
Malam itu Asta memutuskan untuk pamit saja dari makan malam itu. Bagaimana tidak, dia di sana malah dicukein, apalagi dia melihat kemesraan sepasang kekasih yang seolah-olah sedang jatuh cinta, padahal mereka memang dari dulu sudah saling mencintai, hanya saja baru bisa benar-benar bersama.
"Aku pergi saja," ucapnya malas.
"Kenapa mau pergi? Kita bisa merayakan ulang tahun Mara bersama di sini Asta," kata Tommy.
"Kalian rayakan saja berdua, aku mau pergi, malas aku melihat kalian peganga tangan, saling bermesraan, bahkan ciuman. Aku jadi kangen sama kekasihku."
"Aku kan sudah bilang kamu waktu itu bisa ajak kekasih kamu, tapi kamu tidak mau."
"Kalau mengajak dia bisa-bisa pekerjaan kita gak habis-habis. Dia pasti minta diajak shopping terus."
"Aku minta maaf, ya Asta. Aku benaran senang sekali Tommy melamarku." Tangan cantik itu mengusap pipi Tommy. "Aku benar-benar lega, dia bisa menerima kekuranganku." Buliran air mata menetes dari mata cantik Mara.
"Kamu berhak bahagia, Mara. Sudah sana ke kamar saja. Biar aku yang menghabiskan makanan di sini. Keromantisan kalian membuat selera makanku bertambah saja," sekali lagi celetuknya.
Mara bangkit dan tangan satunya yang tidak membawa buket dari Tommy menggandeng tangan Tommy. Mara sepertinya mengajak Tommy pergi ke kamarnya.
Sesampai di dalam kamar, Mara meletakkan buket bunganya di atas ranjang. Mara menghampiri Tommy dan berdiri dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher Tommy, dia mendaratkan bibirnya pada bibir Tommy, menciumnya dengan sangat dalam dan lembut.
Mara tersenyum pada Tommy saat bibirnya terlepas dari bibir Tommy. "Tom, aku sedang tidak bermimpi, Kan?"
"Tentu saja tidak, Mara. Ini semua kenyataan yang indah."
__ADS_1
"Soal Nina bagaimana?"
Tommy tersenyum kecil. "Nina dan aku selama ini tidak ada apa-apa, dia tau aku mencintai kamu, maka dari itu dia ingin menolongku untuk membuat kamu mengakui bahwa kamu mencintaiku."
"Jadi selama ini kalian hanya berpura-pura?"
"Tentu saja, apa akting dia sangat bagus? Dan aku yakin kamu pasti cemburu sekali apalagi malam di mana dia merayakan ulang tahunnya. Setelah kalian pergi dia malah tertawa cekikikan melihat expresi wajah kamu yang cemburu sekali."
Mara langsung mengerucutkan bibirnya kesal. "Kamu jahat sekali."
"Kamu yang membuatku terpaksa melakukan itu. Kamu sendiri jahat sskali sudah membuat aku kesal dengan bersama Asta."
"Aku melakukannya karena ingin kamu menjauh dariku. Tom, kamu serius suatu saat tidak akan menuntut seorang anak dariku? Ibu kamu bagaimana?"
"Aku mencintai kamu, Tom." Mara sekali lagi mendaratkan ciumannya pada Tommy. Mereka saling berbalas ciuman. Bahkan tangan Tommy mengusap punggung Mara yang terekspose sangat indah karena gaunnya yang terbuka di bagian belakang.
Mara melepaska lengan gaunnya satu persatu sehingga Tommy dapat melihat jelas tubuh Mara yang setengah polos. Tommy memberikan senyum kecilnya, dia melepaskan suit yang dipakainya, bukannya melepas semua bajunya, dia malah menutupi tubuh Mara dengan suitnya.
"Aku mencintai kamu, Mara. Kita akan melakukannya saat kamu benar-benar menjadi milikku." Setelah mendaratkan kecupan pada kening Mara, Tommy keluar dari dalam kamar Mara.
Seketika Mara menangis terharu melihat betapa baiknya dan sopannya Tommy. Dia tidak hanya menginginkan tubuh Mara. Dia juga menghormati Mara.
"Dia benar-benar pria yang baik." Mara tersenyum bahagia.
__ADS_1
Malam ini adalah malam yang indah bagi Tommy dan Mara. Mereka dapat tidur dengan nyenyak.
Di mansion Kakek pagi hari, Zia tampak berdiri di depan cermin panjang di dalam kamarnya, dia melihat dirinya dengan gaun pesta berwarna hitam yang di gunakannya.
"Aku cantik sekali, apalagi warna ini warna kesukaan Uno. Aku membayangkan betapa cantik dan mempesonanya aku jika aku memakai gaun pengantin dengan Uno berada di sampingku."
Zia menari-nari di dalam kamarnya sambil mengibas kibaskan gaunnya yang tidak terlalu panjang.
"Zia!" tiba-tiba suara Arana ada di sana. Sontak saja membuat Zia terkejut.
"Ibu! Ibu ini kalau mau masuk ketuk pintu dulu, aku jadi kaget."
"Maaf, kalau ibu ketuk pintu, ibu tidak akan melihat kamu dengan tarian kamu itu." Arana malah terkekeh. "Kamu cantik sekali memakai baju itu. Kamu tidak sabar menunggu besok malam acara pesta kelulusan kamu?"
"Iya, aku ingin acara itu secepatnya di laksanakan."
"Oh ya, setelah lulus kamu mau melanjutkan S2 di luar negeri?"
"Aku belum memikirkannya, Bu. Aku sebenarnya ingin menikah seperti Binna, dan nanti aku bisa melanjutkan kuliah dengan pasanganku jika dia ingin kuliah juga, pasti menyenangkan."
"Menikah?" Arana menatap Zia dengan tatapan curiga, tapi manis. "Apa Dion sudah melamar kamu tanpa sepengetahuan Ibu?"
Arana tersenyum menggoda putrinya.
__ADS_1
"Dia--." Zia terdiam sejenak. "Dia hanya pernah bilang jika dia mencintaiku, dan berniat melamarku jika aku sudah lulus, tapi Ibu jangan bilang ayah dulu."