Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Hal yang Mengesalkan


__ADS_3

Binna dan Kak Devon tidak jadi sarapan di luar mereka memilih memesan makanan dan makan bersama di apartemen.


"Muka kamu kenapa Bina? Masih memikirkan tentang foto itu?"


"Bukan karena itu, Kak Devon, tapi lihat ini!" Binna menunjukka lehernya yang masih terlihat tanda merahnya. "Kalau seperti ini, mana bisa aku keluar dari apartemen ini? Tadi juga ibu menghubungiku, aku bilang aku tidak bisa ke sana karena aku sedang tidak enak badan."


"Ya sudah nanti aku akan belikan krim untuk menghilangkan bekas merah itu aku akan memberikan yang bagus."


"Jangan lupa ya, Kak, nanti belikan?"


"Iya nanti aku akan belikan biar tanda merah itu cepat menghilang dan aku bisa cepat menandainya kembali." Kak Devon melirik pada Sabinna.


"Dasar Mesum!" gerutu Binna.


"Apa hari ini mau aku temani di rumah saja? aku tidak akan ke kantor aku bisa menemani kamu dan izin ke kantor."


"Jangan, Kak, Kakak pergi saja aku tidak apa-apa di rumah sendirian. Hari ini aku mau santai menonton televisi dan kemudian latihan tari pole dance."


"Apa? Pole dance?"


"Iya latihan pole dance. Aku sudah lama tidak latihan itu."


"Ya sudah kamu latihan saja, tapi nanti malam kamu tunjukkan padaku ya hasil latihan kamu. Binna nanti aku juga akan membelikan kamu baju tari yang baru."


Binna melirik ke arah suaminya. "Kenapa perasaanku jadi tidak enak saat Kakak mengatakan akan membelikanku baju tari lagi?"


Kak Devon menyeringai dan Binna tahu arti seringaiannya itu. Kak Devon pamit berangkat ke kantornya.


"Binna, kamu hati-hati di rumah, jangan membukakan pintu sembarangan, kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi penjaga di bawah aku sudah menaruh nomor telepon di depan kulkas."


"Kak Devon tenang saja, aku akan melihat dulu siapa yang datang. Jadi tidak asal membuka pintu."


"Ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu." binna mengecuo punggung tangan suaminya, Kak Devon memberi kecupan pada dahi Sabinna.


Hari ini Arana sudah pulang ke rumah bersama Uno dan Diandra. Uno duduk di ruang keluarga dan Diandra menemaninya.


"Ibu akan membuatkan kamu makanan kesukaanmu, tadi ibu lihat, kamu cuma makan sedikit di rumah sakit. Kenapa? Apa tidak enak rasanya?"

__ADS_1


"Iya, Bu, aku tidak suka makanan di sana. Aku merindukan masakan Ibu."


"Ya sudah kalau begitu. Kamu tunggu dulu ya? Ibu akan menyiapkan makan untuk kamu, Diandra tolong jaga Uno sebentar."


"Iya, Ibu Arana."


Setelah Arana pergi ke dalam dapur, Diandra duduk mendekat ke arah Uno. "Apa kamu sudah baik-baik saja? Aku sangat senang melihat kamu akhirnya bisa pulang."


"Aku sudah baikan, Diandra. Apa kamu merindukanku?"


"Tentu saja aku merindukan kamu, Sayang." tangan Uno mengusap lembut pipi Diandra.


"Uno, aku sudah punya rencana, setelah kamu sembuh aku ingin menceritakan tentang hubungan kita kepada ayahku dan kedua orang tua kamu. Aku ingin mereka tahu jika kita saling mencintai aku juga lelah pacaran seperti ini, harus sembunyi untuk mencintai kam. Apa kamu setuju dengan ideku?"


"Tentu saja aku setuju, aku juga lelah kita harus sembunyi terus seperti ini, lelah juga harus mencari cara agar bisa memelukmu bahkan mengajak kamu kencan."


