
Binna bangun dari tempat tidurnya dan dia segera beranjak berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi karena dia ingin buang air kecil. Di dalam kamar mandi, Binna sekalian ingin mandi juga, dia memenuhi bathubnya dengan air hangat.
"Kak Devon, kan, masih tidur, aku mandi dulu saja, sekalian aku bisa berendam sebentar di sini, untuk menghilangkan kepenatanku." Binna melepas semuanya dan tidak lama dia masuk ke dalam bathub dan menyandarkan kepalanya pada tepi bathub dengan nyaman.
Saat Binna mulai terasa santai, tiba-tiba dia terkejut saat pintu kamar mandia di buka oleh Kak Devon dari luar. "Kak Devon! Kenapa nyelonong masuk begitu saja? Kakak tidak sopan! Kenapa tidak ketuk pintu dulu?" Binna beranjak duduk bersandar dengan menyilangkan kedua tangannya menutup bagian dadanya.
Kak Devon malah berdiri tercengang di depan pintu kamar mandi. Tidak lama dia memberikan seringai devil yang manis. Kak Devon malah masuk dan menutup pintu dengan santai. "Kak! Kenapa malah masuk?"
"Aku mau mandi, inikan juga kamar mandiku, apa aku tidak boleh mandi di kamar mandiku sendiri." Devon malah berdiri menatap Sabinna.
Sabbina yang baru sadar jika Kak Devon dari tadi menatapnya langsung merosotkan tubuhnya masuk ke dalam bathub agar tidak terlihat oleh Kak Devon. "Kakak lihat apa? Keluar dulu." usirnya.
"Aku melihat istrinya yang sedang mandi, ternyata istriku cantik sekali walaupun penampilannya baru bangun tidur begitu."
"Kak Devon keluar dulu! Kita gantian mandinya, aku tidak mau mandi bersama."
"Binna, ini kamar mandiku, dan aku juga mau mandi sekarang, mamaku juga mau datang, aku tidak mau dia melihatku belum bersiap-siap."
Binna mengerucutkan bibirnya. "Iya, tapi aku mandi dulu, nanti kalau sudah baru Kak Devon yang mandi."
"Tidak mau, aku mau mandi sekarang." Kak Devon malah berjongkok duduk di samping bathub dan salah satu tangannya masuk ke dalam air di dalam bathub Sabinna. Seketika kedua mata Sabinna mendelik kaget.
__ADS_1
"Tangan Kakak jangan begitu? Kakak mau apa, sih?"
Kak Devon tidak menjawab, dia malah senang menggoda Sabinna yang terlihat ketakutan begitu. Tangan Devon yang masih berada di dalam bathub masih asik bermain-main dengan air mandi Sabinna. "Kak Devon! Kalau Kakak mau mandi duluan, aku saja yang keluar dari dalam kamar mandi.
Saat mau beranjak, Binna kembali ingat, jika dia beranjak dari bathub, otomatis Kak Devon bisa melihat semuruh tubuh Sabinna, dan Binna tidak mau hal itu terjadi. "Kenapa tidak keluar? Tidak jadi?" tanya Kak Devon santai.
"Tolong ambilkan handukku kalau begitu, aku akan keluar dari kamar mandi."
Kak Devon beranjak dari tempatnya, Binna kira kak Devon akan mengambilkan handuk untuknya, tapi ternyata Kak Devon malah melepaskan bajunya dan meletakkannya di samping handuk Sabinna, Sontak saja hal itu membuat Sabinna terkejut kemudian dengan cepat menutup kedua matanya.
"Kak Devon menyebalkan!" teriaknya kesal.
Devon tidak memperdulikan, dia malah masuk ke ruang shower dengan pintu kaca yang transparan, Kak Devon menguyur badannya yang agak panas melihat Sabinna, Wakkakak!
"Cepat mandi, Binna, mama sebentar lagi akan datang," ucap Kak Devon tanpa menoleh ke arah Sabinna, Dia sedang berusahan menahan sesuatu yang membuatnya hampir hilang akal.
