
Binna naik motor sport milik cowok itu, di duduk agak memberi jarak antara dirinya dan cowok itu. Cowok itu hanya membawa helm satu dan dia memberikan helmnya pada Sabinna, Sabinna memakai helm yang di berikan cowok itu tanpa basa basi.
"Apa kamu tidak biasa naik motor?" tanya pria itu, dia merasa Binna kaku sekali, seperti orang bingung dan takut.
"Pernah sama kakakku, tapi jangan ngebut, Ya
Aku takut," ucapnya dengan nada takut.
"Majulah sedikit, atau kamu akan jatuh, aku akan mengantar kamu secepatnya ke sekolah."
"Hah maju? tapi--."
Belum selesai, Binna berbicara, tangan cowok itu menarik tangan Binna untuk memeluknya dan seketika di melajutan motornya dengan cepat, Binna yang takut langsung memeluk cowok itu erat.
Cowok itu hanya terdiam dan fokus menjalankan motornya sampai akhirnya dia sampai di depan sekolah Sabinna. Sabinna yang belum sadar karena takut masih memeluk cowok itu.
"Hei! sudah sampai, jangan memelukku terus, kamu tidak ingin sekolah?" ucapnya sambil menggoyangkan tubuhnya pelan.
Sabinna yang tersadar bahwa motor yang dia tumpangi berhenti, dia menarik kepalanya dan dengan cepat turun, melepaskan helmnya, muka Sabinna tampak cemberut. "Kamu tadi tidak dengar ya aku bilang apa? jangan ngebut, kenapa kamu malah ngebut?" Binna tampak kesal.
"Kamu bilang takut telat ke sekolah, yang terpenting kamu sampaikan sekarang di sekolah kamu."
__ADS_1
Sabinna benar-benar kesal. "Ini helm kamu dan ini uangnya karena sudah mengantar aku." Binna memberikan helm dan beberapa lembar uang yang tidak tau jumlahnya. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam kelasnya sambil sesekali melihat cowok yang mengantarnya masih duduk di atas motornya itu.
Setelah Sabinna tidak terlihat lagi, cowok itu melihat uang yang tadi di berikan oleh Sabinna. Tertarik sebuah senyuman di sudut bibirnya. "Gadis yang menyenangkan, tapi pemarah. Dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih, malah memberi uang ini. Mama ... mama! semoga aku dan dia betah nanti jika menikah." Cowok itu pergi dari sana dengan cepat mengendarai motornya.
Di sekolahnya Binna sedang sibuk membaca bukunya, masih ada waktu 10 menit sebelum bel berbunyi. "Rajin amat, Binna? belum belajar ya semalam?" tanya Lila yang tiba-tiba nongol di sampingnya.
"Hem ...!" jawaban singkat Binna sambil terus fokus membaca.
"Kamu kan pintar, tenang saja, pasti kamu bisa mengerjakan ulangan nanti, atau kalau tidak kamu kan bisa minta bantuan si prince kamu itu-- Lukas. Eh tapi Lukas mana ya? tumben dia belum nongol.
Seketika Sabinna langsung mengedarkan pandangannya keseluruh kelas. "Iya, tumben dia belum datang, biasanya dia rajin? apa terjadi sesuatu sama dia?" Binna sekarang malah cemas sama Lukas.
Seketika muka Binna sekarang berubah aneh. Dia memandang Lila dengan cemberut. "Kenapa malah mengingatkan hal itu? kamu membuat moodku buruk saja, Lila." Binna lemas dia membaringkan kepalanya pada meja di depannya.
"Aku kan cuma bertanya, lagian kamu itu mending menurut sama ibu kamu, orangnya jelas, kan? Kamu sama Lukas kan baru kenal beberapa bulan saja, dia juga orangnya misterius, kayak ada yang disembunyikan, apa kamu tidak merasa?"
"Tidak, aku tidak merasakan apa-apa, dia selama denganku dia anak yanh baik, perhatian dan sangat lembut memperlakukan aku."
