
Uno dan Diandra hanya bisa terdiam satu sama lain, mereka masih di pantai itu menikmati es kelapa muda mereka.
"Uno, terima kasih," Gadis cantik itu mulai mengeluarkan suaranya.
"Terima kasih untuk apa?"
Diandra menoleh ke arah Uno. "Terima kasih karena tadi sudah menyelamatkan aku dari pria-pria itu."
"Sudah tugasku, Diandra. Bukannya aku kekasih kamu, jadi wajar saja kalau aku menolong kamu." Uno kembali menyeruput minumannya.
"Kekasih?" Diandra teringat jika dia tadi memang mengatakan jika Uno kekasihnya. "Maaf, tadi aku ketakutan, jadi aku bilang saja aku menunggu kekasihku," Diandra tampak malu dan membuang mukanya.
"Aku tidak masalah, malahan aku senang jika kamu memang ingin menjadi kekasihku. Aku siap," ujar Uno semangat.
Diandra hanya terdiam. "A-aku tidak ingin memiliki kekasih, Uno." Diandra mulai teringat dengan kisah cintanya dulu, dan dia tidak mau hal itu menimpanya kembali, apalagi dia tau Uno itu kan playboy, mana mungkin dia akan serius dengan Diandra, apalagi Diandra buta.
__ADS_1
"Tidak ingin memiliki kekasih? Kenapa?" Uno melihat ke arah Diandra serius.
Belum Diandra menjawab, ponsel Uno sudah berdering. Uno melihat nama Kak Zia dia ponselnya. "Kak Zia?" Uno melihat ke arah jam tangannya. "Ya ampun! Aku lupa, aku harusnya menjemput kakakku."
"Halo, Uno. Kamu di mana?" Tanya Zia cepat.
"Kakak sudah pulang, Ya? Kak, aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa menjemput kakak pulang, apa kakak bisa pulang sendiri?"
"Memangnya kamu ada di mana? Apa kamu sedang bersama pacar baru kamu lagi?" Nada suara Zia tampak kesal sekarang.
"Diandra?" Kedua alis mata Zia berkerut marah. "Ya sudah kalau begitu! Aku akan pulang sendiri."
"Iya, Kak. Aku dan Diandra juga sebenarnya mau pulang, tapi pasti kakak akan menunggu lama, karena perjalanan pulangnya agak jauh."
"Ya sudah kakak bisa pulang naik mobil online, kamu segera pulang." Mereka akhirnya mengakhiri panggilannya. "Uno bersama Diandra. Apa Uno ingin mendekati Diandra? Tidak mungkin. Diandra buka tipenya, walaupun dari kecil Uno sudah mengaguminya." Zia berdialaog sendiri.
__ADS_1
Diandra sudah berdiri dari tempatnya, dia ingin mengajak Uno pulang, padahal Uno ingin masih ingin membahas tentang hal tadi. Mereka berdua akhirnya memutuskan pulang. Di perjalanan Diandra tertidur di dalam mobil dan Uno membiarkan saja, Uno malah senang bisa memperhatikan Diandra yang sedang tertidur pulas.
Beberapa jam kemudian, Uno sampai di depan rumah. Zia yang dari tadi ternyata menunggu Uno sangat senang melihat mobil Uno sudah sampai di depan.
"Uno, akhirnya sampai juga, kakak sedang menunggu kamu." Zia menghampiri Uno yang barusan keluar dari dalam mobil. "Uno, muka kamu kenapa?" Zia yang melihat ada luka di muka Uno tampak cemas.
"Kak, jangan berisik, Diandra sedang tidur," ucap Uno lirih. "Aku tidak apa-apa, nanti saja aku jelaskan.
Uno membuka pintu mobilnya dan perlahan-lahan menggendong tubuh Diandra masuk ke dalam rumah. Sontak saja hal itu membuat Zia tampak kesal. Zia ikut berjalan di belakang Uno.
"Uno, Diandra kenapa?" Tanya Arana yang melihat putranya menggendong Diandra.
"Diandra ketiduran, Bu. Aku akan membawa dia ke dalam kamarnya." Arana mengangguk dan membiarkan putra sulungnya itu membawa tubuh Diandra.
Zia tidak mengikuti Uno naik ke lantai atas, dia di bawah anak tangga dengan muka kesalnya. Arana yang di sebelahnya tampak bingung melihat expresi wajah Zia.
__ADS_1
"Kak Uno sama kak Diandra kalau begitu seperti sepasang kekasih ya, Bu?" celetuk si bungsu Binna. Binna sudah pulang sekolah dari tadi, dan dia melihat kakaknya tadi menggendong tubuh Diandra.