
Arana berlari kecil mengejar Uno yang terlihat marah berjalan menuju mobilnya di luar. Arana takut melihat muka putranya yang terlihat seperti Juna saat marah.
"Uno! Ibu akan ikut sama kamu."
"Ibu di rumah saja, biar aku yang menyelesaikan semua ini dengan Kak Zia."
"Ibu mau ikut, Uno." Arana langsung masuk ke dalam mobil Uno dan Uno melaju dengan cepatnya menuju ke rumahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Uno sudah sampai di rumahnya. Zia yang sedang sibuk menata barang-barang belanjaannya di kamar tidak mengetahui Uno datang.
Uno membuka pintu rumahnya dan kaget melihat Ken di gendong oleh seorang wanita seumuran kakaknya dengan baju berwarna cream.
"Maaf, Anda siapa?" tanya wanita itu.
"Kamu yang siapa? Dan kenapa anakku bisa kamu gendong?" Uno mengambil Ken dari tangan pengasuh bayi itu.
"Maaf, Anda siapa? Apa Anda ayah dari Ken?"
"Mba, dia ayah dari bayi yang kamu gendong," jelas Arana.
"Oh jadi dia ayah dari Ken. Maaf, saya tidak tau, Pak. Saya pengasuh bayi yang baru saja di pekerjakan oleh bu Zia untuk merawat Ken."
__ADS_1
"Apa? Pengasuh bayi? Tapi kenapa Kak Zia tidak memberitahuku sebelumnya?"
"Lalu di mana bu Zia?" tanya Arana.
"Bu Zia sedang ada di kamarnya menata barang-barang belanjaannya."
"Barang belanjaan? Memangnya dia habis dari mana?"
"Bu Zia barusan pulang belanja, Pak."
"Apa? Jadi dia meninggalkan Ken di rumah bersama kamu yang baru bekerja pertama kali? Kak Zia benar-benar keterlaluan!"
Tidak lama Zia keluar dari dalam kamar dan terkejut melihat ada Uno dan ibunya di sana. "Uno, kamu sudah pulang?"
"Em ... aku hanya jenuh di rumah dan capek mengurus Ken sendiri, Uno."
"Kakak jenuh mengurus bayi Kakak sendiri? Oh Tuhan! Kakak baru berapa hari bersama, Ken? Kalau Kak Zia jenuh, Kakak bisa bilang padaku, aku sudah mengatur untuk kita bisa liburan bertiga."
"Uno," Arana mencoba meredam kemarahan putranya.
"Kak Zia sangat ceroboh, Bu. Dia seenaknya menitipkan Ken pada pengasuh yang baru di pekerjakan, apalagi dia tidak membicarakan hal ini denganku."
__ADS_1
"Aku minta maaf, Uno." Zia mencoba mendekati Ken."
Uno memberikan Ken pada Ibunya kemudian Uno mengambil kotak merah yang tadi di taruh di meja. "Kak, sekarang aku minta penjelasan Kakak mengenai isi yang ada di dalam kotak merah itu?"
Seketika kedua mata Zia membelalak melihat Uno membawa kotak merah miliknya. "Ka-kamu kenapa bisa menemukan kotak ini?"
Uno membuka kotak itu dan mengambil kalung milik Diandra. "Kenapa kalung milik Diandra bisa ada bersama Kakak? Bukannya kalung ini dimbil oleh para perampok yang menusukku waktu itu?"
Zia tampak bingung harus menjawab apa tentang pertanyaan Uno. "Uno, aku bisa jelaskan semuanya."
"Banyak hal yang Kak Zia sembunyikan dariku dan dari keluarga kita. Aku akan mencari tau tentang pria yang adalah ayah kandung dari Lal Zia itu. Ayo, Bu! Kita pergi dari sini."
"Uno! Kamu mau ke mana?" Zia mencoba menghentikan Uno yang akan keluar dari dalam rumah.
"Aku akan pulang ke rumah Ibu dan Ken akan ikut denganku, Kak. Aku tidak percaya jika Kakak bersama dengan Ken."
"Uno, apa tidak sebaiknya kita bicara dulu masalah ini baik-baik?"
"Setelah kita temukan ayah kandung Kak Zia. Baru akan kita bicarakan hal ini." Uno tetap pergi dari rumah bersama Ibunya.
"Uno ... Uno!" teriakan Zia tidak di pedulikan oleh Uno. Zia menangis di tempatnya.
__ADS_1
Ada yang mau beri author kopi apa bungan gitu wkakakka