Benci Awal Dari Cinta

Benci Awal Dari Cinta
Mencari Lukas


__ADS_3

Juna masih memandang tidak percaya kepada seseorang yang dia temui saat ini. "Juna, apa kita bisa berbicara sebentar?


Si pemilik mata indah itu memicing ke arah Fabio. " Bicara apa?"


"Juna, aku berharap kita melupakan semua tentang masa lalu yang pernah kita alami, dan sekarang aku beraharap kita benar-benar bisa menjadi teman. Percayala, aku benar-benar ingin menjadi teman kamu dan sekaligus rekan bisnis kamu, selain itu aku tidak punya tujuan apa-apa."


"Rekan bisnis? maksud kamu?"


"Aku tau kamu bekerja sama dengan tuan Andreas untuk proyek Permata Dunia, sebuah proyek besar melibatkan beberapa perusahaan besar, dan salah satunya adalah perusahaan milikku, aku mohon kita bisa bekerja sama dengan baik, aku sudah menanamkan saham yang tidak sedikit di sana, jadi sebelum kamu tau dari orang lain jika aku juga ikut di sana, lebih baik kamu tau dari aku sendiri."


"Oh! apa kamu takut jika aku bilang kepada tuan Andreas, aku tidak mau bekerja sama pada proyek itu jika ada kamu? dan itu berpengaruh besar pada perusahaan kamu?" Aura dingin Juna di perlihatkan.


"Iya, Juna. Perusahaan aku mengalami kemerosotan sejak di tinggal oleh ayahku, dan aku putra satu-satunya yang sekarang memegang perusahaan itu. Dan proyek inilah yang bisa membawaku menuju kemajuan lagi untuk perusahaan ayahku," ucap Fabio lirih.


Juna terdiam sejenak. "Baiklah! aku tidak akan membuat kamu dalam masalah dalam proyek ini, aku hanya melihat keinginan kamu untuk kembali membesarkan perusahaan ayah kamu, bukan karena siapa kamu."


"Terima kasih, Juna." Tertarik senyum di sudut bibir Fabio. "Kalau begitu, aku tunggu kedatangan kamu pada acara pertemuan besok lusa." Tangan Fabio mengulur mengajak Juna berjabat tangan.


Juna hanya melihat tangan Fabio dan tidak lama dia menarik tangannya yang dia masukkan ke dalam kantong celananya, menerima jabatan tangan Fabio.


Hari ini pun berlalu dengan baik, Juna belum menceritakan tentang dia yang bertemu Fabio dia kantornya, karena hari ini Juna sangat sibuk sampai dia lembur di kantornya. Juna sengaja tidak mencari asisten pribadi karena dia tidak mau ada orang yang menggantikan posisi Tommy, cukup Wanda saja yang membantunya, Wanda sekarang pun menjadi orang kepercayaan Juna.


Keesokan harinya, Binna yang berangkat ke sekolah di antar oleh ayahnya. "Bu, karena pak supir lagi masih pulang kampung, aku nanti pulangnya naik mobil online atau bareng sama Lila saja."

__ADS_1


"Ya sudah kamu nanti hati-hati, eh tapi bukannya kamu hari ini ada latihan menari? apa Lila akan menunggu kamu sampai selesai latihan menari?"


Sabinna terdiam, memang hari ini dia ada latihan menari, tapi kakinya kan memang belum dibolehkan untuk melakukakn aktivitas berat dulu, setidaknya selama seminggu.


"Aku mungkin tidak latihan dulu, Bu. Aku mau sampai kakiku benar-benar sembuh nantinya."


"Ya sudah, hati-hati saja kalau nanti kamu pulang. Kamu nanti masih ada ujian, Kan?" Binna mengangguk beberapa kali.


Hari ini di sekolah, selesai mengerjakan ujiannya, Sabinna yang sedang duduk melamun di kantin pada jam istirahatnya, dia dikagetkan oleh Lila. "Binna, kamu kenapa di kantin tidak menunggu aku, Sih?" Lila terlihat kesal sambil duduk di sebelah Sabinna.


"Nunggu kamu selesai bertelepon ria sama cowok kam? bisa-bisa aku dehidrasi kehausan." Binna memutar bola matanya jengah.


