Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Tanda Tanya Besar


__ADS_3

“Maksud kamu apa?” Binna melihat serius pada Lila.


“Ya cepat begitu maksud aku, bisa saja kakak kamu melakukan dengan orang lain dan kakak Uno yang terkena getahnya.”


“Lila! Jangan bicara seperti itu. Walaupun aku tidak suka dengan kak Zia, dia tidak mungkin melakukan hal serendah itu.”


“Ya maaf! Aku kan cuma mengatakan yang ada di pikiran aku.”


“Tapi usia kehamilannya sesuai saat Kak Zia dan Kak Uno kepergok melakukan hal itu.” Binna sekarang juga kepikiran sama ucapan Lila.


“Bisa saja dia melakukannya dengan dua pria, di bulan yang sama, atau malah satu dan kakak Uno yang terkenah getahnya. Eh! Aku kok kayak


detektif jadinya?” Lila malah bingung sendiri sekarang.


Tidak lama Lukas mendekat ke arah bangku Sabinna dengan dua gelas plastik berisi jus alpukat kesukaan Sabinna. “Binna, ini untuk kamu.” Lukas tiba-tiba menyodorkan jus alpukat pada Binna.


Binna yang kaget mendongak melihat jus alpukat di depannya. “ Untukku?” tanya Binna bingung.


“Iya, aku lihat kamu tidak ke kantin karena sibuk dengan tugas kamu, jadi aku membelikan kamu jus kesukaan kamu.”


“Terima kasih, Lukas.” Binna menerimanya.


“Aku tidak kamu belikan, Lukas? Aku juga tidak ke kantin hari ini,” celetuk Lila.


Lukas tersenyum kecil. “Aku minta maaf, Lila. Aku tidak tau minuman kesukaan kamu, jadi aku tidak membelikan kamu minuman.”


“Aku suka semua minuman,  air putih pun aku mau jika kamu yang memberikannya.” Lila malah menggoda Lukas.


“Ya sudah! Ini kita minum berdua.” Binna memberikan jus miliknya pada Lila.


“Jangan Binna kamu minum saja, aku akan membelikan kamu minuman sendiri. Kamu tunggu sebentar.” Saat Lukas berbalik badan dia melihat ada seseorang berdiri di luar pintu kelas mereka.


“Hai,” sapa pria itu dan dia berjalan masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


“Kak Devon,” ucap Binna bahagia melihat suaminya ada di sana. Binna segera beranjak dari tempatnya dan menghampiri suaminya dan memeluknya. “Tumben sekali Kak Devon ke sini? Inikan masih jam kerja.”


“Aku tadi ada meeting di dekat sini, dan aku mampir ke sini ingin memberikan kamu kue dan jus ini.” Kak Devon menunjukkan goodie bag yang berisi kue  serta jus kesukaan Sabinna.


“Wah! Terima kasih.” Binna tampak senang.


“Waduh!” ucap Lila lirih di tempatnya.


“Maaf, kalau tau kamu ke sini dan membawakan Sabinna jus serta kue, aku tadi tidak akan membelikan Sabinna jus kesukaannya.”


“Tidak apa-apa, Lukas.” Binna, baru nggeh dia tadi sudah meminum jus pemberian Lukas dan  ternyata suaminya juga membawakan dia jus kesukaannya.


Lila berdiri dari bangkunya dengan membawa jus dari Lukas. “Kalau begitu kamu tidak perlu membelikan aku jus lagi Lukas, aku akan meminum jus milik Sabinna, dan biar jus pemberian Kak Devon biar diminum oleh Sabinna.” Lila mencoba membuat suasana tidak tegang nantinya.


“Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu, aku mau ke perpustakaan.” Lukas tidak mau mengganggu mereka.


“Lukas, aku ikut, aku juga mau ke perpustakaan biar aku pintar seperti kamu.” Lila ikut dengan Lukas meninggalkan Binna dan suaminya.


Binna mengajak mengajak suaminy untuk duduk di bangkunya dan dia ingin menikmati kue yang tadi dibawakan oleh suaminya.


“Binna, apa aku boleh bertanya sesuatu?”


