
Uno tersenyum melihat Diandra yang seolah kebingungan, dia memperhatikan Diandra yang mau berjalan ke kiri, tapi dua langkah dia berhenti, pindah ke kanan dan dia berhenti lagi.
Uno berjalan mendekat dengan melipat tangannya di depan. "Kamu mau ke mana? Apa mau aku antar? Sini aku gendong lagi," bisiknya pada Diandra.
Diandra tidak menoleh. "Kamu bisa tidak menjauh sebentar dari aku?"
"Menjauh bagaimana? Ini kan rumahku, yang ada aku sebagai tuan rumah harus membuat tamuku betah di sini."
"Aku tau, tapi jangan mengikuti terus seperti hantu. Aku bisa sendiri, aku tidak mau manja, Uno."
"Mana ada hantu setampan aku?" Kedua alis Uno mengkerut
"Tentu saja ada, buktinya kamu ada. Dengar ya, Uno." Diandra menoleh ke arah Uno, aku kan mau tinggal di sini selama beberapa lama, dan aku mau belajar setiap ruangan di sini, karena aku tidak mau manja. Walaupun buta, aku tidak mau menyusahkan orang lain."
"Tapi aku tidak mau keberatan kalau kamu mau manja denganku," bisiknya lagi.
Diandra sampai menarik napasnya panjang dan menghelanya pelan. "Aku harus fokus." Diandra mulai mengingat jarak di mana letak ruang makan dia. Diandra perlahan berjalan sambil menghitung dan meraba.
__ADS_1
"Gadis itu, dia kelihatan polos sekali. Dan sepertinya dia tidak pernah dekat dengan seorang cowok." Uno tersenyum devil. "Pasti hari-hariku akan menyenangkan ada dia di rumah ini."
Uno berjalan menuju meja makan, dia sana Diandra duduk dan ada Arana sedang menyiapkan makanan.
"Ibu Arana, Sabinna mana? Apa dia belum pulang dari sekolahnya?"
"Dia belum pulang, dia pasti masih latihan menari." Uno tiba-tiba menyaut dan duduk di sebelah Diandra. "Aku ada di sini, kenapa tidak menanyakan tentang aku?"
Diandra terdiam. "Uno, kamu jangan usil ya sama Diandra, kalian kan sudah bertemu, kenapa dia harus menanyakan kamu?"
"Apa kamu tidak ingin tau bagaimana bentuk wajahku setelah dewasa? Jujur saja kamu sangat berbeda dari waktu kecil, Diandra. Benar kan, Bu?"
"Hanya mata indah kamu yang tetap, Diandra. Oh ya! Sini tangan kamu." Uno mengangkat kedua tangan Diandra, Diandra tampak bingung, tapi menurut. "Kamu raba wajah aku, biar kamu tau wajahku, Diandra."
Uno meletakkan tangan Diandra pada wajahnya dan perlahan Diandra merasakan pelan-pelan wajah Uno.
"Uno," ucap Arana pelan sambil melotot pada putranya itu, tapi Uno dengan cepat memberi kedipan salah satu matanya pada ibunya.
__ADS_1
"Kamu bisa mengambarkan bagaimana wajahku, Diandram? Aku ingin tau bagaimana pendapat kamu tentang wajah aku?"
"Uno, aku--?" Diandra agak bingung, tapi dia juga tidak enak jika memperlihatkan expresi kesalnya sama Uno di depan ibu Arana.
"Raba saja." Ini anaknya Juna ada aja modusnya pokoknya. Semoga Diandra betah di sana, wakkaka.
Tangan Diandra meraba pelan-pelan wajah Uno. Dia mengusap perlahan kedua alis tebal Uno, dan, turun ke kedua mata Uno, dan hidung Uno. "Hidung kamu mancung. Rahang kamu juga tegas." Dan sekarang Diandra menyentuh bibir Uno, Diandra agak terkejut dan menarik tanganya saat Uno malah mengecup telapak tangan Diandra.
"Aku sudah selesai." Diandra dalam hatinya agak kebat-kebit ini.
"Lalu bagaimana menurut kamu, apa dari kamu merabah wajahku kamu bisa menyimpulkan aku tampan atau tidak?" Uno menunggu jawaban Diandra.
"Ka-kamu memliki postur wajah yang sempurna, tapi kamu pasti playboy," celetuknya.
"Ahahhahah!" Seketika Arana tertawa mendengar ucapan Diandra. "Putra Ibu Arana satu ini memang kekasihnya sangat banyak, Sayang, entah kenapa dia tidak mirip dengan ayahnya? Ibu kadang sampai lelah, tiap hari ada aja yang mengirim sesuatu ke rumah, dan itu dari gadis-gadis Uno."
"Selamat siang semua." Zia melihat Uno yang duduk bersebelahan dengan Diandra. "Uno, kenapa kamu duduk di sana? Bukannya kamu biasanya duduk di sebelah kakak?" Zia duduk di kursinya.
__ADS_1
"Oh ini? Aku ingin duduk dekat Diandra, agar aku bisa bertanya-tanya tentang dia dan paman Tommy. Bolehkan, Kak? Aku benaran belum percaya kalau dia ini Diandra."
Diandra terdiam, kak Zia mencoba tersenyum walaupun agak di paksakan.