Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Keinginan Sabinna


__ADS_3

Uno dan Zia berhenti di sebuah toko aksesoris yang baru saja di buka, mereka masuk ke dalam toko itu, mata Zia mengedar ke segala arah. "Wah ternyata di sini juga menjual baju-baju. Uno, kamu boleh membeli baju yang kamu mau, aku akan membelikan baju untuk kamu," ucap Zia.


"Tidak perlu, Kak. Bajuku sudah banyak, lagian kakak tau sendiri, ibu setiap bulan suka sekali membelikan aku baju, dan aku selalu suka dengan baju pilihan ibu." Uno berbicara sambil mengedarkan pandangannya ke segala sudut toko.


"Kalau begitu biar kakak yang pilihkan, siapa tau kamu menyukainya."


"Tidak perlu, Kak," ucapan Uno tidak diperdulikan oleh Zia, dia malah berjalan pergi dari sana dan memilih pilih baju untuk Uno.


Uno membiarkan saja, dia malah sibuk berjalan-jalan melihat beberapa aksesoris di sana. Uno ini sebenarnya anak yang tidak suka memakai hal-hal seperti aksesoris, dia malah lebih senang mentato dirinya.


Bruk ...


"Oh, maaf!" suara seorang pria yang tidak sengaja menabrak Zia. "Kamu baik-baik saja?" Pria itu mencoba memeriksa keadaan Zia.


"Aku tidak apa-apa, aku yang minta maaf karena aku yang ceroboh tidak melihat kamu tadi. Maaf, Ya?"


"Iya tidak apa-apa." Pria itu melihat kalung milik Zia terjatuh. "oh ya ini kalung yang kamu bawa tadi." Pria itu memberikan kalung pada Zia.


"Terima kasih." Zia mengambil kalung yang di ambilkan oleh pria itu.


"Namaku, Dion. Kamu siapa?" Tiba- tiba pria itu mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.


Zia tampak bingung, dia perlahan mengangkat tangannya dan menerima jabatan tangan dari Dion. "Aku Kezia, tapi kamu bisa memanggilku, Zia." Zia tersenyum.


"Nama kamu bagus sekali. Apa kamu sendirian di sini?" tanyanya lagi.


Zia mengedarkan pandangannya dia mencari sosok Uno, tapi adiknya itu tidak terlihat di sana. "Aku sedang bersama dengan adikku, tapi dia tidak tau ke mana."


"Oh begitu, kamu masih kuliah? aku masih kuliah dan bekerja."


"Wah hebat sekali, kuliah dan juga bekerja. Aku masih kuliah dan sekarang semester terakhir. Aku kuliah di dekat sini."

__ADS_1


"Oh di kampus itu? aku tau."


"Ehem ... hem!" tiba- tiba terdengar suara deheman dari arah belakang Zia. "Kak, sudah selesai? kalau sudah kita pulang sekarang." Uno berjalan dan melihat lebih dekat pria yang sedang bicara sama kakaknya.


"Uno, kakak sudah selesai, kakak bayar dulu apa yang kakak beli." Zia menggandeng tangan Uno dan berjalan pergi dari sana, pria itu juga mengikuti mereka dari belakang.


Setelah membayar mereka berdua hendak keluar dari dalam toko itu. "Terima kasih sudah berbelanja di toko milikku, dan ini aku mau memberikan hadiah khusus buat kamu karena aku tadi sudah menabrak kamu," ucap seseorang sambil menyerahkan paper bag berwarna coklat berukuran sedang.


"Jadi kamu pemilik toko ini, Dion?" tanya Zia tidak percaya.


Dion menganggukkan kepalanya perlahan, sambil tersenyum. "Bagaimana menurut kamu dekorasi toko milikku ini, Zia." Ini cowok baru kenal tapi cepat sekali akrab.


"Bagus sekali, dekorasinya sangat mendetail dan aku menyukai orname yang kamu gunakan."


"Kalau kamu bertanya tentang dekorasi suatu ruangan, kakak aku memang pandai karena dia sangat menyukai mengacak-acak ruangan," celetuk Uno malah bercanda.


"Uno!"


"Jangan berkata yang tidak-tidak, Uno." Zia tersenyum pada Dion. "Dion terima kasih atas hadiahnya, semoga bisnis toko kamu sukses, kami pergi dulu, ya?"


