Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Keberangkatan Ke Kanada


__ADS_3

"Tidak perlu, Kak. Aku tidak mau nanti Kakak kelelahan, Kakak kan sedang hamil.” Uno memutar tubuhnya melihat pada Kakaknya.


Zia tersenyum pada Uno dan mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Uno. “Kamu perhatian sekali.” Tangan Zia menggelayut pada leher Uno dan Zia mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Uno.


Seketika bayangan Diandra muncul tepat di depan Uno. “Kak!” Uno menahan kedua pundak kakaknya dengan cepat. “Aku akan mandi dulu dan kita akan makan malam bersama.” Uno segera beranjak dari sana dan membawa baju serta tasnya masuk ke dalam kamar tidur.


Wajah Zia seketika tampak kecewa. Zia tau Uno pasti masih memikirkan Dindra, lama-lama Zia ingin menyingkirkan Diandra juga dari bumi ini


agar tidak ada yang menganggu dirinya dan Uno lagi.


Zia menyiapkan makan malam untuk Uno, mereka makan malam berdua, tanpa ada pembicaraan yang terdengar di sana. Malam harinya Uno tidur di dalam kamar dengan kakaknya, tapi mereka seperti biasa berjauhan.


Zia yang melihat hal itu mencari cara agar Uno bisa lebih dekat dengannya. Dia pura-pura muntah dan berhasil. Uno merasa cemas melihat keadaan kakaknya itu dia memijit belakang leher kakaknya dan membopong tubuh kakaknya ke atas tempat tidur. “Kak, apa sudah merasa baikkan?”


Zia meminum air yang diberikan oleh Uno. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Aku sudah lebih baik, aku mau tidur, Uno.”


“Kakak tidurlah dengan nyenyak.”


Saat Uno mau pergi, tangannya dengan cepat di pegangi oleh Zia. “Kamu mau ke mana? Aku ingin kamu tidur di sampingku, Uno. Aku benar-benar tidak enak badan, bayi kita sepertinya agak rewel ini di dalam,” ucapnya manja.


Uno terdiam sejenak. Lalu dia naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Kak Zia. Zia mendekat dan menyandarkan kepalanya pada dada Uno. “Selamat malam, Uno,” ucapnya lalu dia memejamkan kedua matanya. Uno hanya bisa terdiam di tempatnya membiarkan kakaknya tidur dengan memeluknya.


***


Mereka berangkat ke Kanada dengan menggunakan pesawat pribadi milik Harajuna. Di dalam pesawat Uno hanya duduk terdiam, dia sedang menyiapkan dirinya agar kuat saat bertemu dengan Diandra, semoga dia tidak


lepas kendali seperti  waktu itu. Zia yang duduk di sampingnya memeluk lengan tangannya dengan manja. Binna yang melihatnya jelas saja sebal sekali.


“Kamu mau ke mana, sayang?” tanya Kak Devon yang melihat Binna beranjak dari tempat duduknya.


“Mau ke kamar mandi, Kak. Aku mau muntah.”


“Apa? Kamu mau muntah? Apa kamu baik-baik saja?”


“Kamu ingin muntah, Binna?” tanya Arana yang mendengar pembicaraan mereka. “Jangan-jangan kamu hamil juga, Binna?” Raut wajah Arana tampak sangat bahagia. Binna jadi bingung sekarang, dia ingin muntah karena

__ADS_1


melihat sikap kakaknya yang bernama Zia itu sok manja.


Kamu hamil?” tanya lagi suaminya dengan muka yang sangat bahagia.


“Em ... aku tidak hamil hanya tidak enak saja perutnya. Sudah dulu ya, Bu! Aku kebelet juga ini.”Binna langsung ngibrit.


Setelaha menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai pada malam hari di rumah Tommy, di sana masih sangat ramai dengan beberapa EO yang masih sibuk mendekor semuanya. Mara juga terlihat sedang sibuk di sana. Dia ingin menata semuanya sendiri.


“Mara, kamu istirahatlah, jangan terlalu capek.” Tommya memeluk Mara dari belakang.


“Tom,lusa sudah menjelang pernikahan kita aku benar-benar ingin memastikan semuanya selesai dan tertata dengan baik. “


“Kamu itu dari awal sudah sangat sibuk dan benar-benar serius dengan semua ini.”


