Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
PDKT


__ADS_3

Tommy masuk ke dalam kamar Diandra karena tidak mendapat jawaban dari putrinya. "Diandra tidak ada di dalam kamar? Di mana dia?" Tommy mengedarkan pandangannya, tapi kamar itu sepi tidak tampak seorangpun.


Tommy kembali keluar dan turun ke bawah. Sedangkan Uno mengintip dan melihat paman Tommy sudah keluar dari kamar Diandra.


"Ayah kamu sudah keluar, dan sepertinya turun ke lantai bawah."


"Uno, kalau ayahku mencariku di bawah dan tidak ada bagaimana? Sebaiknya aku segera keluar dan mencari alasan saja."


"Kamu jangan tegang begitu, kamu bilang saja tadi dari kamar Binna. Beres, Kan?" Uno malah bersidekap santai.


"Ini semua gara-gara kamu! Kenapa pakai menarikku masuk ke dalam kamar kamu? aku jadi harus berbohong sama ayahku," ucapnya kesal.


"Kenapa marah lagi? Kalau kamu marah, aku tidak akan membiarkan kamu keluar dari kamarku, malahan aku akan membuat kamu semalam di sini, bahkan tidur di sini denganku," Uno malah tersenyum devil.


Diandra terdiam. Uno berjalan mendekat ke arah Diandra, Diandra merasakan gerakan Uno yang mendekat ke arahnya tampak mundur selangkah ke belakang. "Uno, kamu--."


Si anak Harajuna Atmaja itu malah mengukung tubuh Diandra pada daun pintu. "Aku tidak marah, Uno. Aku mau keluar sekarang," Diandra tampak takut sekarang dengan Uno.


"Aku tidak mau menanyakan hal itu. Apa kamu sudah punya kekasih di Kanada, Diandra?"

__ADS_1


Mata Diandra seketika melotot mendengar pertanyaan Uno barusan. "Ke-kenapa kamu tanyakan hal itu?"


"Aku hanya ingin tau, gadis secantik kamu, pasti sudah punya kekasih."


"A-aku." Diandra tampak bingung. "Aku tidak mau menjawab pertanyaan kamu itu, itu urusan pribadiku, dan tidak perlu aku ceritakan pada orang lain." Diandra menoleh dan segera membuka pintu kamar Uno dan berjalan dengan meraba-raba masuk ke dalam kamarnya.


Uno tersenyum kecil. "Kenapa aku ini? Kenapa aku malah seolah ingin tau tentang Diandra yang sudah punya pacar atau tidak? Memangnya kalau dia punya pacar kenapa?" Uno terdiam sejenak setelah berdialog sendiri.


Ponsel Diandra yang ada di atas laci kamar Diandra berbunyi dan Diandra tau yang menghubungi dia adalah ayahnya, karena dia memberikan nada khusus jika ayahnya yang menghubungi. "Halo," ucapnya lirih.


"Oh, Sayang, kamu di mana? Ayah tadi mencarimu ke dalam kamar kamu. Kamu di mana?"


"Ya sudah, kalua begitu kamu segera tidur, besok, kamu kan mau pergi ke rumah musik, di mana kamu pertama kali akan mengajar anak-anak bermain musik di sana."


"Iya, Ayah juga cepat tidur. Bukannya ayah besok mau mengajak tante Mara makan siang?" Terdengar kekehan dari Diandra.


Tommy yang tadi menghubungi Mara dan mengajakanya untuk makan siang, tapi Mara bilang dia tidak bisa karena ada urusan penting. Tommy hanya diam tidak mau memberitahu putrinya itu. "Iya. Kalau begitu kamu segera tidur, selamat malam putri ayah yang cantik."


"Selamat malam juga ayahku yang paling tampan dan baik sedunia." Mereka berdua mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


***


Pagi itu di meja makan, semua berkumpul makan pagi bersama. "Tom, nanti kamu mau, Kan, ke kantor lagi denganku?" tanya Juna.


"Iya, aku nanti akan ke kantor dengan kamu, lagian aku di rumah juga tidak ada pekerjaan. Nanti kalau aku berdua sama Arana, kamu curiga yang tidak-tidak." Tommy tersenyum mengejek.


"Ayah ini, suka sekali menggoda paman Juna," celetuk Diandra.


"Biarkan saja, Sayang. Ayah kamu itu tidak enak kalau sehari tidak mengajak paman ribut," jawab Juna santai.


"Diandra, nanti kamu berangkat ke tempat kamu mengajar musik bareng sama Binna saja. Biar kalian di antar supir."


"Iya, Kak, nanti berangkat sama aku."


"Memangnya Diandra mau ke mana, Bu?" tanya Uno tiba-tiba.


"Kakak ini tidak tau? Selain Kak Diandra di sini liburan, Kakak Diandra ini juga akan mengajar di rumah musik yang terkenal itu. Kakak Diandra kan habis memenangkan lomba bermain piano di Kanada. Makannya, Kakak Diandra mendapat pekerjaan untuk mengajar musik di sini. Kakakku satu ini memang hebat." Binna memeluk Diandra yang duduk di sebelahnya.


Uno hanya melihat Diandra dengan fokus. Dia terpuka melihat senyum Diandra.

__ADS_1


__ADS_2