
Binna diajak pergi oleh Lila dari sana. Di dalam mobil, Binna masih saja tertegun duduk di samping Lila yang mengendarai mobilnya. "Kamu itu gimana sih, Binna? Kenapa kamu tidak bilang jika kamu sudah menikah dengan kak Devon?" Binna sama sekali tidak menjawab, dia malah terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Binna!" suara Lila meninggi.
"Apa sih?"
"Huft! Ini anak, kenapa kamu malah diam saja aku tanyai? Kamu itu kenapa tidak bilang tentang pernikahan kamu? Tidak seharusnya kamu berbohong seperti itu, kamu harus jujur sama Lukas, apalagi dia masih mengharapkan kamu, saat tadi aku melihat wajahnya."
"Aku tidak tega bilang begitu sama dia, Lila. Apalagi melihat mukanya yang polos itu, dia masih tetap sama seperti dulu, dia masih sangat lembut dan begitu penyayang." Binna seolah membayangkan sesuatu.
Lila menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat kelakuan sahabatnya itu. "Kamu itu jangan memikirkan oranga lain, apalagi cowok. Ingat, Binna! Kamu sudah punya suami, kamu istri dari seseorang, jadi kamu jaga sikap dan perasaan kamu, jaga juga perasaan kak Devon suami kamu."
Binna tidak menjawab, dia hanya terdiam duduk di tempatnya. "Lil, tolong jangan katakan apa-apa sama Lukas, Ya? Jangan katakan kalau aku sudah menikah, dan sekarang tinggal dengan Kak Devon di apartemen."
Lila tiba-tiba menghentikan mobilnya, membuat Binna sangat kaget, kepalanya hampir terbentur dasboar. "Lila! Kamu ini tidak bisa pelan-pelan? Kalau kepalaku terbentur bagaimana?" Lila mengelus dadanya.
"Biarin! Biar kamu bisa sadar. Memangnya kamu mau kembali dekat dengan Lukas? Kamu masih ingin memiliki hubungan sama dia?" Kedua mata Lila mendelik.
Binna hanya terdiam melihat wajah Lila. Binna bingung dengan perasaannya. Binna ingat ucapan ibunya tentang menjadi istri yang baik, tapi saat bertemu Lukas tadi, perasaannya menjadi tidak karuan, apalagi perlakuan baik Lukas yang ingin meminta maaf kepada keluarga Binna, dan sikap manisnya.
"Lil, aku hanya ingin hubunganku dengan Lukas baik-baik saja. Nanti kalau sudah waktunya, baru aku akan bilang pada LUkas." Binna cemberut.
"Kamu harus bilang sama Lukas, kamu harus bisa menjaga rumah tangga kamu yang baru seumur jagung ini. Jangan sampai kamu dan kak Devon salah paham.
"Kalaupun rumah tanggaku ada masalah itu karena perbuatan kak Devon duluan dengan Karla. Bukan karena aku dan Lukas. Aku dan Lukas saja barusan bertemu."
__ADS_1
"Belum tentu juga kak Devon mengkhianati kamu, itu mungkin kamu salah paham. Pokoknya kamu harus menyelesaikan masalah kamu dengan kak Devon. Jangan malah mencari pelarian dengan orang lain. Kamu sudah melupakan perasaan kamu sama Lukas, Kan?"
"Aku--?"
"Katanya kamu mulai membuka diri untuk kak Devon? Kamu mulai menyukai sikap bar-bar dia? Sekarang kenapa diam begini?"
"Sudahlah! Aku tidak mau membahas itu. Dia sudah menyakiti aku, dan hal itu masih belum bisa aku maafkan. Lukas saja yang dulu dekat denganku tidak pernah mengkhianati aku, bahkan banyak yang menyukai dia, tapi dia tidak peduli. Kenapa semua ini harus aku alami? Coba Lukas waktu itu datang ke rumah, dan mamanya tidak sakit, pasti sekarang aku bisa bersama dengan dia." Binna menghela napasnya pelan.