"Sudah ketutup cinta ini bocah, ya sudahlah, cuma saran aku kalau jadi kamu, mending aku sama yang sudah jelas saja, keluarganya jelas, masa depan jelas, bahagia hidup kita," ucap Lila sambil beranjak pergi dari sana, dia kembali duduk di bangkunya.
Sebenarnya Lila ini pernah di hubungi sama ibu Sabinna--Arana, Arana bertanya semua tentang siapa yang dekat dengan Sabinna, Arana ini protek banget sama putrinya itu, siapa teman yang dekat dengan Sabinna. Lila menceritakan semua, ya, itung-itung baik sama calon ibu mertua, siapa tau besok-besok Lila dijodohkan sama Uno. Wakkakak. Lila kan ngefans sama kakak gantengnya Binna.
__ADS_1
"Maksud dia apa? dia berharap aku sama cowok yang di akan dijodohkan denganku, lalu dia sama Lukas. Enak saja!" Binna manyun, dia melihat sekitar kelasnya lagi, dan tidak ada tanda-tanda orang yang dia cintai akan muncul. "Lukas ke mana? kenapa dia belum datang, apa dia lupa hari ini kita akan ada ulangan?"
Bahkan sampai bel masuk berbunyi, Lukas tidak datang, sepertinya hari ini dia tidak masuk ke sekolah, Binna semakin cemas saja, apa dia sakit? atau ada masalah, karena setahu Binna, Lukas itu cowok yang pendiam dan jarang berteman dengan dengan banyak teman lainnya, dia lebih senang menyendiri.
"Ayo Binna fokus, jangan memikirkan yang lain dulu, ingat tempat menari kamu, kamu tidak mau kan kehilangan tempat menari kamu?" Binna sedang berdialog sendiri menyemangati dirinya yang jujur saja saat ini dia bingung, cemas memikirkan Lukas, dan nanti malam dia akan bertemu dengan cowok yang akan di jodohkan dengan dirinya.
Ulangan di mulai, Sabinna sudah mulai fokus pada kertas-kertas yang ada di depannya, sambil sesekali dia melihat ke arah pintu masuk, berharap Lukas akan datang walaupun terlambat, Binna khawatir jika terjadi apa-apa sama Lukas.
Di kampusnya, Uno yang sedang duduk-duduk dengan teman-temanya di datangi oleh kekasihnya Cerry, Cerry bertanya bagaimana reaksi ibunya menerima kado ulang tahun darinya, Uno beranjak dari tempat duduknya sambil membawa tasnya dia mengajak Cerry ke bangku taman yang ada di dalam kampus mereka.
"Cerry, ini ambil kembali kado yang kamu berikan untuk ibuku, karena ibuku tidak berulang tahun kemarin, maaf sudah membohongi kamu." Uno menyerahkan hadiah yang kemarin Cerry kirimkan ke rumah Uno.
"Apa? tapi kamu bilang ibumu ulang tahun? lalu kamu ke mana kemarin saat aku mau mengajak kamu ke rumahku?"
"Aku di rumah berkumpul sama keluargaku, memangnya ada masalah?"
"Kamu pasti bohong, kamu pasti punya janji dengan cewek lain, iya kan?" Nada bicara Cerry agak marah.
"Kalau iya memangnya kenapa, kamu sudah tau kan, aku mau berpacaran sama siapapun gadis yang menyatakan cinta sama aku, tapi aku tidak mau dia membelengguku, aku bebas berbuat semauku."
"Uno." Cerry mendekat dan mulai merayu Uno. Dia mengusap lembut pipi kekasihnya itu, bahkan dia berjinjit untuk meraih bibir Uno dan akhirnya dia berhasil mengecup pelan bibir Uno. Uno hanya bersikap datar dengan semua sentuhan dan kecupan yang diberikan oleh Cerry. Kayak ini Uno sudah bosan sama Cerry. Hadew ...!
__ADS_1