
Binna akhirnya memilih untuk diam saja, daripada dia harus berdebat dengan cowok kutub utara di depannya ini.
'Lebih baik aku diam saja, dan lebih memikirkan tentang kesembuhan kakiku, kenapa juga aku harus mengalami seperti ini? ini semua gara-gara cowok ini, baru pertama bertemu saja aku sudah di buat mengalamai hal yang buruk, bagaimana nanti kalau aku menikah dengannya?' Sabinna mengumpat dalam hatinya.
Devon masih berdiri di depan Sabinna dengan ponsel yang menempel di telinganya, sepertinya dia sedang menghubungi seseorang tapi tidak diangkat. "Ke mana dia? aku sudah mengirimkan pesan untuk secepatnya datang."
Tidak lama Zia masuk dengan segelas air di tangannya. "Ini minum dulu, Binna." Zia memberikan minum kepada Binna, dan dengan cepat Binna menghabiskan sampai setengah gelas.
"Kaki kamu sudah tidak apa-apa, Binna?" tanya Zia sambil memperhatikan kaki adiknya itu.
"Tidak tau, Kak. Kalau dibuat diam begini tidak apa-apa, tapi saat digerakkan terlalu keras terasa ngilu." Tidak sengaja. mereka berdua saling melirik sekilas--Binna dan Devon.
"Tenang saja, sebentar lagi akan sembuh."
"Semoga, Kak. Aku kan mau ikut kompetisi menari itu. Bagiku, kompetisi menari itu sangat penting untuk hidupku, dan aku tidak mau sampai melewatinya," ucapnya sedih.
Devon yang tidak berpamitan tau-tau keluar dari dalam kamar Sabinna, dia turun ke lantai bawah.
"Katanya mau bertanggung jawab! tapi kenapa sekarang dia malah kabur?" gerutu Binna kesal.
Zia aneh melihat ke arah Binna, dia juga bingung melihat Devon yang tiba-tiba keluar dari kamar Sabinna.
Di bawah, Devon ternyata menemui temannya yang sudah datang, Devon langsung mengajaknya masuk dan membawanya naik ke atas kamar Sabinna.
"Kamu kenapa terlihat khawatir begini? memangnya siapa yang terkilir? cemas sekali?"
"Ikut saja, jangan banyak bicara, dan kamu kenapa lama sekali, bukannya hari ini kamu libur?"
"Aku sedang berkencan dengan kekasihku, tapi kamu tiba-tiba mengganggu, kalau saja kamu tidak mengirim pesan ancaman itu, aku tidak akan mau datang," ucapnya sebal.
Mereka masuk ke dalam kamar Sabinna. Sabinna dan Zia tampak sedikir kaget, melihat Devon tiba-tiba datang dengan seseorang dengan perawakan tubuh kurus, putih dengan mata birunya dan rambutnya yang berwarna hitam itu.
"Dimitri, kamu periksa kakinya, apa terkilirnya parah?" ucap Devon tegas.
__ADS_1
Dimitri melihat Binna yang duduk di atas tempat tidur, dengan meluruskan kedua kakinya. "Dia siapa? cantik juga? gadis kamu?" celetuknya.
"Periksa saja dia, aku ingin mengetahui keadaan kakinya," Sekali lagi ucapannya tidak ada expresi hangat ataupun manis-manisnya sama sekali.
"Baiklah! daripada aku mendapat masalah." Pria yang usianya lebih tua sedikit dengan Devon ini berjalan menghampiri ranjang Binna. Sontak muka Binna tampak terkejut.
"Hei! pria ini mau apa? apa kamu tukang pijat?" ucapan Binna seketika membuat pria itu tertawa dengan kerasnya. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Binna heran.
"Ya Tuhan! gadis kamu ini benar-benar keterlaluan, Devon. Masak aku yang lulusan dokter spesialis bedah ortopedi dari London dibilang tukang pijat?" Pria itu memutar bola matanya jengah. "Apa tampangku sangat tidak meyakinkan kalau aku ini seorang dokter?"
"Oh, jadi Anda ini dokter? ma-aaf kalau begitu." Binna nyengir.
"Aku akan memeriksa kaki kamu, kalau ada masalah yang serius, kamu harus dirawat," ucapan pria ini sungguh membuat Binna takut.
