Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Persiapan Hari pernikahan part 2


__ADS_3

Malam ini, keluarga Arana sangat sibuk. Mereka sedang mempersiapkan hari spesial untuk purtrinya Sabinna. Besok pagi, status Sabinna akan segera berubah menjadi seorang istri dari Devon.


Binna tampak duduk terdiam di antara canda dan tawa keluarganya. Mereka sedang berkumpul di ruang tengah, di sana juga ada Mara dan mamanya.


"Binna, kamu kenapa mukanya tidak bahagia begitu?" tanya Arana.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya masih takut saja."


"Takut? Kamu takut apa? Kamu itu mau menikah, bukan mau perang, Binna."


"Kak Uno itu diam saja, Kakak tidak tau apa-apa!" seru Binna kesal.


"Tidak tau apa-apa bagaimana? Aku taulah kalau cuma soal pernikahan, besok juga aku akan menikah, tapi yang pasti pasangan aku tidak seperti kamu yang sukanya marah-marah, kalau bicara bikin sakit telinga."


Binna melempar bantalan kursi ke arah Uno. "Kakak diam saja! Aku itu malah kasihan dengan cewek yang nantinya menjadi istri Kak Uno. Dia harus benar-benar punya stok sabar yang banyak. Pasti makan ati terus sama Kakak," cibir Binna.


"Kata siapa? Aku pasti bisa membuat dia bahagia nantinya."


"Ya semoga Kak Diandra kuat saja sama Kak Uno," celetuk Binna. Binna langsung melotot kaget.


"Diandra? Maksud ucapan kamu apa, Binna? Kenapa Diandra kamu hubungkan dengan Uno?" tanya Tommy.


"Bocah in," gerutu Uno pelan.


"Em ... maksudku tadi. Aku melihat Kak Uno beberapa hari ini dekat dengan Kak Diandra. Ya mereka akrab begitu. Aku cuma mau bilang, kalau semoga Kak Diandra gak di bikin kesal sama Kak Uno, Kak Uno, kan, cowok jahil." Binna meringis.


"Kan, bagus kalau mereka bisa berteman baik. Selama ini Diandra tidak punya teman. Cowok yang berteman dan baik sama Diandra hanya ada maunya, dan memanfaatkan kekurangan Diandra. Makanya, paman membatasi cowok yang ingin dekat dengan Diandra."


"Kalau Kak Uno yang mau mendekati Kak Diandra, apa Paman juga akan melarangnya?" tanya Binna.


"Ini bocah maksudnya apa?" gerutu pelan Uno lagi.


Tommy tersenyum. "Kalau berteman, paman pasti memoerbolehkan, tapi kalau mendekati hal lain, paman tidak belum bisa mempercayainya. Diandra memiliki kekurangan, dan paman tidak yakin Uno bisa dengan tulus menerima itu."

__ADS_1


"Paman jangan berkata begitu. Hanya cowok bodoh yang melihat kebutaan Diandra menjadi sebuah kekurangan. Diandra sangat mandiri, dan dia tidak akan menyusahkan. Aku saja mau jika Diandra menerimaku."


Tommy tertawa. "Terima kasih untuk ucapan kamu, Uno, tapi untuk saat ini biar Diandra fokus dulu pada apa yang sedang dia kerjakan. Paman juga masih mengusahakan donor mata untuk Diandra."


"Kamu dan Diandra mau menjadi sepasang kekasih? Lalu pacar-pacar kamu bagaimana, adikku sayang?" Zia tiba-tiba nyamber kek gledek aja. Dia berkata sambil tertawa dan merangkul kepala Uno. Menjitaknya.


"Aduh Kak! Sakit ini." Uno mengusap-usap kepalanya. Dan semua di sana tertawa. Kecuali Sabinna.


"Sudah! Kamu jangan cemberut begitu adikku yang cantik. Kamu mau nanti pas menikah muka kamu terlihat jelek? Nanti Devon kabur." Uno sekali lagi menggoda adiknya.


"Kak Uno tidak lucu!"


Arana tau apa yang sedang di pikirkan oleh putri bungsunya itu. Bagaimanapun, usia Binna memang masih muda, tapi Arana yakin dia pasti akan bisa menjadi istri dan ibu yang baik kelak.


