Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Ngidam


__ADS_3

Mereka makan malam bersama, tapi Uno dan Zia tidak bisa datang karena keadaan Zia yang memang sedang tidak baik.


"Bu, apa benar Kak Zia hamil?"


"Iya, kakak kamu hamil, tadi ayah dan Ibu sudah memeriksakan keadaan kakak kamu di rumah sakit dan dia positif hamil."


Binna langsung terdiam dan cemberut. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Kak Devon.


"Kenapa kita yang menikah duluan, tapi belum memiliki anak, Kak Devon?" tanya Binna sedih.


"Binna! Bukannya kamu tidak bisa punya anak, tapi memang belum di kasi. Kamu sabar saja, nanti pasti kamu dan Devon akan memiliki bayi yang lucu."


"Iya, Sayang, mungkin kakak kamu diberi anak dulu karena Tuhan ingin supaya Uno dan Zia tidak jadi berpisah. Kamu tau kan kalau pernikahan mereka memang berjalan tidak baik-baik saja?"


"Iya, aku tau, tapi memang Kak Uno tidak pernah memiliki perasaan apa-apa pada Kak Zia."


"Mungkin dengan kehadiran bayi ini. kehidupan pernikahan mereka akan semakin membaik nantinya," jelas Juna.


Tidak lama, salah satu pelayan di sana memberitahu Juna jika ada telepon dari Tommy. Juna segera meninggalkan meja makan dan menjawab telepon dari Tommy.


"Juna, apa kabar?"


"Baik, Tom. Kamu sendiri bagaimana kabar kamu dengan Diandra dan Mara?"


"Kami baik. Juna, apa bulan depan kamu bisa datang ke Kanada?"


"Ada apa memangnya? Apa kamu menikah dengan Mara?"


"Tebakan kamu benar, aku dan Mara bulan depan akan menikah dengan Mara, aku mengundang kalian semua untuk datang ke rumahku di Kanada. Apa kalian bisa?"


"Tentu saja aku dan keluargaku bisa datang, Tom. Hal ini yang selama ini aku tunggu-tunggu, selamat untuk kamu dan Mara."


"Iya, aku nanti akan menyiapkan kamar dan kebutuhan kalian selama di sini."


"Siapkan kamar yang khusus untukku dan Arana, sekalian aku bisa berbulan madu di Kanada."


"Dasar! Sudah tua juga, tidak lama lagi kamu mungkin akan menjadi kakek. Apa kamu tidak malu mengatakan ingin berbulan madu lagi?"


Terdengar tawa Juna dari seberang telepon. "Oh ya, Tom, aku ingin memberitahu kamu mungkin Uno tidak akan bisa datang dalam acara pernikahan kamu karena Zia kedaannya sedang tidak baik. Zia hamil, Tom."

__ADS_1


"Apa? Zia hamil?"


"Iya, aku dan Arana juga tidak menyangka akan secepat ini diberikan cucu oleh Zia dan Uno."


"Selamat kalau begitu buat kamu dan Arana karena kalian akan menjadi seorang kakek dan nenek."


"Terima kasih, Tom."


"Ya sudah! Kalau begitu aku mau membantu Diandra menyiapkan beberapa hal yang di butuhkan. Salam untuk Arana dan anak-anak kamu."


"Iya, kamu juga jaga diri kamu baik-baik."


Juna mengakhiri panggilannya dan dia kembali dengan wajah bahagianya. Juna mengatakan jika bulan depan Tommy dan Mara akan menikah dan mengundang semua keluarganya pergi ke Kanada untuk merayakanya.


"Mereka akan segera menikah? Wah! Ini benar-benar berita yang sangat membahagiakan. Kita semua akan pergi ke sana," kata Arana.


"Kita semua? Apa Kak Uno juga akan ikut datang?"


"Aku sudah bilang pada Tommy jika Uno mungkin tidak akan bisa datang karena keadaan Zia yang masih tidak baik."


"Syukur kalau begitu. Aku kasihan kalau Kak Uno dan Kak Zia datang, bagaimana dengan perasaan Kak Diandra? Apalagi Kak Diandra mengetahui jika Kak Zia sedang hamil."


