
Seorang wanita sedang berdiri di depan kaca besar kamar hotelnya, di tangannya sedang memegang segela red wine dan kedua matanya menatap nanar memandang ke arah luar jendela menyaksikan suasana di luar hotel
di mana dia menginap.
Terdengar suara pintu di ketuk oleh seseorang dari luar. Wanita itu berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka pintu kamarnya. “Hai,
Mara!”Asta melihat ke arah tangan wanita yang berdiri di depannya dengan memegang segelas red wine. “Kamu minum?” Asta mengambil gelas yang dipegang oleh Mara.
“Asta kamu apa-apaan, Sih?” Wajah Mara tampak kesal, dia ingin mengambil lagi gelasnya, tapi dengan cepat Asta menghabiskan isi dari gelas Mara.
“Habis.” Asta menyelonong masuk ke dalam kamar Mara, dia seenaknya duduk di atas ranjang Mara. “Pasti kamu sedang memikirkan Tommy?”
“Aku tidak memikirkan dia, Asta. Dia sedang sibuk dengan kekasihnya Nina. Aku tidak mau memikirkannya.” Mara duduk dan mengisi lagi
gelas burgundynya dengan minuman berwarna merah yang ada di mejanya.
“Jangan minum terus, itu tidak baik bagi kesehatan kamu, Mara.”
“Kesehatan apa? Lagian
aku juga tidak akan bisa hamil seumur hidup aku, jadi aku tidak bermasalah jika aku minum yang banyak. Kamu tumben hari ini cerewet sekali? Aku mau di sini selain bekerja juga menikmati hidupku, dan besok aku akan merayakan ulang tahunku dengan kesepianku.” Mara menghabiskan langsung red wine yang ada di gelasnya dengan sekali teguk.
“Kita akan merayakan bersama, sekaligus merayakan kesuksesan kita dalam acara tadi pagi.”
“Kamu benar, hanya kamu yang selalu menemani aku, kamu tidak jatuh cinta padaku, kan, Asta?”
“Ahahah! Kalau aku jatuh cinta pada kamu itu sudah aku lakukan sejak lama, tapi aku tau kalau kamu tidak mungkin jatuh cinta padaku, lagian aku sudah terbiasa seperti ini sama kamu, jadi kalau lebih dari itu rasanya aneh saja.”
“Kamu tidak mungkin jatuh cinta sama aku, karena aku tau jika kedua orang tua kamu pasti menginginkan seorang keturunan karena kamu anak tunggal, kalau kamu menikah denganku, mereka bisa-bisa sangat shock.”
“Ya itu juga benar. Ya sudah kamu tidur saja, besok kita masih ada pertemuan dengan beberapa perusahaan untuk bekerja sama.”
“Kamu tidur saja sana! Aku masih mau membuat beberapa desain pakaian.”
“Ya sudah, selamat malam, Mara.” Asta tiba-tiba membawa botol minuman milik Mara.”
“Asta! Apa yang kamu lakukan?” Mara mendengus kesal melihat sahabatnya itu berlari keluar kamar dengan membawa botol minuman milik Mara.
__ADS_1
Mara akhirnya duduk kesal, dia segera mengambil kertas gambarnya dan pinsil untuk mulai mendesain sesuatu. Baru beberapa kali
pinsilnya menggores di atas kertas gambarnya sudah dia sobek-sobek karena kesal. “Kenapa aku ini? Aku yang memilih menghindari Tommy, tapi sekarang aku sendiri yang merasa kacau seperti ini.”
Mara terlihat tidak konsen dalam menggambar. Pikirannya benar-benar kacau, dia memikirkan mungkin sekarang Tommy sedang bersama dengan Nina.
Pagi itu di rumah Arana seperti biasa mereka makan pagi bersama, tapi kali ini tidak ada sosok Tommy di sana.
“Paman Tommy ke mana, Bu?” tanya Uno yang tidak melihat Tommya ada di bangkunya.
“Dia ada urusan penting, jadi kemarin malam dia berangkat ke luar negeri.”
“Urusan penting? Urusan pentin apa? Kenapa berangkatmalam-malam?”
