
"Ayo naik!" seru Devon dari atas motornya menunggu Binna yang malah berdiri menatap Devon dengan tatapan kesalnya.
"Kak Devon pulang saja sendiri! Aku bisa pulang naik angkutan, atau mobil online!" Muka Binna di tekuk marah melihat Devon.
"Apartemenku ini jauh dari jalan raya, kamu akan sulit mencari angkutan. Sudah, Binna. Naik!" ucapnya sekali lagi kesal melihat tingkah gadisnya itu.
"Aku bisa naik mobil online, aku akan memesannya lewat aplikasi di ponselku." Binna mengambil ponselnya, Devon dengan cepat turun dari motornya. Dan berdiri di depan Sabinna. Binna yang jarinya mau mengotak atik tombol ponselnya mendongak ke atas, melihat Devon yang sudah dengan muka kesalnya melihat Binna.
"Kamu berani menekan tombol memesan mobil online, aku akan bawa kamu naik dengan paksa, kembali ke dalam apartemenku, dan kamu tau? Aku bisa melakukan hal lebih dari sebuah ciuman," nada bicara Devon santai, tapi terdengar seram.
Binna jarinya berhenti tepat di aplikasi yang ingin dia tekan, matanya mengerjap beberapa kali melihat Devon. "Me-memang Kak Devon berani?" ini cewek benar-benar sukanya nantangin si Devon.
"Mau aku buktikan," ucapnya menekankan dengan jarak yang sangat dekat dengan Sabinna.
Glek ...
Sabinna menelan salivanya dengan susah. Sepertinya Kak Devon ini tidak akan main-main, dan kalau sampai hal itu terjadi, masa depannya bisa hancur. "Kita pulang sekarang!" Devon menarik tangan Binna, dan akhirnya Binna naik keatas motor Devon.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, Binna mencoba hanya berpegang erat pada tepi baju kak Devon. Dia meyakinkan dirinya tidak akan mau memeluk kak Devon dari belakang, walaupun dia takut, karena Devon ini sepertinya sengaja mengegas berkali-kali agar Sabinna mau memeluknya, tapi dasar Binna, dia mencoba sekuat tenaga tidak memeluk Devon, Binna malah memejamkan kedua matanya erat.
"Kita sudah sampai. Ayo turun! apa masih mau memegang erat bajuku."
Sabinna membuka kedua matanya dan melihat jika dia sudah sampai di depan mansionnya. Binna langsung turun dan melepaskan helmnya, kemudian memberikan dengan kasar pada Devon.
"Kak Devon lebih baik cepat pulang sana!" usirnya ketus.
"Besok kamu latihan jam berapa? Aku akan menjemput kamu. Setelah latihan kita berkencan."
"Apa kamu tidak bisa sedikit saja tidak keras kepala seperti ini? Aku hanya ingin mengajak kamu berkencan, supaya kita bisa lebih mengenal dengan baik," suara Devon terdengar lebih lembut sekarang.
"Kak Devon kan tau, kita tidak perlu mengenal lebih dekat karena aku tidak mau menerima perjodohan ini."
"Besok aku jemput pukul 8 pagi, aku tau pasti latihan menari kamu pukul setengah 9. Ya sudah! aku pergi dulu." Devon langsung memacu motornya pergi dari sana.
"Selalu begitu! tidak pernah mendengarkan orang lain berbicara! Dikira aku ini patung? Aku tidak mau membayangkan akan menikah dengan cowok kutub utara itu." Binna menghentak-hentakkan kakinya kesal pergi masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Arana melihat Binna yang nyelonong masuk dengan muka kesalnya langsung memanggilnya. "Devon mana, Binna?" tanya ibunya langsung.
Binna seketika menghentikan langkahnya dan dia baru ingat, ibunya kan mengundang Kak Devon untuk makan siang, tapi tadi saking kesalnya sama Devon, Binna lupa tidak mengatakan pada kak Devon.
"Kak Devon langsung pulang, dia ada urusan penting, Bu."
Arana bersidekap melihat ke arah putrinya. "Dia ada urusan, atau kamu memang tidak bilang kalau ibu mengundangnya makan siang?" tatap Arana menelisik pada putrinya.
"Mm ... itu?" Binna ketahuan tidak mengatakan apa yang di perintahkan ibunya.
"Ibu bilangin ya, Nak. Jangan terlalu membenci seseorang, apalagi sama calon suami kamu, bisa-bisa kamu nanti cinta mati sama dia. Ibu sudah membutikannya."
Binna melihat pada ibunya. Dalam hati dia berpikir, dia tidak akan mungkin jatuh cinta pada cowok kutub utara itu, karena dia hatinya sudah dimiliki oleh Lukas. Cuma dia tidak tau ke mana Lukas berada.
Mau melihat bagaimana kencan ala cowok kutub utara vs cewek keras kepala? Besok Ya. Author mo pingsan lihat ini tatapan matanya
__ADS_1