Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Dia Pergi Juga


__ADS_3

Pagi itu, di dalam kamar yang didominasi warna salem, Binna sedang tertidur nyenyak. Ketukan di depan pintu yang mungkin terjadi 3 kali, dia sama sekali tidak mendengarnya, hingga suara itu semakin meninggi.


"Kak Devon," ucap Binna lirih sambil menggeliat dari tidurnya. Saat matanya terbuka, dia sedikit kaget dan seperti orang kebingungan sedang mencari sesuatu.


"Ini di mana?" tanya pada diri sendiri?" Binn beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekat ke arah pintu di mana dia mendengar suara kakaknya Zia menggedor pintunya yang tampak agak kesal.


"Ya ampun, Binna! Kakak dari tadi menggedor pintu kamu, tapi kenapa kamu lama sekali tidak membuka pintunya?" Muka kak Zia sudah tampak di tekuk saja di depan pintu.


"Maaf, Kak. Aku benar-benar mengantuk." Sabinna mengkucek matanya beberapa kali.


"Ya sudah, segera bersiap-siap, kamu tidak mau turun? Kita sudah ditunggu ayah dan ibu makan pagi bersama, lagian kamu tidak mau berangkat sekolah?" Setelah mengatakan hal itu, Zia langsung pergi dari kamar Binna.


Binna melihat ke atas jam dinding di dalam kamarnya. Jam setengah enam. "Ini sudah pagi. Tapi bukannya aku kemarin tidur di dada Kak Devon, kenapa tiba-tiba aku bisa berada di sini?"

__ADS_1


Binna mengingat di mana dia bersandar di tubuh kak Devon, dan jujur saja, dia merasa sangat nyaman waktu itu.


Binna kembali masuk ke dalam kamarnya dan melihat ke dalam ponselnya, dia baru ingat jika dia tidak menyimpan nomor Kak Devon. "Lagian, buat apa aku menghubungi kak Devon? Lebih baik begini, Kan? Cowok itu kan suka seenaknya saja, aku lebih baik mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah. Siapa tau aku hari ini akan bertemu dengan Lukas." Sabinna dengan cepat menyambar handuknya dan pergi ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, dia sudah siap dan saat menyisir rambutnya, dia melihat dari pantulan cerminnya ada jaket hitam milik Kak Devon di sana. Binna kembali teringat kata-kata yan semalam dia dan kak Devon katakan. Kata-kata di mana, kak Devon meminta untuk Sabinna mencoba mempunyai hubungan dengan dia.


"Siapa yang mau mempunyai hubungan dengan pria bar-bar serta seenaknya seperti kamu?" Binna memanyunkan bibirnya, dan seolah tidak peduli, dia mengambil tasnya dan turun ke bawah untuk makan pagi dengan mereka.


"Dia sudah berangkat pagi sekali, katanya ada study tour di kampusnya, makannya dia berangkat pagi-pagi sekali."


"Hah? Study Tour? Berapa hari memangnya, Ibu?" Binna menyendokkan makanannya.


"Sekitar 3 hari."

__ADS_1


"Yeah!" Seru Binna senang. "Akhirnya aku akan terbebas dari si jahil kak Uno itu."


"Hem ... kamu itu, bagaimanapun juga, kakak kamu Uno itu sangat sayang sama kamu."


"Iya, aku tau, Bu, tapi dia itu usil sekali, bikin orang emosi saja." Binna memutar bola matanya jengah. Dan sekarang pandangan matanya berpindah pada kak Zia. "Kak kenapa? Kenapa mukanya terlihat tidak bahagia begitu? Apa kak Zia sakit?" tanya Sabinna.


"Kamu sakit, Zia?" lanjut Harajuna.


"Em ... aku tidak apa-apa kok, maaf ya aku harus berangkat ke kampus sekarang, aku ada janji dengan teman di kampus." Zia dengan cepat beranjak dari tempatnya dan segera berpamitan dengan kedua orang tuanya dan pergi dari mansion, Zia mengendarai mobilnya sendiri karena tidak ada Uno.


Arana yang melihatnya tampak aneh, tapi dia lagi-lagi menepis perasan curiganya pada Zia. "Binna, segera habiskan makanan kamu, ayah akan mengantarkan kamu ke sekolah," ucap Juna tegas.


"Bukannya aku nanti dianter kak Devon?" celetuk Sabinna. Dia juga bingung, kenapa malah bicara seperti itu?"

__ADS_1


__ADS_2