
Uno yang terbawa perasaan karena tidak rela Diandra pergi malah menarik Diandra mendekat ke arahnya dan langsung mendaratkan ciumannya pada bibir Diandra. Uno mencium Diandra tanpa melepaskan tangannya yang tepat berada pada kedua pipi Diandra.
Semua yang ada di sana tampak sangat terkejut, Binna malah tersenyum melihat dia. Beda dengan Zia, kedua rahangnya tampak mengeras menahan marah.
Tommy melihat ke arah Mara yang juga terlihat sangat terkejut melihat ciuman antara Uno dan Diandra.
“Uno, kenapa kamu lakukan ini?” Diandra dengan suara terbata bertanya pada Uno saat dia bisa melepaskan ciumannya.
“Tunggulah aku, Diandra, aku sangat mencintai kamu dan aku tidak melakukan semua ini. Percayala.” Tangan Uno menelusuk ke dalam sela-sela rambut Diandra.
Diandra melepaskan tangan Uno dengan deraian air mata. “Kamu sudah milik orang lain, Uno. Aku mohon lupakan aku sekarang.
“Apa-apaan ini? Uno apa maksud kamu mencium putriku? Kamu sudah menikah dan istri kamu ada di sini! Apa kamu pantas melakukan hal ini?”Tommya seketika marah dengan Uno.
Juna melihat ke arah Arana. “Arana, apa kamu tau semua ini?” Wajah Arana tampak sangat bingung. “Kamu tau, dan kamu harus jelaskan semua padaku.” Juna berjalan mendekat ke arah putranya.
“Maaf, aku, Paman. Aku memang lelaki pengecut yang tidak berani mengatakan kepada kalian tentang hubunganku dengan Diandra.”
“Apa maksud kamu, Uno?” tanya Juna.
“Yah, aku sebenarnya menjalin hubungan sudah lama dengan Diandra sejak dia beberapa hari tinggal di sini, bahkan sampai saat ini. Aku
dan Diandra menyembunyikan semua dari kalian karena aku dan Diandra sepakat
akan mengatakan hal ini saat waktunya sudah tepat. Waktu itu kami mau mengatakan, tapi karena masih ada beberapa masalah jadi kami menundanya. Setelah pernikahan Kak Zia dan Kak Dion aku akan melamar Diandra, dan sekali
lagi aku tidak bisa mengatakan karena masalah ini.”
“Diandra, apa itu benar?” Tommya mencoba bertanya pada putrinya.
“Iya, Yah. Aku dan Uno saling mencintai bahkan sampai sekarang, tapi sekarang aku akan mencoba melupakan Uno. Aku yang melarang Uno mengatakan tentang hubungan kita karena aku masih ingin tau apakah Uno benar-benar serius padaku dan aku tau dia serius.”
“Kalau dia serius tidak mungkin akan melakukan hal seburuk itu dengan kakaknya!” Bentak Tommy marah.
__ADS_1
“Tom.” Mara memegang tangan calon suaminya. Apa yang Mara duga selama ini memang benar, Mara curiga jika Uno dan Diandra ada hubungan ternyata benar.
“Paman, aku minta maaf, aku benar-benar tidak menyangka akan seperti ini akhirnya. Aku sungguh-sungguh mencintai Diandra.”
“Lupakan cinta kamu itu, Uno! Diandra gadis baik-baik jangan buat dia menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kamu, kamu sudah menikah dengan Zia apapun alasannya, jadi jauhi putriku, dan Diandra juga akan melupakan kamu.”
“Tom, aku minta maaf, aku juga tidak mengetahui tentang hal ini.”
“Juna, maaf, bukannya aku marah dengan Uno, tapi lebih baik kamu bicara dengan putra kamu tentang hal yang tadi aku katakan. Putra kamu
harus melupakan Diandra. Jujur saja aku sangat kecewa karena Diandra sekali lagi di sakiti oleh seseorang.