Binna akhirnya hanya bisa berendam di bathub dan menunggu Kak Devon menyelesaikan mandinya. Binna menoleh ke arah Kak Devon yang berada di ruang yang tertutup kaca transparan itu. "Sebaiknya aku mengambil handukku saja. Kak Devon sedang tidak melihatk," oceh Sabinna pelan.
Binna perlahan-lahan keluar dari dalam bathub dan akan mengambil handuknya yang tepat berada di depan bathubnya. Saat akan meraih handuknya itu, Binna merasakan embusan napas seseorang dari belakangnya. Kedua mata dengan sorot yang tajam itu sedang memandangi tubuh Sabinna yang polos di depannya.
Ini kenapa author bikin Devon serema yak? Wakkaka! Dia gak serem, kok, dia baik, manis, cute lagi.
__ADS_1
"Kamu sudah selesai?"
Dengan cepat tangan Sabinna meraih handuk di depannya dan menutupi tubuh bagian depannya hanya dengan menyelimutinya saja, tidak menggunakan dengan benar. Lalu Sabinna dengan cepat berbalik menghadap Kak Devon dan menempelkan punggungnya pada tembok kamar mandi. Binna sekali lagi memejamkan kedua matanya saat tubuh polos kak Devon tepat berdiri di depannya.
"Kak Devon mau apa?"
"Aku mau mengambil handukku, Binna, aku sudah selesai mandi. Kamu sendiri tidak mau membilas tubuh kamu di shower?"
"Cepat ambil handuk Kakak, dan segera keluar dari kamar mandi!" seru Binna sambil tetap memejamkan kedua matanya.
Devon tidak menjawab, dia malah mendekat ke arah Sabinna dan mengukung tubuh Sabinna dengan kedua tangannya yang menempel pada tembok. Devon malah mendaratkan ciumannya pada bibir Sabinna,
"Kak Devon pergi!" Binna dengan kasar mendorong tubuh Devon menjauh darinya dan sekarang Binna sudah berani membuka kedua matanya dengan napas naik turunnya karena marah. "Jangan menciumku lagi! Aku tidak mau di cium oleh bibir yang sudah pernah mencium gadis lain." Binna mencoba mengusap-usap bibirnya dengan marah. Lalu dia keluar dari dalam kamar mandi. Binna memakai handuknya dengan benar dan turun ke lantai bawah untuk mencari kopernya yang belum dia bongkar semalam.
"****!" Devon meninjukan tangannnya ke tembok dengan marah. "Karla benar-benar membuat pernikahan aku berantakan, kenapa dia tega sekali melakukan hal ini kepadaku? Aku akan pastikan dia tidak terlihat lagi di sini, sebaikanya dia kembali ke Belanda," ujarnya marah.
Binna menangis di dalam kamar mandi yang ada di bawah, dia duduk di toilet dengan terisak. "Aku membenci kamu, Kak! Aku benar-benar membenci kamu!" Binna mencoba menahan tangisan yang sebenarnya ingin dikeluarkan dengan keras.
Devon yang berada di kamarnya sudah berganti baju, dia menggunakan setelah sweter berwarna biru laut dengan celana panjang berwarna cream berbahan katun. Devon mengededarkan matanya mencari keberadaan Sabinna.
"Dia ke mana? Apa dia berada di lantai bawah? Oh iya, bajunya masih ada di dalam koper, dan kopernya di bawah." Devon turun ke bawah, dan dia melihat Sabinna dengan baju casualnya ada di dekat kabinet yang ada di dapur, dia sepertinya sedang membuatkan makanan yang sudah di ajarkan oleh Arana.
__ADS_1
Binna tidak ingin dikira tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Devon di depan mama Tia. Devon berjalan perlahan dan mendekat ke arah Sabinna. "Binna, apa kita tidak bisa bersikap baik-baik saja, aku ingin menjelaskan semua tentang kejadian waktu aku dengan Karla.
"Tidak perlu, aku sudah lelah mendengar penjelasan Kak Devon, tapi nyatanya semua tidak sesuai." Binna berbicara dengan tidak menatap pada suaminya itu, dia menyibukkan diri menuangkan jus ke dalam gelas.