Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Paviliun Kenangan


__ADS_3

Mereka semua makan pagi di meja makan. Uno tampak memperhatikan Diandra yang tengah menikmati makanannya.


"Diandra, ayah mungkin nanti pulang agak malam, karena ayah mau pergi dengan teman ayah," ucap Tommy memberitahu putrinya.


"Ayah mau makan malam dengan tante Mara?"


Tommy yang mendengar pertanyaan Diandra langsung terdiam. Putrinya ini masih sangat mengharapkan ayahnya dengan Mara. Tommy sudah beberapa kali menghubungi Mara, tapi sepertinya wanita itu menghindar dari Tommy.


"Bukan, Sayang. Ayah mau pergi dengan teman lama ayah, kapan hari kita bertemu saat ayah membelikan kamu kue."


"Oh teman ayah, siapa? Cewek?"


"Dia itu sebenarnya mantan kekasih ayah kamu, Diandra. Wanita itu juga sangat baik, namanya Nina," jelas Juna.


"Tante Nina?" Diandra berpikir sebentar. "Iya, yah. Oh ya, Yah! Apa ayah tidak bertemu lagi dengan tante Mara?"


Juna dan Tommy saling melihat. "Em ... tante Mara kamu sedang keluar kota, sepertinya dia masih sibuk dengan pekerjaannya," bohong Tommy.

__ADS_1


"Oh, ya sudah. Nanti kalau sudah tidak sibuk, tante Mara pasti akan menghubungiku." Diandra tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.


Uno hari ini akan mengantarkan Zia dan Binna ke sekolah. Sedangkan Juna pergi ke kantor dengan Tommy.


"Ibu Arana, apa ada yang bisa aku bantu? Aku kan sedang tidak ada kegiatan mengajar hari ini."


"Biasanya rumah akan sangat sepi kalau semua sudah pergi melakukan kegiatan mereka masing-masing, tapi sekarang tidak terlalu sepi karena ada kamu." Arana memeluk Diandra.


"Tapi besok Ibu Arana sendirian, aku kan besok sudah mulai mengajar." Diandra membalasnya dengan senyuman.


"Iya, hanya ada si bandel Uno itu, tapi pasti dia keluar dengan kekasihnya, anak itu kan kadang tidak betah di rumah."


"Tapi memang seorang wanita lebih baik di rumah, apalagi kalau sudah menikah, seperti Ibu. Ayah Juna kamu saja dulu sangat melarang Ibu Arana keluar kalau tidak sama dia, bekerja di perusahaannya saja harus berdebat dulu."


"Itu karena ayah Juna sangat mencintai ibu Arana, dan tidak mau Ibu Arana di ambil orang."


"Ahahah! Mau mendapat masalah dia kalau berani berurusan sama ayah Juna kamu? Ya sudah, bagaimana kalau kamu membantu Ibu menanam bunga di taman saja? Kemarin Ibu membeli bibit bunga baru dan belum ibu tanam."

__ADS_1


"Iya, aku mau, Bu."


Arana dan Diandra pergi ke taman di belakang mansion itu, mereka mulai menanam bibit bunga mawar di sana, Diandra tampak senang, dia tidak pernah melakukan kegiatan seperti ini sebelumnya. Arana mengajarinya dan Diandra dengan cepat bisa mengerjakannya.


"Diandra, ibu ke dalam dulu, ibu lupa menyuruh pelayan membeli beberapa bahan makanan untuk makan siang nanti." Diandra mengangguk dan Arana masuk ke dalam rumah.


Diandra masih sibuk dengan kegiatannya di sana. "Bunganya sangat cantik," suara seseorang membuat Diandra agak kaget.


"Uno, kamu?"


"Bunga itu sangat cantik, tapi kamu lebih cantik dari semua bunga itu Diandra," pujinya.


"Dasar tukang rayu! Kamu sudah pulang? Apa kamu tidak ada jadwal kencan sama cewek kamu?" Diandra bertanya dengan tangan yang masih menanam bunga itu.


"Ada. Hari ini aku kan mau mengajak kamu kencan, seperti apa yang aku bilang tadi."


"Di paviliun itu? Tapi aku masih membantu ibu kamu."

__ADS_1


Uno mengambil sekop kecil yang di bawa Diandra dan melepaskan sarung tangannya. "Tenang saja, aku sudah bilang sama ibuku, sekarang kamu ikut sama aku." Uno menggandeng tangan Diandra dan mengajaknya menuju paviliun yang tidak jauh dari taman itu.


__ADS_2