“Tentu saja karena aku sangat menanti hari ini, Tom. Aku sangat bahagia dapat merasakan menjadi seorang pengantin, hal yang dari dulu


menjadi impianku apalagi menikah dengan kamu.” Mara tanpa sungkan mengecup bibir Tommy di sana.


“Ehem ...!” Terdengar suara deheman dari arah samping mereka.


“Kamu keterlaluan sekali, Tom! Tidak menjemputku hanya menyuruh supir kamu dan kamu di sini malah bermesraan dengan Mara. Apa tidak bisa di tahan sampai nanti kalian menikah,” cerocos Juna.


“Kenapa? Kamu iri melihat aku bisa bermesraan dengan seorang wanita?”


Tommy tersenyum devil lalu mereka berpelukan dan saling melepas rindu. “ Kak Diandra mana, PamanTommy?” tanya Binna langsung.


“Kamu sudah kangen ya sama Kakak kamu, Binna?” tanya Mara.


“Iya, aku sudah lama tidak bertemu bahkan saling menghubungi. Kakak Diandra sepertinya sudah sangat sibuk, Ya.”


“Dia memang sedang sangat sibuk dengan pembukaan sekolah musiknya sendiri yang 2 bulan lagi akan dia buka,” jelas Tommy.


“Wah! Pasti keren kalau kak Diandra yang membuka sekolah musik itu sendiri. Lalu di mana dia?”


“Dia ada di dalam sedang menemani temannya yang sedang melukis wajah Mara dan aku untuk nanti akan kita taruh di acara pernikan kami dan rumah ini. Dia juga guru yang sama-sama mengajar di sekolah di mana Diandra

__ADS_1


mengajar, tapi dia seorang guru seni lukis. Kalian masuk dulu dan beristirahatlah dulu di kamar kalian, kalian pasti capek.”


“Aku mau menemui Kak Diandra dulu, Paman.” Binna berlari riang diikuti oleh suaminya.


“Iya, kita akan menyapa Diandra dulu.”


Mereka semua menuju taman belakang di mana Diandra sedang duduk berdampingan dengan Neil  yang sedang fokus melukis. Uno yang melihatnya seketika merasakan ada rasa sakit yang berdenyut di dalam hatinya. Diandra tampak sangat bahagia saat Neil berbicara dengan Diandra menjelaskan tentang lukisan yang sedang dia buat.


“Kak Diandra!” panggil Binna, dan seketika Diandra beranjak dari tempatnya duduk dan menoleh ke asal suara itu.  Binna dengan senangnya memeluk erat Diandra.


“Binna, kalian sudah datang?”


“Iya, kamu barusan datang, Kakak bagaimana kabarnya?”


“Aku baik, Binna. Ibu Arana dan ayah Juna mana?” Diandra meraba-raba mencari mereka.


Mereka kemudian saling berpelukan, Diandra juga memperkenalkan Neil kepada keluarga Binna. Neil berkenalan dengan Uno, dia memperhatkan Uno dan Zia.


“Halo, Diandra,” sapa Uno lirih sambil perlahan mengajak Diandra berjabatan tangan dengan Diandra.


“Halo, Uno, bagaimana kabar kamu? Oh ya! Selamat atas kehamilan istri kamu, aku ikut senang mendengarnya saat ayahku mengatakan jika kamu akan menjadi seorang ayah.” Diandra ini benar-benar terlihat sangat kuat dan tegar, dia sama sekali tidak menunjukkan hatinya yang sebenarnya remuk


redam.


“Terima kasih, Diandra, doakan semoga aku dan bayi Uno sehat selalu sampai hari kelahiran, kamu pasti akan senang jika nanti bayi kita lahir.” Zia mulai berulah.


“Iya, Kak. Pasti.”


“Oh ya! Dia kekasih kamu?” tanya Zia.


“Dia bukan kekasihku, Kak.”


“Aku sahabat baik Diandra di sekolah. Aku senang bisa bertemu bahkan berteman dengan Diandra, dia gadis yang luar biasa walaupun memilki kekurangan,” puji Neil.


Tommy datang ke sana dan menyuruh mereka untuk beristirahat di kamar yang sudah dia sediakan, mereka semua akhirnya memilih istirahat karena memang perjalanan ke Kanada yang benar-benar memakan waktu yang tidak sedikit.

__ADS_1


__ADS_2