
Uno, menurut kamu Diandra cocok tidak jika dengan Neil?”
tanya Zia yang tidur bersandar pada lengan tangan Uno. Uno tidak menjawab dia malah melamun. “Uno, kamua
di tanya kenapa diam saja?” ulang Zia.
“Ada apa, Kak?” tanya Uno yang baru saja menginjakkan
kakinya di bumi.
“Kamu melamun apa? Apa melamun Diandra? Uno, dia sudah
memiliki orang lain, dia sudah bisa melupakan kamu, kenapa kamu tidak bisa
melupakan dia?” Zia beranjak dari tidurnya dan duduk. Pun dengan Uno
mengikutinya.
“Neil itu sahabatnya Diandra, Kak.”
“Uno, sini tangan kamu.” Tangan Uno ditarik oleh Zia dan
menempelkan pada perut Zia. “Di sini sedang tumbuh anak kamu. Kamu jangan
memikirkan hal lainnya lagi, Uno, pikirkan saja tentang vcalon bayi kita ini
saja, dia membutuhkan kita berdua.”
Uno tampak terdiam mendengar ucapan kakaknya, mungkin dia
memang salah jika terus memikirkan Diandra, Diandra juga berhak bahagia
sekarang dan Uno harus bisa merelakan Diandra dengan yang lain yang
mencintainya.
“Iya, Kak, aku minta maaf, aku hanya--?”
“Tidak apa-apa, Uno. Aku bisa paham akan hal itu. Uno apa
kamu bisa mengambilkan aku air minum, aku tiba-tiba haus sekali dan ingin
minum, di sini tidak disediakan air minum.”
“Iya, Kak, tunggu sebentar.” Uno keluar ke bawah dan dia
menuju dapur untuk mencari minuman. Saat dia berdiri di depan kabinet yang ada
__ADS_1
di dapur, dia melihat punggung gadis
yang sangat dia cintai. Diandra yang berbalik tidak sengaja menabrak Uno yang
melamun berdiri di belakang Diandra.
“Maaf, Uno,” Diandra menyebut nama Uno dengan lirih.
“Kamu tau jika itu aku?” Uno terdiam di tempatnya.
“Aku tidak lupa dengan bau parfum kamu.” Diandra berjalan
melewati Uno.
“Diandra.” Uno memegang dengan cepat tangan Diandra. Dia
sekali lagi tidak bisa menahan dirinya lantas memeluk Diandra dengan erat dari
belakang. Sontak kedua mata Diandra mendelik karena hal itu.
"Uno, lepaskan! Apa yang mereka pikirkan jika melihat hal ini? Aku tidak mau ada salah paham lagi karena melihat kita begini."
Diandra mencoba melepaskan tangan Uno, tapi semakin Diandra berusaha melepaskan semakin tangan Uno memeluknya erat.
"Tolong biarkan saja aku memeluk kamu Diandra. Aku hanya ingin mengetahui apa kamu sudah melupakan aku atu belum."
"Uno, aku mohon lepaskan aku. Aku benar-benar tidak mau dianggao sebagai wanita yang merebut suami orang," ucap Diandra bergetar, dia juga ingin sekali menangis.
"Kamu tidak merebutku Diandra, aku yang tidak ingin melepaskan kamu, sangat susah sekali mengeluarkan kamu dari pikiran aku. Dan aku tau kamu ternyata masih mencintaiku, aku bisa merasakan akan hal itu Diandra."
Diandra terdiam di tempatnya. Dia tidak dapat menyangkal apa yang Uno katakan, Dia masih sangat-sangat mencintai Uno. Diandra sampai memejamkan matanya menahan suatu perasaan di dalam hatinya.
"Aku mencintai kamu Diandra," ucap Uno yang juga memejamkan matanya dan sekarang pelukannya dipererat.
"Kalian sedang apa?"
Tiba-tiba suara muncul dari arah depan mereka yang tidak mereka ketahui. Uno dan Diandra langsung terkejut dan Uno melepaskan pelukan mereka.
"Kak Zia?" Uno sangat terkejut.
"Apa yang kamu lakukan, Uno? Kenapa kalian berpelukan seperti itu? Dan kamu Diandra, apa kamu lupa jika Uno ada suamiku? Apa pantas kalian seperti ini?" Zia tampak marah.
"Kak, ini bukan seperti apa yang kakak bayangkan. Aku dan Uno tidak ada apa-apa. Kami tadi hanya--?"
