
Binna dan Lili berdiri di dalam gedung besar yang sudah diisi oleh semua murid yang sekolah di sana, mereka sedang mendengarkan wakil dari kepala sekolah memberi sambutan.
"Kamu cari siapa sih, Binna?" Lila melihat Binna yang celingukan.
"Lukas, apa dia tidak masuk lagi hari ini?"
"Huft!" Lila melihat malas pada Binna. "Lukas lagi, bukannya kemarin sudah kencan sama kak Devon, kamu ini sebenarnya suka sama siapa?"
"Sama Lukas," jawab Binna cepat.
"Tapi Lukas sudah menghilang, mungkin saja dia tidak suka sama kamu, kenapa kamu masih mengharapkan dia? Bukannya seharusnya kamu dengan kak Devon saja yang sudah pasti, aku kalau jadi kamu tidak akan menolak kak Devon," Lila berbicara sambil berbisik pada Binna.
"Kak Devon juga sudah pergi, dia saja pergi tidak berpamitan sama aku," ucap Binna sebal.
"Kamu berharap dia menghubungi kamu, Ya? Kamu kesal dia tidak menghubungi kamu, harusnya kalau kamu tidak suka, kamu senang dia tidak menghubungi kamu."
Binna hanya terdiam, entah kenapa Binna kesal dengan kak Devon karena semalam tau-tau dia sudah di rumah, dan mendengar kabar kak Devon sudah pergi ke luar negeri.
Hari ini semua berjalan seperti biasa, hingga menjelang sore hari. Sore itu di sebuah kamar yang berukuran besar terdengar suara desahan kecil dari dua orang yang sedang bercumbu.
"Uno, miliki aku," suara gadis itu terdengar parau.
__ADS_1
"No, Baby." Mereka kembali saling mengecup dan menikmati bibir itu dengan sangat liar.
Uno yang duduk di sebuah kursi dengan sandaran dan Cerry yang duduk di pangkuan Uno dengan menghadap ke Uno dan melingkarkan kakinya pada pinggang Uno.
Ini mereka sedang di kamar, di mana Uno sedang menginap mengikuti acara study tour. Cerry masuk ke dalam kamar Uno dan mereka bermesraaan di sana. Wkakakak! parah ini anaknya tuan vampire.
"Aku mencintaimu, Uno. Aku tidak akan menyesal jika kamu memiliki aku." Tangan Cerry mulai membuka kaos Uno, melepaskannya dan menelusuri tubuh Uno yang athletis itu.
Cup ...
Sebuah kecupan mendarat pada dada Uno, Cerry mengusap lembut tubuh itu. Uno hanya melihati apa yang di lakukan oleh kekasihnya itu.
Dalam hati Cerry, hari ini dia akan mendapatkan apa yang selama ini Cerry inginkan, dan di sini, dia tidak akan di ganggu oleh kakaknya Uno, yaitu Zia.
"Sangat, aku akan menyerahkan segalanya untuk kamu, Uno." Cerry mengecup lagi bibir Uno dengan lembut dan menikmati bibir Uno. Mereka mulai beradu mulut dengan sangat liar dan panas.
Bip ... Bip ...
Ponsel Uno yang ada di atas meja berbunyi, ada sebuah pesan masuk. Tangan Uno menyautnya dan masih dengan saling mengecup bibir, mata Uno melihat ke dalam layar ponselnya.
Mata Uno mendelik melihat apa yang ada di dalam pesan itu. "Cerry. Cukup!" Uno menghentikan kecupaannya, Uno mendorong agak jauh tubuh Cerry.
__ADS_1
Manik mata gadis itu melihat heran pada Uno. "Ada apa?"
Tertarik senyum kecut pada bibir Uno. "Kamu menjijikan!"
Cerry kaget dan berdiri dari pangkuan Uno. "Apa maksud kamu?"
Uno berdiri dan menatap tajam pada Cerry yang mendongak melihat Uno. "Sayang, ada apa?" Tangan Cerry mengusap dada Uno lembut.
Uno menahan tangan Cerry dan mencengkeram dengan marah. "Cukup! Kita putus."
"Ada apa, Uno? Salah aku apa? A-aku tidak mau berpisah dari kamu. Uno aku--."
Uno memperlihatkan pesan yang ada di ponselnya, pesan itu berupa foto-foto, dan ada video singkat di sana. Mata Cerry mendelik melihat hal itu.
"Pergi dari sini! Hubungan kita sudah berakhir."
"Uno, aku--."
"Keluar!" Bentaknya kesal, menatap tajam pada Cerry. Gadis itu meneteskan air matanya.
Maafkan jika author pagi-pagi sudah menyuguhkan pemandangan yang indah. Hihihi.
__ADS_1