
Diandra lagi-lagi terdiam mendengar ucapan Uno. Dia juga bingung dengan sifat Uno ini.
"Jadi kamu menerima para gadis itu karena kasihan? Bukan kamu juga mencintai mereka?"
Uno mengangguk. "Jahat sekali kamu, Uno," ucap Diandra lirih. "Kamu sama saja membohongi mereka.
"Aku tidak jahat, dan aku tidak membohongi mereka. Kalau aku menolak mereka, malah aku akan membuat mereka sedih, dan aku selama berpacaran dengan mereka, aku bersikap manis, memperlakukan mereka dengan baik, tapi kalau aku sudah merasa tidak nyaman, aku putuskan mereka."
"Huft!" Diandra menghelan napasnya pelan. "Apa tidak ada satu yang serius sama kamu, Uno?"
"Tidak ada," jawab Uno santai. "Apa kamu mau serius denganku?" celetuknya kemudian.
"Apa? Tidak mau! Aku tidak mau menjadi salah satu korban kamu," jawab Diandra cepat. Dan Uno malah tersenyum.
Di tengah-tengah mereka makan, Uno melihat pada tepi bibir Diandra ada sisa ice cream. "Mulut kamu belepotan, Diandra. Kamu tidak berubah, Ya. Dulu waktu masih kecil juga sering belepotan." Uno tiba-tiba membersihkan mulut Diandra dengan sebuah tissu.
Sontak saja Diandra agak kaget. "Aku bisa sendiri Uno." Tangan Diandra reflek memegang tangan Uno.
Kedua mata si tampan itu menatap lekat pada Diandra. Entah kenapa, detakan jantung Uno sangat cepat, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. 'Kenapa perasaanku menjadi tidak karuan begini. Bibir itu, aku ingin sekali mengecupnya, Oh Tuhan! Kenapa dia begitu menarikku seperti magnet saja?' Uno berdialog dari dalam hatinya.
__ADS_1
"Diandra, apa kamu sudah punya kekasih?"
"Ke-kenapa kamu menanyakan lagi hal itu?" Kedua alis Diandra mengkerut.
"Kalau kamu belum punya pacar, bagaimana kalau kamu menjadi kekasihku?"
"Apa?!" Diandra benaran kaget.
"Kalau kamu sudah punya pacar, kamu putuskan saja dia," ucapnya kayak orang gak punya salah.
"Apa ice cream kamu ada alkoholnya ya, Uno? Bicara kamu kenapa melantur begitu?" Tangan Diandra merabah wajah Uno dan menepuk pelan pipi Uno.
"Menyadarkan kamu, siapa tau dengan menepuk pipi kamu, kamu nanti sadar dari mabuk kamu."
"Siapa yang mabuk? Aku sadar, Diandra. Sangat sadar." Uno menggenggam tangan Diandra.
"Uno, kamu ada di sini," sapa seseorang yang tiba-tiba berdiri di sana.
Uno dan Diandra menoleh ke arah suara itu. "Cerry!" Muka Uno tampak agak kaget. "Kamu ada di sini, juga?"
__ADS_1
"Uno, aku senang bisa bertemu kamu di sini." Tiba-tiba gadis itu memeluk Uno. Uno dengan cepat melepaskan tangan Cerry.
"Jaga sikap kamu, Cerry. Kita di tempat umum, lagian kita hanya berteman sekarang."
Cerry melihat ke arah Diandra. "Apa, dia kekasih baru kamu?" Cerry menatap Diandra dengan tatapan tajam.
"Hai, aku Diandra, aku--." Diandra sudah mengangkat tangannya mengajak berkenalan.
"Iya, dia kekasihku. Apa kamu bisa pergi sekarang? Aku dan kekasihku mau menikmati kencan kita berdua," ucap Uno tegas.
Wajah Cerry tampak semakin kesal. "Uno, kenapa kamu cepat sekali melupakan aku? Aku benar-benar mencintai kamu, aku tidak melakukan apa-apa dengan pria itu."
"Sudah, Cer, aku tidak mau membahas masalah ini, aku juga tidak marah."
"Tapi, aku masih sangat mencintai kamu, Uno."
Diandra berdiri dari tempatnya dan mengambil tongkat di dalam tasnya, dia menegakkan tongkatnya. "Sebaiknya aku tinggalkan kalian berdua untuk bicara.
"Kamu buta!" seru Cerry dengan terkejut. Memandang Diandra seolah tidak percaya, pacar Uno kali ini gadis buta.
__ADS_1
Waduh ... Author gak bisa bayangi ini nanti bagaimana?