"Binna, Diandra itu sudah sangat dewass menanggapi semua ini, jadi kamu tidak perlu khawatir. Diandra pasti sudah mengerti dan menerima semua ini."


"Hem ...." Arana hanya dapat menghela napas pelan.


Di rumah, Uno sedang makan malam bersama dengan kakaknya Zia. Zia tampak tidak napsu makan sama sekali.


"Kakak kenapa tidak mau makan? Apa masakan yang ibu buatkan tidak enak?"


"Perutku mual terus, Uno. Ternyata begini rasanya menjadi wanita hamil." Zia mengusap-usap perutnya yang masih rata.


Uno hanya melihat biasa pada Kakaknya. Uno melanjutkan makannya. "Lalu, Kak Zia mau makan apa? Kasihan kalau tidak makan bayinya."


"Uno, apa kamu senang kita akan memiliki seorang bayi? Coba kamu pegang perut aku, kamu akan merasakan dia tumbuh perlahan di dalam perutku."


Tiba-tiba tangan Zia menarik tangan Uno dan menempelkannya pada perut Zia.


"Aku tidak meraskan apa-apa, Kak?" Uno menarik lagi tangannya.

__ADS_1


"Tentu saja kamu tidak merasakan apa-apa, kamu memang tidak menginginkan bayi ini." Zia terlihat kesal dan pergi dari meja makan.


Uno yang terdiam hanya melihat kepergian kakaknya masuk ke dalam kamar tidurnya. "Sulit sekali untuk menerima semua ini, Kak. Aku benar-benar masih membutuhkan waktu." Uno mengelap mukanya kasar.


Malam itu Uno tidur di sofa depan seperti biasa. Zia tampak kesal di dalam kamar. "Aku harus membuat Uno tidur di kamar denganku, bagaiamanpun juga aku ingin kita seperti pasangan suami istri seperti pada umumnya.


Zia pura-pura meraskan mual dan muntah-muntah lagi. Uno yang ingin membaringkan tubuhnya terpaksa bangun dan pergi ke dalam kamar karena mendengar suara kakaknya yang muntah-muntah.


"Kak Zia, apa Kakak baik-baik saja?" tanya Uno mendekat pada kakaknya yang duduk di ata ranjangnya.


"Uno, perutku tidak enak, tolong ambilkan air minum."


"Sebentar, Kak." Uno keluar kamar dan mengambilkan Kakaknya minuman.


"Uno, aku ingin makan buah," ucapnya manja.


"Buah? Kenapa tidak makan nasi saja, Kak?"


"Aku sedang mengidam, Uno. Biasanya kalau wanita hamil yang aku tau, dia nanti akan mengidam ingin makan sesuatu dan suaminya akan mencarikan dia makanan yang diinginkan istrinya."


"Kalau mau makan buah di kulkas ada buah-buahan segar yang disediakan oleh ibu. Aku akan ambilkan."


Saat Uno akan beranjak dengan cepat tangan Uno di pegang oleh tangan Zia. "Aku mau makan buah semangka, Uno."


"Buah semangka? Tapi di kulkas tidak ada buah semangka."


"Apa kamu tidak ingin mencarikan aku buah semangka, Uno? Aku ingin sekali makan buah itu."


"Kalau begitu aku akan carikan di supermarket dekat sini, pasti ada."


Uno beranjak dari tempatnya dan keluar dengan jalan kaki menuju supermarket yang dekat dengan rumahnya dan kebetulan masih buka.


Uno membeli buah semangka yang sudah di kupas dan di kemas dengan pastik warp bagian atasnya, dia membeli beberapa buah semangka.


"Uno, kamu sedang apa di sini?"


Uno menoleh ke belakang dan melihat ada Cerry di sana. "Cerry, kamu kenapa bisa ada di sini?"


"Aku habis jalan-jalan dengan teman-temanku dan mampir di sini untuk mencari minuman dingin. Kamu sendiri sedang apa di sini?"

__ADS_1


"Aku mencari buah semangka yang diinginkan oleh kakakku."


"Zia?" Muka Cerry agak kesal.


__ADS_2