"Ya sudah nanti kita akan beritahu kepada kedua orang tua kita, Diandra. Kamu tahu? Aku ingin sekali menikah dengan kamu setelah lulus kuliah, nanti aku akan memintamu kepada Paman Tommy "


"Aku juga, Uno. Ayah aku pasti akan senang mengetahui jika putrinya mendapatkan pria yang sangat baik dan mau menerima dia apa adanya." Uno mendekatkan wajah Diandra dan mereka saling berciuman, mereka tidak sadar jika dari balik dinding ruang keluarga ada seseorang yang memperhatikan dengan wajah marahnya.


Zia sangat marah hingga tangannya mengepal erat. "Kalian tidak akan bisa menikah karena Uno hanya akan menikah denganku. Hanya aku, kamu akan menangis darah sebentar lagi gadis buta!"


"Aku juga Diandra."


Tidak lama Arana datang ke sana dengan membawa nampan berisi semangkuk sup dan minuman hangat untuk Uno. Diandra dengan cepat melepaskan tangannya dari wajah Uno.


"Sayang, ibu membawakan sop daging kesukaan kamu, ibu juga menambahkan makaroni di dalamnya, kamu sangat menyukainya, kan?"


"Ibu tahu sekali masakan kesukaanku, pasti enak masakan buatan ibu."


"Kamu itu paling pintar untuk merayu ibu. Ya sudah makan dulu."


Uno disuapi oleh ibunya. "Masakan Ibu enak sekali. Aku sangat menyukainya. Uno makan dengan lahap.


"Besok kalau kamu sudah menikah, ibu akan mengajari calon istri kamu untuk belajar memasak, masakan kesukaan kamu."


"Apa aku boleh belajar, Ibu Arana?" Arana agak sedikit kaget mendengar ucapannya Diandra.

__ADS_1


"Ibu ini, ditanya itu sama Diandra, siapa tau dia nanti bisa membuatkan sup yang enak ini untuk calon suaminya."


"Oh iya, Sayang. Nanti ibu akan ajarkan membuat sup ini."


"Halo, Bu," sapa Zia dengan muka bahagianya.


"Kak Zia, Kakak kok sudah pulang jam segini?"


"Besok kakak ada sidang skripsi, dan hari omi tidak ada pelajaran di kampus, jadi aku bisa langsung pulang."


"Lalu Dion ke mana? Apa dia tidak mengantarkan kamu?"


"Dia tadi mengantarkan aku, tapi dia tidak bisa mampir, Bu. Dion masih ada urusan lainnya, dia titip salam sama Ibu."


"Ya sudah kalau begitu, tidak apa-apa."


"Adikku sayang, bagaimana keadaan kamu?" Zia tiba-tiba duduk di tempat Diandra, sehingga Diandra langsung minggir.


"Auw! Sakit, Kak!" Uno meringis kesakitan karena luka di perutnya tersenggol oleh kakaknya.


"Zia, kamu hati-hati."


"Maaf, aku kan tidak sengaja." Zia memeluk Uno dari samping.


"Kakak terlihat bahagia sekali, apa Kak Dion sudah menyatakan cinta pada Kak Zia?" goda Uno.


"Apa sih, Uno?"


Zia langsung melepaskan pelukannya. Dia beranjak dari tempatnya dan naik ke lantai atas. "Kenapa dia malah pergi, apa dia malu?"


Di apartemennya. Binna yang sedang bersantai menonton televisi tiba-tiba bel pintunya berbunyi. "Siapa yang ke sini?" Binna beranjak dari tempatnya dan melihat ke arah lubang pintu. "Ya ampun! Itu mama Tia, dan saudaranya." Binna tampak kaget.


"Binna sayang, ini mama sama tante. Bisa kamu buka pintunya?"


"Waduh! Bagaimana ini?" Binna bingung, bukannya apa-apa, tapi ini karena tanda merah di lehernya, dia bisa kena ledek habis-habisan masalah tanda merah itu."


Binna segera naik ke lantai atas dan mencari baju hangat yang bisa menutupi tanda merah di lehernya."

__ADS_1


Tidak lama ponsel Binna berbunyi, dia melibat nama mama Tia di sana. Mungkin kelamaan menunggu jadi mama Tia menghubunginya.


"


__ADS_2