“Paman, maafkan Uno. Aku juga tidak tau jika gadis yang disukai Uno adalah Diandra. Aku minta maaf sudah merusak hubungan kalian. Namun, sekarang aku dan Uno sudah menikah dan aku harap Diandra juga Uno tidak terlibat hubungan apa-apa karena pasti nanti
Diandra yang mendapat pandangan buruk dari orang lain,” jelas Zia. Ih! Ini orang pandai banget ya bicaranya seolah meninggikan, tapi nyatanya menjatuhkan niatnya.
“Diandra tidak akan melakukan hal itu. Putriku gadis baik dan terhormat, dia tidak akan mau merebut suami orang walaupun awalnya Uno
malah merebut Uno dari Diandra, tapi kira-kira paham tidak Zia tentang maksud Tommy?
“Ayah, ayo kita pergi sekarang.” Diandra memegang tangan Tommy. Mereka akhirnya pamit pergi dari mansion kakek dengan perasaan yang tentu saja tidak enak satu sama lainnya.
Di dalam pesawat Tommy hanya diam saja, mereka bertiga tidak saling berbicara, hanya terdengar suara isak tangis pelan Diandra yang dipeluk oleh Mara. Sedangakan di rumah Juna tampak terdiam dan anak-anak mereka tidak
berani mengajaknya berbicara, mereka tau sifat ayahnya kalau sudah begitu.
“Uno, kita ke kamar saja, besok pagi saja kita akan berbicara dengan ayah.” Zia menggandeng tangan Uno.
“Aku mau tidur di kamarku saja, Kak. Kakak bisa tidur di kamar Kakak dulu.” Uno naik ke atas kamarnya.
“Binna, aku mau permisi dulu.”
“Maaf ya Lila, kamu harus melihat drama rumah tangga seperti ini. Kamu tidak apa pulang sendirian?”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, kamu tenang saja, aku besok akan menghubungi kamu, kamu sebaiknya istirahat juga sama Kak Devon.”
Lila tidak pamit dengan ayah Binna karena tau ayah Binna sedang tidak baik perasaannya.
"Binna, kita tidur saja. Kamu pasti lelah seharian membantu acara tadi."
Kak Devon mengajak istrinya naik ke lantai kamarnya, mereka tidur di kamar Sabinna.
Di kamarnya, Zia tampak kesal karena kejadian Uno yang mencium Diandra dan sekarang Uno malah tidak mau tidur dengannya di dalam kamar.
"Aku harus cepat-cepat pergi dari mansion ini, dan nanti di rumah ayah Juna. Tidak akan ada lagi yang mengganggu kehidupan rumah tanggaku dengan Uno." Zia merebahkan tubuhnya terlentang di atas ranjangnya. Terlukis senyum lebar pada bibir Zia. Dia benar-benar bahagia karena Uno sudah menjadi miliknya.
"Kak Devon. Aku kasihan sama Kak Uno dan Diandra tadi." Binna yang sudah berganti baju tidurnya duduk bersandar pada dada Devon.
"Kakak tau tidak, aku masih tidak percaya dengan semua ini. Aku berharap ini mimpi buruk, tapi saat aku mencubit tanganku, ternyata aku tidak bermimpi."
"Sudahlah, sekarang kakak kamu sudah menikah dan kita hanya bisa mendoakan mereka saja."
"Aku akan berdoa semoga akan terbuka semuanya jika kak Zia melakukan semua ini dengan liciknya." Binna berbaring di atas tempat tidurnya, sedangkan kak Devon hanya menggeleng-geleng perlahan.
Uno melihati foto Diandra di dalam kamarnya. Uno benar-benar tidak menyangka dia akan kehilangan dan jauh dari Diandra seperti ini.
***
Keesekoan harinya. Keluarga Arana berkumpul di meja makan. Juna masih tampak terdiam dan makan dengan tenang.
"Yah, aku ingin menjelaskan tentang hubunganku dengan Diandra."
"Uno, nanti mulailah berkemas dan kamu serta Zia pindah ke rumah pribadi ayah. Kamu dan Zia akan memulai hidup bersama, dan ayah harap kamu tidak menyakiti hati kakak kamu nantinya."
"Tapi, Yah."
Seketika tangan Zia memegang tangan Uno agar Uno tidak menentang ayahnya
__ADS_1