"Hanya apa? Kembali mencoba menjali hubungan lagi dengan cara sembunyi-sembunyi?" cela Zia.
"Kak, sudahlah! Ini semua bukan salah Diandra. Aku tadi yang tiba-tiba memeluknya karena aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku pada Diandra," jelas Uno.
__ADS_1
Tommy dan Mara yang mendengar ada keributan di dapur karena mereka memang belum tidur. Mereka berdua sedang menyelesaikan beberapa urusan pernikahan di ruang tengah kemudian berjalan mendekat ke arah dapur yang memang jaraknya tidak terlalu jauh.
"Ada apa ini? Zia, Uno dan kamu sayang. Ada apa ini?"
"Ayah, aku--."
"Paman, aku memergoki Diandra yang sedang berpelukan dengan Uno di dapur, dan aku sangat kesal mengetahui hal itu," terang Zia.
"Apa? Apa itu benar Diandra?"
"Ayah, aku tadi sedang membuat susu hangat untukku dan aku tidak tau ada Uno di sini."
"Ini semua bukan salah Diandra, Paman. Aku yang salah, aku yang tidak bisa menahan perasaanku dengan Diandra. Jadi jangan menyalahkan Diandra," terang Uno sekali lagi menjelaskan.
"Aku sedang hamil Uno dan kamu juga tau hal itu Diandra." Zia tampak menangis.
"Kak Zia, aku tidak punya maksud apa-apa, Kak."
Mara kemudian memeluk Zia. Dia coba menenangkan Zia. "Zia ini hanya salah paham, Tante tau siapa Diandra, kamu jangan sedih lagi."
"Zia, paman minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Diandra sudah melupakan Uno." Tommy melihat ke arah Uno. "Dan kamu, Uno. Tolong jaga sikap kamu, ini di Kanada dan kamu harua tau status kamu sekarang yang menjadi suami Zia. Tolong jangan membuat Diandra menjadi orang yang bersalah," ucap tegas Tommy.
"Maafkan aku, Paman, Aku tau aku salah, tapi sekali lagi aku tidak bisa menahan perasaan yang selama ini aku milikki untuk Diandra."
"Uno." Zia berlari pergi dari sana, dia naik ke atas kamarnya dengan menangis.
"Zia, hati-hati!" teriak Mara yang tidak mau Zia sampai jatuh.
"Uno, kamu pergilah tenangkan istri kamu dan paman mohon jangan mengganggu Diandra lagi. Kalian tidak akan bisa bersama, Zia sedang mengandung anak kamu dan paman tidak mau Diandra nanti di salahkan jika ada apa-apa sama Zia beserta bayinya."
Uno tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia naik ke lantai atas kamarnya menyusul Zia. Tommy langsung memeluk putrinya, Mara juga memeluk putrinya.
"Ayah aku--." Diandra menangis dalam pelukan ayahnya.
"Sudah Diandra, ayah tau semua tentang perasaan kamu, tapi kamu harus melupakan Uno karena ini semua untuk kebaikan kamu dan Uno."
Diandra terdiam di pelukan Tommy, Tommy hanya bisa melihat ke arah Mara.
Di dalam kamar, Uno melihat kakaknya yang sedang menangis di atas tempat tidur, dan saat Uno masuk ke dalam kamar dia beranjak dari tempatnya menuju koper yang belum di bongkar semua.
"Aku akan bilang sama Ibu ingin kembali pulang. Aku tidak ingin berada di sini menjadi orang yang tidak kamu anggap."
Uno mencoba menahan kakaknya. "Kak jangan begitu. Aku bukan tidak menganggap Kakak, tapi mengertilah tentang semua ini."
"Uno, kita sudah bicarakan ini. Kamu bilang kalau kamu akan mulai mencoba menerima semua ini. Aku juga berat, tapi aku sekali lagi melihat pada bayi dalam perutku, ini semua untuk dia." Zia mulai menangis. "Kalau kamu tidak memikirkan dia. Baiklah! Biar aku urus dia sendiri, atau aku akan pergi selamanya dengannya."
"Kak Zia! Apa yang Kakak katakan?" Seketika kedua alis tebal Uno mengkerut menandakan dia sedang marah.
__ADS_1
"Aku dan bayi ini tidak akan menjadi penghalang kamu." Uno dengan cepat memeluk kakaknya. Zia tersenyum miring di dalam pelukan Uno.