"Binna, itu berarti kamu memang tidak dijodohkan sama dia, jodoh kamu itu kak Devon, dan kamu harus menerima kenyataan itu."
Binna ini menyayangkan sekali, kenapa bisa menikah dengan orang yang dia pikir benar-benar tulus, ternyata mengkhianati dia, dan orang yang di anggap dulu pergi tanpa kabar karena tidak serius kepadanya, kembali dengan membawa alasan yang benar-benar membuat Binna tertegun.
Tidak lama mereka sampai di depan parkiran apartemen kak Devon, Binna melihat ada motor milik suaminya di sana. "Binna, suami kamu sepertinya sudah sampai. Aku titip salam saja, ya?"
"Kamu tidak mau mampir ke dalam dulu? Kamu masuk dulu saja, Lila, atau aku menginap ke rumah kamu malam ini, Ya?" rengek Sabinna.
"Kamu kenapa jadi sok bijak begini, bicara kamu sudah seperti ibu-ibu saja." Binna turun dengan kesal. Lila di dalam mobil terkekeh pelan.
"Huft! Aku kan sahabat kamu Binna, dan aku orang yang selalu berada di balik kedekatan hubungan kamu sama Devon karena ibu kamu sering bertanya tentang kamu, dan kak Devon juga orang yang yang pantas buat kamu." Setelah berdialog sendiri, Lila pergi dari sana.
Binna masuk perlahan ke dalam apartemen miliknya, Saat membuka pintu, Binna melihat suaminya sudah ada di sofa ruang tamu tanpa memakai atasan, dia sedang mengobati luka pada lengan tanggan. Binna agak kaget melihat keadaan suaminya itu, tapi Binna berusaha menyembunyikan perhatiaannya, karena dia masih kesal dengan suaminya.
"Kamu dari mana, Binna?" tanya cepat kak Devon.
"Aku habis keluar berbelanja dengan Lila. Memangnya kenapa? Apa tidak boleh?"
__ADS_1
"Boleh saja, tapi kenapa kamu tidak meminta izin dulu denganku?" Devon menatap Sabinna. Binna meletakkan belanjaannya dan kue dari Lukas di atas meja, dan Binna duduk di samping suaminya.
"Salah sendiri, kenapa pergi begitu saja, aku mau pamit bagaimana?" Binna melirik suaminya yang mukanya terdapat beberapa lebam.
"Kamu bisa menghubungi ponselku atau mengirim pesan sama aku."
"Bateraiku habis," jawabnya ketus.
"Kan bisa meminjam ponsel Lila?"
"Kenapa di bahas terus? Yang penting aku kan sudah pulang. Lagian Kakak pergi terburu-buru tadi mau ke mana? Dan kenapa pulang-pulang mukanya seperti itu?
Ini aslinya Binna mau tau suaminya kenapa? Tapi kalau tanya seperti biasa, nanti takutnya dikiran Binna peduli.
"Aku habis berkelahi gara-gara wanita bernama Miranda." Devon rahanganya mengeras, dia terlihat masih kesal.
"Miranda? Siapa lagi? Kenapa banyak sekali cewek Kak Devon?"
"Miranda itu kekasih gelapnya Dimitri. Tadi Miranda menghubungiku, dia minta tolong karena rumahnya di datangi oleh tunangannya dan terjadi perkelahian seperti ini. Aku tidak bisa diam saja melihat Dimitri dipukuli."
"Salah sendiri, kenapa sudah punya istri malah selingkuh, sama seperti sepupunya." Binna melengos beranjak dari kursinya.
Devon dengan cepat menangkap tangan Sabinna. "Kamu mau ke mana? Apa kamu tidak mau membantuku mengobati lukaku?"
"Aku mau ke atas latihan menari, untuk menghilangkan pikiran yang menggangguku. Lagian Kakak obati saja sendiri lukanya. Itukan hasil dari perbuatan Kakak sendiri yang mau-maunya membela suami yang beselingkuh."
__ADS_1
Binna naik ke lantai atas kamarnya dengan membawa barang-barang belanjaannya.