Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Perasaan Zia


__ADS_3

Diandra dengan cepat masuk ke dalam kamarnya dan bersandar pada daun pintu kamarnya. "Dasar Uno menyebalkan, bisa-bisanya dia membohongiku seperti itu! Dan tadi dia sudah melihat tubuhku!" Gerutunya kesal.


Tok ... Tok ...


Uno membuka pintu dan dia melihat kakaknya Zia tepat berdiri dengan muka tersenyumnya. "Kak Zia, sudah pulang?" Uno berjalan masuk dan diikuti oleh Zia.


"Sudah, kamu sendiri, sudah selesai acara study tour kamu? Bagaimana? Apa acaranya lancar dan menyenangkan?" Zia berbaring di atas kamar tidur Uno.


"Acaranya lancar, dan menyenangkan." Uno melihat ada handuknya tergeletak di bawah, yang tadi di pakai oleh Diandra, dia dengan cepat mengambilnya saat Zia tidak melihatnya. Saat posisi Zia tengkurap.


"Menyenangkan? Apa karena kamu bisa bersenang-senang dengan si Cerry itu?" Zia berbalik dan memandang Uno dengan tatapan kesal.


"Aku sudah putus sama dia, Kak. Hubungan kita benaran sudah berakhir." Uno duduk di atas ranjangnya.


"Oh, ya?!" Zia beranjak dan duduk tepat di samping Uno. "Kamu serius?" Tanya dengan muka yang bahagia.


"Iya, dan tidak akan pernah kembali lagi. Dia sudah memilik seseorang yang cocok sama dia," ucap Uno santai.


"Jadi kamu sudah tau dia selingkuh? Aku kan sudah bilang sama kamu, dia bukan gadis yang baik, kamu bisa di jebak nanti sama dia." Zia memeluk Uno.

__ADS_1


"Iya, terima kasih Kakak sudah selalu mengingatkan aku, padahal aku hampir saja melakukan hal yang di luar batas dengannya."


"Apa?! Tapi kamu tidak jadi melakukannya, Kan?" tatap Zia penasaran.


Uno menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Eh Kakak jangan bilang ibu dan ayah, Ya? Bisa-bisa aku tidak dianggap anak nanti."


"Tenang saja, kakak tidak akan membuat kamu mendapat masalah, karena kakak sangat menyayangimu." Zia memeluk Uno dengan perasaan yang sangat bahagia, entah dia bahagia kenapa? Hanya Zia yang tau.


"Aku juga menyayangi Kakak, Kakak yang terbaik."


Tidak lama Uno teringat sesuatu. "Kak, aku lupa, aku di suruh ibu memanggil Diandra di kamarnya untuk mengajak dia makan siang." Uno melepaskan pelukannya dan dia berjalan menuju pintu keluar.


"Diandra? Anaknya paman Tommy? Apa mereka sudah datang?"


"Apa gadis yang keluar dari kamar kamu tadi itu Diandra?" Pertanyaan Zia berhasil membuat tangan Uno tidak jadi membuka gagang pintu kamarnya.


"Kakak melihatnya?" Uno berbalik melihat ke arah Zia.


"Iya, kenapa bisa dia masuk ke dalam kamar kamu?" Zia berdiri tepat di depan Uno.

__ADS_1


"Em ... tadi dia salah kamar, kakak kan tau dia tidak bisa melihat."


"Lalu kenapa dia memakai baju kamu?"


Mata Uno mendelik kaget. "Oh itu, tadi aku tanya dia tidak tau kalau itu kamarku dan habis mandi dia langsung mengambil baju di lemariku, dia hanya meminjam. Kak, jangan bilang ibu lagi tentang hal ini ya?" Uno mengedipkan salah satu matanya sambil keluar dari kamarnya.


Zia masih mencerna kata-kata Uno, tentang Diandra mandi, dan memakai baju Uno, apa waktu itu Uno sudah ada di kamar atau Uno barusan masuk saat Diandra sudah selesai mandi dan berganti baju?


Tok ... tok ...


Uno mengetuk pintu kamar Diandra, Diandra membuka kamarnya. "Uno," ucap Diandra seolah tau yang di depannya adalah Uno.


"Kamu kok tau kalau itu aku? Kamu benaran tidak bisa melihat, Kan?" Tangan Uno mengusap dari jauh seolah ingin tau apakah Diandra benaran tidak bisa melihat.


"Aku tau dari aroma badan kamu, ada apa ke sini?" tanyanya kesal.


"Jangan kesal begitu, aku kan sudah minta maaf."


"Perbuatan kamu itu benaran membuat aku kesal sama kamu!"

__ADS_1


"Memangnya apa yang di lakukan Uno sama kamu Diandra?" Tanya Zia, dan membuat Diandra mendelik kaget, dia tidak menyangka akan ada orang lain di sana.


Dikit dulu ya, besok lagi 🙏


__ADS_2