"Aku kan barusan jadian sama cowok aku, Binna, jadi wajar aku lagi sayang-sayangnya sama dia." Lila terkekeh. Namun, Binna malah tidak menunjukkan expresi apa-apa.


"Apa sih, Lil? Gak ada apa-apa! tidak ada yang istimewah dari diri cowok kutub utara itu." Binna mengerucutkan bibirnya lucu. "Aku malah sekarang memikirkan tentang Lukas, kenapa dia tidak masuk sekolah lagi hari ini? apa dia sedang terkena masalah," ucap Binna sedih.


"Ya ampun! kenapa kamu malah mikirin yang tidak ada, Sih? Lukas itu mungkin memang tidak suka sama kamu, makannya dia tiba-tiba menghilang. Kalau dia suka, pasti menghubungi kamu, walaupun dia mendapat masalah, kan bisa sebentar telepon atau mengirim pesan."


Binna melihat ke arah Lila. Lila, aku nanti mau mencari Lukas ke rumahnya, aku akan bertanya pada bagian Tata Usaha meminta alamat Lukas," ucap Binna semangat.


"Kamu tidak salah? kenapa kamu sampai mencari ke alamar rumahnya, tunggu saja sampai dia masuk sekolah, kenapa susah-susah mencari ke rumahnya, Binna?"


"Aku tidak bisa menunggu, aku mau tau dia kenapa? nanti aku akan bilang sama ibuku kalau aku main ke rumah kamu, jadi kamu nanti kalau di hubungi oleh ibuku, aku mohon kamu bilang, Ya, kalau aku main ke rumah kamu?"

__ADS_1


"Lah! kok aku jadi diikut-ikutkan dalam kebohongan kamu?"


"Ayolah, Lil bantu aku? apa kamu mau ikut aku mencari Lukas?"


"Aku tidak bisa, aku kan nanti pulang sekolah mau di jemput oleh kekasihku, dan kita mau jalan-jalan."


"Ya sudah kalau begitu, aku cari sendiri saja." Binna menghabiskan minumannya.


"Tapi kamu tidak apa-apa mencari alamatnya sendiri, Binna?" tanya Lila khawatir.


"Tidak apa-apa, aku bisa menjaga diriku sendiri. Ya sudah aku mau ke bagian tata usaha untuk minta alamat ruma Lukas." Binna beranjak dari tempatnya dan pergi ke ruangan tata usaha.


Lila yang duduk di tempatnya sedang memikirkan sesuatu. "Ini Sabinna kenapa khawatir sekali sama Lukas? padahal tante Arana ingin sekali Binna bisa menikah dengan Devon, lagian Lukas itu gak jelas, dia seperti cowok yang menyimpan banyak rahasia." Lila menghabiskan minumannya dan beranjak dari kurisnya menyusul Binna.


Setelah bel masuk berbunyi, Binna dan yang lainnya kembali mengerjakan ulangan dan setelah selesai, Binna langsung keluar mencari mobil online pergi ke tempat di mana alamat rumah Lukas berada. Lila yang masih di sekolah, dia masih menunggu kekasihnya datang menjemput. Lila sebenarnya kepikiran sama Sabinna, tapi dia tidak mungkin bercerita sama ibunya Sabinna.


Mobil online yang Sabinna naiki berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, rumah itu memiliki taman kecil di depannya dan ada pagar kayu berwarna coklat muda. Binna membuka pagar kayu itu dan masuk ke dalam mengetuk pintu rumah itu.


Tok ... tok ... tok


Sampai pada ketukan ketiga, pintu itu tidak terbuka, bahkan Sabinna tidak mendengar ada gerakan atau suara di dalam rumah milik Lukas. "Sepertinya rumah ini sepi." Binna mengedarkan pandangannya melihat sekitar rumah yang jalanannya pun sepi. Kebetulan rumah Lukas ini berjarak beberapa meter dari beberapa rumah lainnya. Binna mencoba mencari orang yang bisa di tanya di sana.


"Tidak ada orang lewat di sini," ucapnya sendiri.

__ADS_1


Binna ini ngapain sih? Haduh ...! benar apa kata Lila mending yang ada aja, si Devon 😁


__ADS_2