Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Happy Ending Part 2


__ADS_3

Lukas yang melihat Binna seperti sedang tidak enak badan segera membuka penyumpal mulutnya.


"Lukas, aku mau muntah."


"Muntah saja di sini."


"Tapi--? Hueekk!"


"Lukas, bawa dia kamar mandi, siapa yang membersihkan muntahannya nanti," ucap Ken tetlihat jijik.


"Kamu antarkan dia, aku akan menemui mamaku dulu."


Ken membawa Binna setelah melepaskan ikatan tangannya, dan Binna muntah di wastafel. "Tolong, lapkan mukaku dan mulutku Ken."


"Enak saja, kamu lap saja sendiri!"


"Tanganku terikat, bagaimana aku mengelapnya?"


Ken tanpa banyak bicara melepaskan ikatan tangan Binna. Binna benar-benar memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya, Binna tampak lemas.


Saat Ken tidak melihatnya Binna ingat dia selalu menyimpan semprotan lada pada saku celananya dan Binna dengan cepat mengambilnya dan menyemprotkan tepat pada mata Ken.


"Binna!" teriak Ken marah.


Binna yang masih ada sisa tenanga mencoba kabur dan dia menabrak kursi roda di mana ada mamanya Lukas. Lukas sedang mengambil minuman dan Lukas kaget Ken berteriak.


"Binna? Kenapa kamu bisa kabur? Apa yang kamu lakukan pada Ken?"


"Jangan mendekat, atau aku sakiti mama kamu," ancam Binna tepat di belakang kursi roda mamanya.


"Jangan macam-macam dengan mamaku, Binna!" Lukas berjalan menuju Binna dan dengan cepat Binna menyemprotkan semprotan lada tepat di mata mama Lukas karena wanita itu memegang tangan Sabinna.


"Binna!" teriak Lukas marah dan akhirnya Binna lari menuju pintu karena Lukas tidak a. Lukas lebih memilih menolong mamanya.


Kebetulan pintu tidak terkunci, Binna bisa berlari menuju pintu dan membukanya. Binna tampak mulai lunglai, dia ingin pingsan, tapi tiba-tiba ada yang membantu Sabinna.


"Lila?"


"Binna, kamu bisa keluar dari tempat itu. Ayo pulang denganku."

__ADS_1


"Tapi, bagaimana kamu bisa ke sini?"


"Aku bertekad untuk datang ke sini dan mencoba meminta Lukas untuk melepaskan kamu tadi. Aku tidak bisa mengatakan pada suami kamu, tapi aku berencana mengawasi apa yang dilakukan Lukas sama kamu."


"Terima kasih, Lil." Binna memeluk Lila.


Saat mereka akan pergi, mereka dihadang oleh seorang pria paruh baya yang usianya sama dengan Juna. Dan dia berkacamata.


"Binna, kamu mau ke mana?"


Binna dan Lila saling terdiam. Lukas datang dengan Ken. "Dasar gadis bodoh!" Tangan Lukas sudah terangkat dan hampir menampar pipi Sabinna, tapi dapat di cegah oleh suara seseorang di sana.


"Jangan berani menyentuh putriku!" bentak seseorang.


Mereka semua melihat ke arah asal suara itu. "Ayah!" panggil Binna.


"Hai, Juna, apa kabar?"


"Fabio, jadi kamu yang ada di balik hilangnya anakku?"


Lukas dengan cepat menarik tangan Binna dan mendekapnya. "Lepaskan dia Lukas!" bentak Devon.


"Apa maksud kamu?"


"Binna hamil Kak Devon dan aku minta maaf tidak dapat mengatakan hal sebenarnya."


"Apa? Binna hamil, Lila?" Lila mengangguk.


"Lukas bawa Binna masuk, tidak enak kalau dilihat orang di sini."


"Baik, Yah." Lukas membawa Binna masuk ke dalam rumahnya.


"Ayah? Apa dia putra kamu?" tanya Juna.


"Masuklah, dan akan aku perkenalkan pada istriku, mamanya Lukas."


Juna terpaksa mengikuti Fabio karena dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Binna.


Di dalam rumah Juna duduk dengan Uno. Devon terus melihat ke arah Binna yang di peluk oleh Lukas. Walaupun Binna berontak, tapi Lukas tidak mau melepaskan Binna.

__ADS_1


"Om, Tante Sasa." Ken datang dengan membawa mama Lukas yang duduk di atas kursi roda.


"Sasa?" Mata Juna sangat terkejut.


Siapa yang masih ingat dengan Sasa?


Wanita yang duduk di kursi roda itu melihat ke arah Juna dengan tatapan bingung, dia seolah mengingat orang yang ada di hadapannya sekarang. "Juna, kamu Juna?" Sasa seketika tampak bahagia melihat Juna orang yang sangat dia cintai dulu.


"Kalian--?"


"Lukas adalah putraku dengan Sasa, Juna. Ceritanya sangat panjang, Sasa dulu sangat mencintai kamu bahkan dia ingin sekali kamu menjadi miliknya, akhirnya kita bekerja sama untuk menjebak kamu, dengan aku memiliki anak dengan Sasa yang nanti kamu yang akan bertanggung jawab. Namun, semuanya gagal dan malah Sasa berakhir di rumah sakit jiwa."


"Kalian yang menyebabkan mamaku seperti ini, hidupku menderita gara-gara kalian!" bentak Lukas.


"Bukan karena keluargaku, mama kamu yang jahat!" bentak Binna balik.


"Diam! Atau aku cekik kamu."


"Lepaskan dia, Lukas! Kalau berani, bertarunglah denganku secara jantan." Devon terlihat marah.


"Aku tidak mau mengotori tanganku dengan memukul kamu, Devon. Oh ya! Bagaimana kamu bisa tau Binna ada di sini? Apa Lila yang memberitahu kamu? Lila memang tidak sayang dengan nyawa sahabatnya." Seketika tangan Lukas mencekik dengan erat leher Binna, sampai Binna terlihat kesulitan bernapas.


"Lukas, lepaskan Binna! Aku tidak menceritakan apa-apa pada Kak Devon, aku bersumpah dengan apa yang aku katakan.


"Pengecut lepaskan!" Devon yang ingin mendekat di halangi oleh Ken.


Lukas akhirnya melepaskan cekikannya. "Lila tidak mengatakan apa-apa padaku, aku tau kamu juga tidak masuk sejak hilangnya Binna, dan aku mulai mencurigai kamu. Makannya aku ke sini karena teringat Binna pernah mencari kamu ke sini dan aku melihat ada mobil Lila di sini."


"Pintar juga dia, Lukas," celetuk Ken.


"Kamu mau apa? Aku akan memberikannya, asal lepaskan putriku Sabinna."


"Aku ingin melihat kamu menderita, Juna. Aku ingin memisahkan kamu dengan putrimu dan membiarkan putraku menyiksa putrimu, tapi semua itu gagal jadi kamu bisa tanda tangan saja seluruh harta dan perusahaan kamu untuk kamu berikan padaku. Aku ingin melihat Harajuna Atmaja menjadi pengemis di jalanan beserta keluarganya, dan nanti aku akan menemui Arana karena bagaimanapun aku tidak akan menyakiti Arana."


"Jangan bermimpi mengambil Arana dariku."


"Tanda tangan saja atau kamu tidak akan melihat putri kesayangan kamu."


"Ayah, jangan lakukan itu," teriak Binna.

__ADS_1


"Ayah tidak takut kehilangan segalanya, Binna, ayah lebih takut kehilangan kamu."


__ADS_2