Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Rencana Busuk


__ADS_3

Ken tampak ingin mengalihkan pembicaraan Binna. Dia mengatakan jika beberapa gadis di sini memang mengenalnya, dan mungkin salah satu dari mereka yang bernama Jessy itu.


“Apa kamu seorang playboy sebenarnya, Ken?” tanya Devon.


“Bukan playboy, Devon, mungkin lebih mereka yang mengagumiku. Lalu itu apa salahku?”


Kak Devon melihat ke arah Sabinna, jika dia mengiyakan itu berarti dia mendukung sikap Ken yang memang suka mengenal banyak gadis, jika tidak mengiyakan kata-kata Ken memang benar juga.


“Ya, kamu benar juga.”


“Ken, kenapa wajah Jessy dan Giza sama, tidak mungkin mereka adalah anak kembar, dan dia bilang padaku jika aku harus berhati-hati sama


kamu, karena dia tidak tau maksud kamu bercerita hal yang bohong denganku, apa


sebenarnya motivasi kamu, Ken?” Binna menatap Ken serius.


Ken, tampak sedikit cemas dan bingung, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Sabinn.


“Sayang , maksud kamu apa?”


“Kak Devon, aku minta maaf kalau aku tidak menceritakan hal ini pada Kakak sebelumnya, tadi aku bertemu dengan seorang gadis yang wajahnya mirip sekali dengan Giza, saat aku tanya apa dia Giza, dia malah bingung dan


bilang jika namanya Jessy, dia sini sedang bersama kekasihnya. Dia juga aku tanya apa dia kenal dengan Ken, dia bilang kenal, tapi dia bukan calon istri Ken, dia hanya kenal Ken beberapa hari saja.


“Mungkin dia bukan Giza, hanya saja wajahnya yang sama.”


“Ken, katakan sesuatu? Apa kamu yang sedang membohongi kita?” Binna ini benaran merasa curiga dengan Ken, dia juga tidak mungkin salah jika gadis itu adalaha Giza.


“Ahahahahh!” Ken malah tertawa dengan senangnya, dan tawanya itu terdengar menyeramkan. Ken menghabiskan segelas winenya dan berdiri dari sana.


“Kamu kenapa, Ken?” tanya Kak Devon mulai curiga.


“Gadis itu memang berengsek! Dia merusak rencanaku, aku kira dia akan pergi dari sini setelah aku memberinya uang karena aku sudah memutuskannya, tapi dia malah mencari kekasih lainnya.”


“Jadi benar jika Giza itu sebenarnya adalah Jessy? Apa maksud kamu mengarang cerita tentang penyakit kamu, Ken?” tanya Binna kesal.


“Untuk menjalankan rencanaku mendapat simpati kalian, terutama kamu Binna.”


“Aku?” Binna tampak sangat bingung. “Kenapa aku?”

__ADS_1


Devon seketika bangkit dari tempatnya dan dengan muka marah langsung mencengkeram baju Ken. “Apa maksud kamu? Apa yang kamu inginkan dari istriku?” Tatapnya tajam.


“Kamu itu hanya orang baru yang  masuk dalam kehidupan Sabinna, dan kamu harus


di singkirkan,” ucapnya santai sambil melepaskan cengkraman tangan yang terlihat mulai melemah.


Perlahan-lahan tubuh Kak Devon jatuh ke bawah dan akhirnya dia tidak sadar alias pingsan.  Binna yang melihat tampak terkejut. Binna segera berlari ke arah suaminya yang jatuh di lantai.


“Kak Devon, Kak Devon kenapa?” Binna menggoyang-goyangkan tubuh suaminya dan menepuknya pelan. “Kenapa dengan suamiku? Apa yang kamu lakukan pada suamiku, Ken?” Teriak Binna marah.


“Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya memberinya sedikit obat penenang untuknya, supaya dia tidak mengganggu rencanaku, dan sayangnya kamu tidak ikut meminum air yang aku berikan sama kamu.” Ken dengan tenang


menghabiskan minumannya.


“Ken, sebenarnya apa mau kamu? Aku dan Kak Devon tidak mengenal kamu, tapi kenapa kamu melakukan hal ini?” Binna menatap Ken dengan


tatapan yang sudah ada buliran air mata yang siap terjatuh. “Tentang sakit kamu, kamu sebenarnya tidak sakit, Kan?”


“Kamu benar sekali,” Ken mengusap lembut pipi Sabinna. “Jangan sentuh aku! Katakan apa maksud kamu?”


“Kamu memang tidak mengenalku, tapi semua ini ada hubungannya dengan masa lalu Binna. Rasa tidak suka akan melihat kebahagiaan


“Masa lalu? Aku tidak pernah menyakiti siapa pun di masa lalu. Atau kamu orang suruhan Nico yang ingin balas dendam dengan keluargaku dan aku?”


