Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Hari Yang Indah part 2


__ADS_3

Uno sekali lagi mengulangi, dia menyuruh Diandra berdiri di tempatnya semula. "Kamu di sana saja, dan aku akan berjalan agak jauh dari kamu, lalu saat aku bilang tarik benangnya kamu tarik benangnya, karena pada saat itu aku akan melepaskan layangannya. Paham, Kan?"


Diandra mengangguk, dan Uno berjalan menjauh dari Diandra dengan layangan ada di datangnya. "Diandra, kamu siap?" Teriak Uno.


"Iya," balas Diandra.


"Satu, dua, tiga. Tarik Diandra!"


Diandra lalu menarik gulungan benang dengan kedua tangannya. Layangannya langsung jatuh. Uno yang melihatnya menepuk jidatnya. "Apa sudah terbang?" tanya Diandra. Uno berjalan mendekat ke arahnya.


"Terbang apanya? Kenapa malah menarik gulungannya? Huft!" Uno malah menggerutu.


"Aku kan hanya menuruti apa kata kamu," Diandra memanyunkan bibirnya.


"Coba saja tidak di tempat umum, pasti aku akan mencium bibir kamu itu, kamu menggemaskan sekali kalau seperti itu," celetuk Uno, dan Diandra langsung menutup bibirnya dengan tangannya.


"Ya sudah kita mulai lagi, kamu pegang benangnya dengan posisi yang benar." Uno berdiri di belakang Diandra, dia memberitahu bagaimana memegang benang yang benar.

__ADS_1


"Uno--." Diandra merasa tidak enak, saat Uno seolah memeluk dirinya.


"Perhatikan Diandra, aku sedang memberitahu kamu." Diandra terdiam dan hanya mendengarkan apa yang dikatakan Uno. "Sudah bisa, Kan?"


"Iya, aku bisa." Uno kembali ke tempatnya dan mereka berdua mencoba menerbangkan lagi layangannya. Diandra sudah benar dalam menarik benangnya hanya saja layangan mereka beberapa kali tidak bisa terbang.


"Sekali lagi, Ya?" ucap Uno, dan kali ini layangan itu akhirnya terbang juga. "Pertahankan benangnya Diandra! Layangan kita sudah terbang!" seru Uno senang dan berlari menuju Diandra.


"Apa sudah terbang?" Tanya Diandra penuh suka cita.


Uno kembali berada di belakang Diandra, tangannya menumpuk pada tangan Diandra. Mereka berdua bermain layangan berdua. Terlihat wajah Diandra sangat senang saat dia mendengar dari Uno jika layangan mereka terbang sangat tinggi, dan ada satu layangan lagi yang seolah beradu dengan layangannya.


"Uno, apa layangan kita masih baik-baik saja?" Tanya Diandra sambil terus memegang benang itu, Uno pun yang masih di belakang Diandra masih serius menarik ulur benang itu.


"Yeah! Kita menang!" seru Uno bahagia.


"Apa? Kita menang?" Diandra tampak bahagia, dan dia reflek memeluk Uno, Uno pun juga memeluknya.

__ADS_1


Cup ...


"Kamu hebat Diandra!" Uno mencium pipi Diandra dengan cepat. Diandra yang mendapat kecupan itu terdiam di tempatnya. "Kamu kenapa? Kamu seharusnya senang, kita bisa mengalahkan layangan anak itu.


"Kenapa kamu menciumku?" tanya Diandra dengan suara lirihnya.


"Oh itu. Aku minta maaf jika hal itu membuat kamu tidak suka, tapi aku tadi hanya terlalu senang saja, lagipula kamu kan yang memeluk aku lebih dulu."


"Aku hanya reflek saja tadi, aku benar-benar sangat senang, aku tidak pernah melakukan hal bermain layangan dan sampai berlomba seperti itu."


"Ya sudah, kamu tidak perlu memikirkan itu. Kita simpan layangannya dan ikut aku, kamu pasti sudah capek." Uno menggulung layangannya, memberikan pada Diandra. "Aku harap kamu simpan layangan ini."


Unomenggandeng tangan Diandra, Uno mengambil sepatu miliknya dan milik Diandra. Uno mengajaknya berjalan di tempat yang agak sepi, dia meminjam tikar untuk mereka duduk.


"Kamu duduk di sini dulu, aku akan membelikan kamu minuman." Uno pergi dari sana.


Diandra duduk dan menunggu Uno di sana. Tidak lama beberapa orang menghampiri Diandra yang terlihat duduk sendirian.

__ADS_1


Maaf, ya sedikit dulu dan telat upnya, di rumah lagi banyak drama tadi. Wkakakak


__ADS_2