Devon juga berjalan menghampiri Sabinna, dia berdiri tepat di samping Sabinna. "Kamu tidak perlu takut, kaki kamu baik-baik saja."
Dimitri mulai memeriksa kaki Sabinna yang sakit, dia mengatakan akan memijat sebentar kaki Sabinna. "Kaki kamu tidak apa-apa, hanya aku akan memijitnya, tapi coba tahan sedikit rasa sakitnya, Ya?"
"Aku tidak apa-apa, kenapa bertanya pada kak Devon? pijat saja," ucap Binna rada ketus sambil melirik Devon di sampingnya.
Devon duduk di depan Sabinna, Sabinna yang melihatnya mengerutkan kedua alisnya bingung, Zia yant berdiri tepat di samping Dimitri juga bingung.
"Kamu--?"
"Lakukan, Dimitri," ucap singkat Devon, dan tidak lama terdengar suara teriakan kesakitan Binna, dan Binna reflek masuk dalam dekapan Devon. Devon hanya diam saja saat bajunya di cengkeram erat oleh tangan Sabinna.
"Sakit ...!" Sabinna sampai meneteskan air mata.
"Sudah selesai, kaki kamu sudah baikkan, tapi dalam dua hari ini kamu tidak boleh menggunakan kaki kamu untuk kegiatan yang terlalu keras, dan obat ini kamu oleskan saja, kaki kamu akan baik-baik saja."
Sabinna tidak bergeming, dia masih saja menyembunyikan kepalanya pada dada bidang Devon. Devon pun hanya diam saja, dan membiarkan apa yang dilakukan oleh Sabinna.
"Binna, sudah tidak apa-apa kaki kamu, apa kamu mau bersandar terus pada Devon," ucapan Zia langsung membuat Sabinna membuka matanya dan menarik kepalanya dari dada Devon, Binna mendongakkan mukanya melihat wajah Devon yang juga menatapnya dengan muka datarnya.
__ADS_1
"Oh~." Binna melepaskan pegangangnya, dan agak menjauhkan badannya dari Devon.
Devon berdiri dan merapikan bajunya. "Dimitri, sudah tidak apa-apakan kakinya?"
"Tidak apa-apa, tapi ingat saja tadi yang aku katakan, dalam 2 hari ini kaki kamu jangan kamu gunakan untuk hal yang berat, dan oleskan saja obat yang aku berikan," ulang Dimitri.
"Jadi aku tidak bisa ikut latihan menari dulu?" tanya Binna dengan muka sedihnya.
"Kamu seorang penari?" tanya Dimitri sedikit terkejut.
"Aku suka sekali dengan menari, dan aku akan mengikuti lomba kompetisi menari nantinya dia sekolahanku."
"Wow!" Dimitri melirik pada Devon.
"Kalau sudah selesai, aku akan mengantar Dimitri untuk pulang, dan kamu istirahat saja di sini Binna." Devon memberi isyarat pada Dimitri untuk mengikutinya keluar.
Mereka berdua keluar dari kamar Binna, dan menuruni anak tangga. Dimitri seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Apa karena dia?"
"Dimitri, apa kamu bisa tidak mengatakan dan bertanya apa-apa? kita temui mamaku di bawah."
"Oh ...! baiklah." Pria yang usianya lebih tua sekitar 2 tahunan dari Devon ini memang enggan dipanggil kak oleh Devon."
Dimitri dan Devon turun ke bawah dan mereka bertemu dengan para orang tua. "Dimitri, kamu ada di sini?" Tia berdiri dan memeluk Dimitri dengan lembut.
Dimitri menyambut pelukan Tia. "Malam semua," sapa Dimitri sopan. "Perkenalkan namaku Dimitri, dan saya adalah kakak sepupu dari Devon, ponakan tante Tia dan Om Bryan yang sangat tampan," pujinya pada dirinya sendiri.
"Dia seorang dokter spesialis bedah ortopedi, dan dia yang sudah mengobati kaki Sabinna, kaki Sabinna sudah baikkan, Tante Arana."
"Terima kasih, ya Devon." Arana mengusap lembut lengan tangan Devon, dan Devon tersenyum.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Dimitri di antar Devon keluar dari mansion kakek.
__ADS_1