“Tidak boleh, nanti saja kalau bertanya saat kita di kamar,” ucap Binna ngasal. Kebetulan di sana hanya ada mereka berdua, lainnya memilih


beristirahat di kantin.


“Aku ingin bertanya serius sama kamu Binna.”


Binna menghentikan tangannya yang mengusap lembut bibir suaminya yang terdapat sisa kue. “ Tanya apa sih? Kenapa muka Kakak sekarang serius begitu?”


“Apa benar tadi, kamu dan Lukas berpelukan di anak tangga saat akan menuju ke kelas kamu?”


“Kak Devon kok bisa tau hal itu?” tanya Binna heran. “Apa Kak Devon mempunyai mata-mata di sini?” Binna celingukan.

__ADS_1


“Aku tidak memiliki mata-mata di sini, aku percaya sama kamu, makannya aku bertanya langsung sama kamu karena tadi saat aku baru turun dari mobil  aku mendengar ada beberapa


mahasiswa yang berjalan sambil membicarakan tentang kejadian itu. Mereka


mengatakan jika kamu dan Lukas apa ada hubungan spesial  karena melihat kalian berpelukan. Padahal setahu mereka kamu sudah menikah.”


“Ya ampun! Itu mulut mereka kenapa jadi suka gosip begitu? Aku tadi saat menaiki anak tangga aku sedang melamun karena memikirkan ucapan Kak Zia. Gara-gara tidak fokus aku jadi hampir jatuh dan Lukas dengan cepat menolongku. Dia menarikku dan aku masuk ke dalam pelukannya secara tidak


sengaja. Kak Devon jangan cemburu.” Binna mendekatkan hidungnya menyentuh hidung suaminya.


“Kalau kamu yang menjelaskan aku percaya. Ya sudah! Aku mau kembali ke kantor dulu, nanti aku jemput kamu saat pulang kuliah.” Kak Devon beranjak dari tempatnya dan mengecup pucuk kepala Sabinna.


“Hati-hati ya, Sayang.”  Sabinna jadi merasa tidak enak dengan suaminya, walaupun tadi suaminya bilang dia percaya dengan ucapan Binna, tapi Binna tau jika dalam hati


suaminya merasa cemburu dengan semua itu. Apalagi tadi Lukas juga berperilaku sangat manis pada Binna. “Huft! Apa aku pindah kuliah saja?” dialognya sendiri.


***


Di rumah Arana, Zia tampak duduk-duduk santai sambil menonton televisi. Tidak lama ponselnya berbunyi dan Zia mengkerutkan dahinya melihat siapa yang menghubunginya.


"Ada apa dia meneleponku? Aku sudah bilang jangan menghubungiku jika tidak aku suruh," umpatnya kesal dan dia beranjak dari tempatnya, Zia naik kamarnya untuk menghubungi orang yang tadi meneleponnya.


Arana yang ke datang ke sana bingung mencari keberadaan putrinya yang tidak ada di sana. "Ke mana, Zia? Apa dia sedang muntah-muntah lagi di kamar mandi?" Arana mencoba mencari Zia di dalam kamar mandi, tapi dia tidak ada. Lalu. Arana naik ke lantai atas dan mendengar Zia berbicara dengan seseorang di dalam kamar.


"Aku akan mentransfer uang sama kamu, kamu tunggu saja, keadaan aku sedang tidak enak." Zia melihat dari pantulan kaca pada meja riasnya ada Arana di depan pintunya.


"Aku minta maaf, Ya. Waktu itu ada hal yang membuat aku lupa tentang sisa uangnya," ucapnya melas. Lalu Zia mengakhiri panggilannya.


"Kamu sedang bicara sama siapa, Zia? Dan tadi soal mentrasfer uang? Uang apa memangnya?"


"Itu, Bu. Tadi yang mengubungi aku orang EO yang kapan hari aku memakai jasanya untuk acara pestaku. Aku lupa membayar sisanya karena waktu itu aku sangat shock karena kejadian dengan Uno."


"Oh! Kenapa kamu tidak bilang sama Ibu. Sini. biar ibu yang mentransferkan uang kepada orang EO nya."

__ADS_1


Kalian tau kan siapa yang sebenarnya menghubungi Zia. Iya, ayah kandungnya Zia.


__ADS_2