan memesankan tempat duduk dan memesan minuman untuk kita."
Kak Devon pergi memesan minuman untuk Sabinna, Sabinna asik bermain air laut.
Bruk ...
__ADS_1
"Aduh! Kamu kenapa?" Binna ditabrak oleh seseorang cowok bule yang lumayan tampan, dia memiliki mata biru.
"Maaf! Tadi kakiku terkena kerikil sepertiny, dia memperlihatkan kakinya yang memang benar mengeluarkan darah
"Eh iya, kaki kamu mengeluarkan darah." Binna tampka panik dan membantu pria itu. Pria itu dan Binna duduk di atas pasir pantai.
"Sakit sekali!"
"Kamu sendirian di sini?"
"A-aku sendirian. Aku sedang ingin menenangkan diri di sini karena suatu hal," ucapny pelan.
Binna melihat wajah pria itu tampak murung. "Apa kamu sedang ada masalah?"
"Masalah? Mungkin lebih tepatnya, takdir yang buruk untukku." Pria itu tersenyum miris.
"Masalah kamu berat sepertinya."
"Apa aku terlihat begitu buruk jika aku memiliki penyakit yang mematikan?"
"Maksud kamu apa?"
"Aku sakit, dan karena itu calon istriku meninggalkan aku. Apa salahku jika aku menderita sakit ini? Aku juga tidak menginginkan sakit ini."
"Memangnya kamu sakit apa?"
"Kanker darah stadium 2, aku juga tidak minta diberi sakit ini."
"Aku sebenarnya lama tinggal di Indonesia, cuma karena masalah pembatalan pernikahanku itu aku pergi ke sini."
"Pantas saja, jadi kamu asli orang indonesia?"
"Iya, namaku Ken Adrano. Kamu siapa?"
"Namaku Sabinna, dan aku ke sini bersama dengan suamiku."
"Suami? Jadi kamu sudah menikah?"
"Iya, aku barusan menikah dan kita di sini sedang berbulan madu."
"Oh selamat kalau begitu, aku tidak menyangka jika kamu yang usianya pasti masih muda sudah menikah. Kalian di jodohkan atau telah terjadi hal yang di luar batas?"
"Aku bukan seperti itu."
"Maaf, bukan maksdu aku menganggap kamu begitu, hanya saja usia kamu masih sangat muda, tapi sudah menikah. Kebanyakan karena dua hal itu."
"Aku memang mencintai suamiku, dia seorang pria yang sudah baik dan dia juga sangat mencintaiku."
"Wah! Kalian pasti sangat bahagia."
__ADS_1
"Oh ya, aku akan carikan plester untuk membalut luka kamu." Binna beranjak dari pasir, dia membersihkan sisa pasir yang menempel pada tubuhnya."
"Binna tidak apa-apa, ini tidak terlalu parah. Maaf, aku baru kenal malah menyusahkan kamu."
Dari kejauhan Kak Devon melihat Binna sedang berbicara dengan seorang pria. Kak Devon langsung mengambil gelas minumannya dan meletakkan di atas meja yang dia pesan, kak Devon menghampiri Binna.
"Binna, kamu sedang bicara sama siapa?"
"Kak Devon, ini Ken, dia tadi kakinya berdarah karena terkena batu kerikil."
"Lalu?
"Lalu? Aku mau menolongnya. Aku mau mencarikan plester untuk dia."
"Maaf, apa kamu suaminya Binna?" tanya Ken.
"Iya, aku suaminya Binna. Namaku Devon."
"Senang berkenalan dengan kalian." Ken menjulurkan tangannya meminta berjabatan tangan.
Kak Devon diam saja, Sabinna menarik tangan suaminya. "Kak, Kakak kok diem saja diajak berkenalan, dia baik kok, dia juga kasihan, dia di sini sendirian," bisik Binna pada suaminya.
"Terus aku di suruh berjingkrak senang diajak dia berkenalan?"
Kak Devon memanggil seorang pelayan di sana, dan berbicara sesuatu pada pelayan itu. Pelayan pria itu mengangguk dan pergi dari sana.
"Maaf ya, Ken. Akan ada pelayan yang menolong kamu karena aku masih ada urusan penting dengan istriku."
Binna tampak bingung melihat ke arah suaminya, ini suaminya kenapa begini? Binna di gandeng oleh suaminya dan mereka pergi dari sana.
Pria itu hanya tersenyum kecut. Binna tampak bingung di bawa pergi oleh suaminya.
"Kak Devon ini kenapa sih?"
"Memangnya aku salah? Kamu itu harus hati-hati sama orang yang baru kamu kenal. Kamu tidak ingat dulu beberapa kali hampir celaka karena orang asing?"
"Itu kan aku memang tau dia dari awal memang tidak sopan, tapi dia baik, Kak. Dia tadi cerita jika dia di sini sendirian karena dia di tinggalkan calon istrinya karena penyakit yang di deritanya."
"Penyakit? Penyakit apa memangnya?"
"Dia sakit kanker darah stadium 2, dan saat calon istrinya mengetahui hal itu, calon istrinya meninggalkannya, dia tidak mau menikah. Ya mungkin mengira hidupnya tidak akan lama lagi."
"Kamu percaya dengan semua ceritanya itu?
"Memangnya kenapa? Kelihatannya dia serius dengan ucapannya, apa Kakak tidak kasihan?"
"Kasihan, tapi aku tidak suka jika melihat istriku bersamanya, lagipula mana ada orang yang baru kenal langsung bercerita semua tentang kehidupan pribadinya?"
"Mungkin dia butuh seseorang untuk diajak berbagi."
__ADS_1
"Kalau dia ingin bercerita, lebih baik dia ke Pisikolog. Sudah! Jangan pikirkan dia terus, aku malas mendengarnya."