Malam itu setelah semua beres, mereka menuju kamar tidur masing-masing. Diandra juga kembali ke kamarnya.


Tidak lama Diandra terbangun karena ponselnya berdering. Diandra tau siapa yang menghubunginya.


"Sayang, keluarlah sebentar, dan temui aku di balkon dekat kamar kamu. Aku mau memberi kamu sesuatu."


"Uno, tapi ini sudah malam."


"Keluarlah sebentar saja, aku menunggu kamu." Uno lalu mematikan panggilan teleponnya.


Diandra bangkit dari tempat tidurnya dan keluar perlahan-lahan untuk menemui Uno. Diandra berjalan meraba-raba mencari di mana Uno. Sampai akhirnya tangan Diandra di pegang oleh seseorang dan itu Uno.


"Sayang, kemarilah. Aku mau memberi kamu sesuatu." Uno mengajak Diandra tepat di depan balkon dan dia memberikan sebuah kalung pada Diandra. Uno memasangkan kalung itu pada leher Diandra.


"Uno, apa ini? Kalung? Untuk apa kamu memberiku sebuah kalung?"


"Kalung ini adalah bukti, kalau aku sangat mencintai kamu, Diandra. Kamu tolong simpan terus kalung pemberian dariku, Diandra"


"Terima kasih, Uno. Aku minta maaf, aku tidak bisa member kamu apa-apa."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu memberiku apa-apa, cukup kamu percaya dan mencintaiku." Uno mendaratkan kecupannya, dan mereka saling berciuman di bawah sinar bulan yang sangat indah. Wkakaka author alay.


Mereka berdua tidak tau jika ada seseorang yang melihat kemesraan mereka. Kedua matanya menatap marah pada Uno dan Diandra.


"Aku tidak akan membiarkan kamu merebut apa yang seharusnya aku miliki, gadis buta! Kalung itu harus menjadi milikku. Lihat saja kamu, gadis buta!"


Zia yang ada di sana terlihat sangat marah. Sebenarnya Zia itu sudah tau jika kekasih Uno adalah Diandra.


"Hai, Kak. Kakak kenapa ada di sini? Apa Kak Zia tidak kencan dengan adik Kakak sendiri?" Cerry menyapa Zia saat mereka bertemu di toilet di cafe di mana Dion mengajak Zia.


"Aku tidak mau berbicara sama kamu. Kamu memang pantas di putuskan oleh adikku Uno."


"Kakak juga tidak pantas dengan Uno. Aku kasihan sama Kakak. Kakak itu Kakaknya Uno, tapi sikap kamu seolah Uno kekasih kamu. Apa jangan-jangan kamu sakit jiwa mencintai adik kamu sendiri?"


"Jaga bicara kamu. Asal tau saja, aku bisa memiliki Uno walaupun dia adikku, dan kamu jangan ikut campur dengan masalah ini."


"Tunggu, Zia." Zia yang akan pergi menghentikan langkahnya saat Cerry memanggilnya kembali.


"Ada apa?"


"Aku kasihan sama kamu, kamu mencintai orang yang tidak akan pernah kamu miliki, karena Uno sudah memiliki seorang kekasih yang sepertinya membuat Uno jatuh cinta. Namun, sayang sekali dia buta, aku juga heran kenapa Uno bisa mencintai gadis buta itu, apa tidak ada pilihan lain."


"Apa? Kekasih Uno gadia buta?"


"Iya, apa kamu tidak tau? Kasihan sekali, tapi Uno kali ini pintar, dia tidak memberitahu kakaknya yang sakit jiwa ini."


Plak ...


Dengan cepat tamparan Zia mendarat pada pipi Cerry dan tangannya menjambak rambut Cerry dengan kasar. "Dengar ya, Gadis bodoh! Jaga bicara kamu,dan jangan pernah mengatakan apa-apa pada Uno, atau aku akan melenyapkan kamu dari muka bumi ini tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Kamu tau, kan, siapa ayahku? Dengan mudah aku bisa melakukan apapun." Zia menatap tajam pada Cerry, seketika gadis bergidik ngeri.


Zia melepaskan jambakannya dari Cerry dan pergi dari sana dengan senyum devilnya.


Widih! Ini anaknya siapa? Sadis ternyata.

__ADS_1


__ADS_2