Ken diam saja melihat Sabinna. “Terlalu lama jika kita membahas ini, suatu saat kamu pasti tau. Sekarang kamu harus duduk di sini, aku


akan mengurus suami kamu dulu.”


“Apa maksud kamu, Ken?”


“Aku akan membawa suami kamu ke dalam kamarnya dan nanti akan ada wanita yang sangat cantik yang akan menemaninya bercinta, setelah itu aku akan buat sebuah rencana di mana kamu memergoki suami kamu dengan wanita lain, dan kamu pergi ke kamarku untuk mencari tempat melepas kesedihan dan akhirnya kamu mau menerima tawaranku untuk pergi dari sini meninggalkan suami kamu untuk


selamanya."


“Apa?” Binna tidak percaya dengan semua  yang dikatakan oleh Ken.


“Aku akan membawa kamu pergi jauh dari sini, bahkan ayah kamu juga tidak akan bisa menemukannya dengan kekuasaan yang di milikinya.”


“Kamu mau membawaku ke mana?” Binna berusaha berontak dan melepaskan diri dar cengkraman tangan Ken. Namun, usaha Sabinna sia-sia karena Ken pastinya lebih kuat dari Sabinna.

__ADS_1


Sabinna di ikat di atas kursi yang ada di sana, setelah di rasa Sabinna sudah tidak akan kabur, Ken mulai berpindah pada tubuh Devon dia


mengangkat tubuh Devon dan membawanya ke kamar hotelnya, kebetulan di lantai di


mana Binna menginap sepi karena memang lantai itu untuk orang-orang tertentu saja yang mau membayar mahal jika ingin menginap di kamar hotel lantai paling atas.


Ken membuka semua baju yang di kenakan oleh Devon dan menutupinya dengan selimut, kemudian dia kembali ke dalam kamarnya dan mengurus Sabinna. “Binna, sekarang aku akan melepas hanya tangan kamu, kamu harus


menulis sebuah surat yang menyatakan jika kamu kecewa karena suami kamu ternyata berselingkuh dengan wanita lain di sini, dan kamu memutuskan pergi selamanya dari hidupnya.”


“Aku tidak mau!”


“Tidak mau? Kalau begitu aku akan ke kamar suami kamu dan membungkam wajahnya sampai dia tidak bisa bernapas untuk selamanya.”


“Apa? Kamu memang sakit jiwa, Ken!” teriak Binna kesal, marah dan tentu saja dia ingin menangis.


“Tulis saja, dan segera kita pergi dari sini, dan kamu akan bisa merasakan kebahagiaan denganku, Binna.” Ken memajukan mukanya mengecup pipi Sabinna.


“Menjijikan.”


Ini Ken suruhannya siapa sih? Kok sadis amat?”


“Cepat tulis, dan aku akan segera membawa kamu.” Ken memberikan selembar surat dan pena pada Binna, Ken juga melepaskan ikatan Binna pada hanya sebatas melepaskan tangannya, sedangkan tubuh Sabinna masih diikat di kursi.


Binna mulai menuliskan kata-kata di dalam kertas putih itu, Ken menunduk dan memeriksa tulisan Sabinna. Sabinna  yang salah satu tangannya merogoh ke saku dressnya dengan cepat mengambil semprotan bawang yang ternyata di bawanya tadi, langsung dengan cepat Binna menyemprotkan ke arah mata Ken.


“Auw! Binna!” Teriak Ken yang menuduk dengan memegang kedua matanya yang kesakitan karena semprotan bawang.


Binna mencoba melepaskan Ikatannya, tapi Ken berusaha memegang tangan Sabinna dengan meraba-raba karena matanya masih perih. Binna yang melihat Ken jaraknya dekat dia kemudian memukul Ken dengan lampu baca yang ada di atas meja. Ken langsung tersungkur jatuh ke lantai. Binna dengan cepat


melepaskan ikatan yang mengikat tubuhnya dan dia berlari keluar kamar Ken.


Binna berlari menuju kamarnya dan menguncinya. “Kak Devon, bangun!” Binna mencoba membangunkan Kak Devon tapi sepertinya obat itu masih belum hilang reaksinya.


“Aku akan mengunci pintunya dan menghubungi keamanan pihak hotel agar mengamankan si penjahan itu.”


Binna segera mengambil pesawat telepon dan mencoba meminta bantuan pihak hotel agar naik ke lantai kamarnya. Beberapa menit kemudian ada keamanan hotel ke kamar Sabinna dan Sabinna menjelaskan semuanya. Mereka kemudian bersama pihak hotel menuju kamar Ken, dan alangkah terkejutnya di sana


sudah tidak ada Ken. Ken ternyata sudah pergi dari kamarnya, Binna berharap pihak hotel bisa menemukan di mana, Ken.

__ADS_1


Mereka akan memeriksa CCTV yang ada di sana, dan mencari keberadaan Ken.


__ADS_2