
Zia menyelonong masuk begitu saja, Zia agak terkejut saat melihat Diandra ada di sana. Diandra sudah duduk di atas matras dengan kaki bersila, seolah dia sedang bertapa. Dan Uno. Dia sedang duduk di atas bangku hitam dengan membawa dumbbell di kedua tangannya. Dumbbell sejeni barbel yang berukuran kecil.
"Diandra, kamu ada di sini?" Zia masuk dan berdiri di samping Uno.
"Tadi Uno yang mengajakku untuk berolahraga bersama. Aku sebenarnya tiap pagi suka yoga di dalam kamar, Kak."
"Kakak sendiri mau ngegym juga?" Uno melihat Zia yang sudah dengan pakaian fitnesnya yang melekat pas di tubuhnya.
"Iya, kakak tadi mencari kamu di kamar, tapi kamu tidak ada. Kakak sudah lama tidak ngegym bareng kamu, mumpung nanti kakak kuliahnya agak santai, jadi kakak mau ke ngegym sama kamu."
"Ya sudah, Kakak mulai saja. Aku mau mengajak Diandra ke tempat treadmill. Dia baru saja mengenal alat-alat ini, jadi aku mau membantunya supaya dia bisa berolahraga dengan alat gym yang agak mudah."
Uno dengan santainya menggandeng tangan Diandra dan mengajaknya ke bagian alat untuk treadmill.
Zia meremas kesal handuk kecil yang dia bawah. "Gadis buta itu, sepertinya dia seolah ingin menarik perhatian Uno." Zia tersenyum miring. "Kamu tidak akan bisa. Uno tidak akan tertarik dengan gadis buta seperti kamu."
__ADS_1
Zia akhirnya menuju ke alat gym, yaitu exercise bike. Sepeda portabel yang sangat di sukai setiap wanita di tempat gym. Orang kaya, alat gymnya lengkap.
Zia mengayuhkan kakinya perlahan-lahan sambil melihat Uno yang sedang bersama dengan Diandra. "Semakin melihat mereka, kenapa aku sangat kesal. Zia, Uno hanya baik saja sama Diandra, dia tidak akan menyukai gadis itu, walaupun waktu kecil dulu, Uno sangat mengagumi Diandra, tapi itu dulu. Dan kamu tau Uno, serta tipe gadis yang di sukainya," Zia berdialog sendiri menyakinkan hatinya bahwa adiknya Uno dan Diandra hanya berteman biasa.
"Auw! Kakiku!" Rintih Zia tiba-tiba. "Uno ...! Tolong kakak!" teriaknya.
Uno yang mendengar itu, dan melihat Kakaknya di tempat exercise bike kesakitan memegangi kakinya, langsung menghampirinya, dan meninggalkan Diandra yang masih latihan.
"Kakak kenapa?" Uni membantu Zia turun dari exercise bikenya. Uno membawa kakaknya duduk di bangku panjang berwarna hitam.
"Apa kakak tadi tidak melakukan pemanasan dulu? Kenapa kakak langsung menggunakan alat itu?"
"Kakak terlalu bersemangat jadi kakak ingin langsung latihan."
"Ya sudah, aku akan ambilkan salep untuk menggosok kaki Kak Zia." Uno berdiri dan mengambil salep yang sudah di sediakan di sana. Uno menggosokkan perlahan pada kaki Kak Zia. Zia tampak senang melihat perhatian Uno padanya.
__ADS_1
"Uno ... Uno!" Tidak lama terdengar suara Diandra yang ketakutan.
Uno dan Zia melihat ke arah Diandra. "Oh Tuhan!" Uno meletakkan salep yang di pegangnya sementara dan segera berlari menuju tempat Diandra.
"Uno ...!" Teriak Diandra. Dan dengab cepat Uno menangkap tubuh Diandra yang hampir terpental, Uno memeluk Diandra dengan erat.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Uno cemas.
"Aku tidak apa-apa. Maaf, tadi aku mungkin tidak sengaja menekan tombol sehingga alat itu jalannya sangat cepat, aku mau menghentikan, tapi tidak tau." Diandra masih melingkarkan kedua tangannya pada leher Uno. Muka Diandra tampak ketakutan.
"Seharusnya aku tidak menyuruh kamu menggunakan alat itu." Uno mematikan alat itu dan menendangnya dengan marah. "Uno, bodoh!" umpatnya kesal.
"Uno, sudah! Aku tidak apa-apa, dan bukan salah kamu."
Zia sekali lagi menatap mereka dengan begitu kesalnya. "Gadis buta itu memang sukanya cari perhatian dan menyusahkan, sudah tau tidak bisa melihat, kenapa malah mau diajak Uno ke sini."
__ADS_1