"Zia, semoga kamu bisa mampir kesini lagi. Senang bisa berkenalan dengan kamu." Zia hanya memberikan senyuman kecil dan mereka pergi dari sana.


Di mansio kakek Bisma. Arana melihat putrinya yang sedang menyiram bunga di taman, Binna termenung sampai tidak sadar air di dalam alat penyiram itu habis pada satu bunga. Arana segera menghampirinya. "Sayang, bunganya bisa layu nanti kalau kamu siram air sebanyak itu." Binna ini tiap hari, saat dia ada di rumah karena tidak ada latihan, dia lah yang bertugas menyirami bunga mawar kesukaannya.


"Ibu, maaf!" Binna baru sadar dengan apa yang barusan dia lakukan. "Ya! airnya sampai habis." Binna mengerucutkan bibirnya lucu.


"Tentu saja habis, kamu menyiramkan semua pada satu bunga mawar ini. Kamu kenapa sih, Binna? kamu sedang melamun apa, Nak?" Tanya Arana sambil mengusap pipi Sabinna.


"Tidak melamun apa-apa, Bu," jawabnya lirih.


"Jangan membohongi ibu, Binna. Ibu itu tau siapa kamu, dan ibu tau pasti kalau kamu sedang memikirkan sesuatu."

__ADS_1


"Aku--." Binna bingung dan takut, apa dia harus menceritakan jika dia memiliki orang yang dia sukai, dan dia tidak dijodohkan.


"Apa tentang perjodohan kamu dengan anak dari teman ibu yang pernah ibu katakan sebelumnya sama kamu?" Arana seolah tau tentang apa yang di pikirikan oleh putrinya itu.


Binna tidak menjawab dan malah duduk menunduk di bangku taman. Arana duduk di sebelah putrinya, dia mengangkat dagu Sabinna. "Kamu percaya sama ibu kan, Binna?"


"Aku selalu percaya sama ibu, tapi aku hanya merasa tidak adil saja, kenapa hanya aku yang di jodohkan sama ibu, kak Uno dan Zia tidak, kenapa hanya aku?"


"Siapa gadis yang bisa membuat kakak kamu Uno berubah? ibu kasihan jika nanti gadis yang ibu jodohkan sama Uno, malah Uno akan membuat sakit hati dengan tingkah kakak kamu, biarlah Uno mendapatkan gadis yang kelak bisa membuat dia berhenti dari bersenang-senangnya."


"Kak Zia, kenapa tidak kak Zia saja?"


Arana bingung sebenarnya jika harus menjelaskan jika Zia sebenarnya bukan putrinya, dan dia sudah berjanji pada Tia jika mereka akan menjodohkan putra-putri mereka kelak. "Kak Zia, usianya terpaut jauh jika dengan putra dari tante Tia, lagipula tante Tia lebih menyukai kamu, Binna.


"Aku juga terpaut usianya sama pria itu, dia seumuran kakak Uno, Kan?"


"Iya, tapi dia sangat baik dan ibu yakin pernikahan kalian akan sangat bahagia. Tante Tia juga sudah menunjukkan foto kamu dan dia menyukai kamu, Binna."


"Tapi, Bu--." Binna terdiam sejenak. "Kalau aku menolak karena aku mempunyai seseorang yang aku sukai bagaimana, Bu?" Binna melihat ke arah ibunya sambil menunggu jawaban ibunya.


"Kamu kan sudah ibu bilang jangan berpacaran dulu selama kamu masih sekolah karena ibu takut kamu bergaul dengan orang yang salah."


"Binna tidak pacaran hanya dekat saja, Bu. Dia juga cowok yang baik. Dia juga sangat sopan sama Binna."


"Ya sudah kalau begitu, begini saja, besokkan keluarga tante Tia mau datang, kamu berkenalan dulu dengan anak dari tante Tia. Lalu beberapa hari lagi kamu boleh membawa cowok yang kamu bilang baik dan lembut itu. Bagaimana? ibu mau memberi kamu kesempatan," ucap Arana tegas.


"Iya, Bu." Binna tampak senang, semoga setelah ibunya melihat Lukas. Ibunya akan mau menerima Lukas, dan membatalkan perjodohan ini.


Kezia Luther-- putri Sofia. Cantik, lembut, pandai, tapi sangat ambisius jika menginginkan sesuatu hal.


__ADS_1


__ADS_2