“Ayahku pergi untuk menemui orang yang sangat dia cintai, Uno,” jawab Diandra. “Aku senang ayah masih mau berjuang untuk mendapatkan orang yang sangat dicintainya walaupun orang itu menolaknya, ayahku menggunakan feelingnya jika orang yang dicintainya itu mencintai dia.”
“Tante Mara? Aku mungkin akan melakukan hal yang sama, Diandra. Aku akan memperjuangkan orang yang aku cinta bagaimanapun caranya karena akan sangat menyakitkan jika kita terpisah dari orang yang kita cinta dan mencintai kita.” Uno menatapa Diandra yang ada di depannya.
‘Aku juga akan mendapatkan orang yang aku cintai, dengan cara apapun meskipun orang itu mencintai bahkan di rebut oleh orang lain.’ Zia
Zia yang memandang Diandra tampak takut sendiri.
“Zia,” panggil Arana lirih, tapi Zia tidak meresepon. “Zia,” panggilnya sekali lagi.
“Kak, Kakak di panggil sama ibu.”
“Oh!” Zia yang tersadar langsung melihat ke arah Ibunya. “Ada apa, Bu?”
“Kamu sedang melamun apa? Kenapa tidak fokus saat ibu memanggil kamu?” Arana berbicara dengan menuangkan air dalam gelas Juna.
“Mungkin dia sedang memikirkan persiapan acara pestanya.” jawab Juna tersenyum pada putrinya itu.
“Iya, Yah. Aku sedang memikirkan tentang persiapan acara pestaku itu. Aku benar-benar tidak sabar ingin segera acara itu dilaksanakan.” Zia tersenyum lebar pada ayahnya.
“Apa persiapannya sudah hampir seratus persen, Zia?”
“Sudah, Yah. Semua sudah aku pantau dengan baik, undangan untuk teman-temanku juga sudah aku berikan sama mereka. Aku juga mengundang beberapa teman-teman Uno yang aku kenal di kampus.”
__ADS_1
“Kakak juga sudah mengundang calon kakak ipar aku, kan?” celetuk Uno.
Zia melihat pada Uno dengan muka bingungnya. “Calon kakak ipar siapa maksud kamu?”
“Itu, si pangeran yang kalem dan lembut, siapa lagi kalau bukan kak Dion.”
“Dion sudah aku undang, tentu saja aku tidak akan melupakan dia di hari istimewahku nantinya.”
Mereka melanjutkan makannya dan Uno hari ini akan pergi ke kampusnya, sedangkan Zia akan pergi ke tempat di mana dia akan menyelenggarkan pestanya. Juna pergi ke kantor sendirian tanpa Tommy.
“Diandra sayang, nanti supir yang akan mengantar kamu ke tempat mengajar kamu.”
“Ibu Arana, tadi Uno memberitahuku jika dia nanti yang akan mengantar aku ke tempat aku mengajar. Apa Ibu Arana keberatan?” Nada bicara Diandra tampak sedikit takut.
“Uno yang mengatakan hal itu sama kamu?”
“Iya, tadi dia bilang jika dia ingin mengantarkan aku ke tempat aku mengajar karena dia akan pulang lebih cepat hari ini. Uno, ke kampus
hanya menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya yang kapan hari belum dia
selesaikan karena sakit waktu itu.”
“Ibu Arana tidak melarang hal itu. Kamu boleh diantar oleh Uno.”
“Terima kasih, Ibu Arana. Kalau begitu aku akan membantu Ibu Arana menyiram tanaman di taman.”
“Sayang.” Arana memegang tangan Diandra dan menatap dengan tatapan seolah ingin mengetahui sesuatu.
“Ada apa, Ibu?”
“Apa kamu mau bicara jujur dengan Ibu tentang kamu dan Uno?”
Seketika kedua mata indah Diandra membelalak besar. Maksud Ibu Arana apa?”
“Ibu lihat kamu dan putra ibu sepertinya ada suatu hubungan, apa kalian memang sedang menjalin suatu hubungan?”
“Kenapa Ibu bisa memiliki pikiran seperti itu?”
__ADS_1